Harga minyak sawit mentah (CPO) melanjutkan penguatan pada Senin (10/8/2026), mengikuti kenaikan harga minyak nabati pesaing di bursa Dalian dan Chicago.
IDXChannel - Harga minyak sawit mentah (CPO) melanjutkan penguatan pada Senin (10/8/2026), mengikuti kenaikan harga minyak nabati pesaing di bursa Dalian dan Chicago.
Pelaku pasar kini menanti laporan bulanan Malaysian Palm Oil Board (MPOB) untuk mendapatkan petunjuk mengenai kondisi stok dan tren produksi sawit Malaysia.
Kontrak CPO acuan untuk pengiriman Oktober di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik 1,00 persen menjadi 4.724 ringgit Malaysia per metrik ton hingga pukul 15.34 WIB.
"Pergerakan kontrak berjangka hari ini untuk sementara akan mengikuti kinerja eksternal, sembari menunggu rilis data MPOB serta data ekspor 10 hari pertama yang dirilis kemudian," ujar seorang trader yang berbasis di Kuala Lumpur, dikutip Reuters.
Data MPOB yang dirilis pada jeda perdagangan Senin menunjukkan stok minyak sawit Malaysia pada Juli meningkat 3,32 persen dibandingkan bulan sebelumnya menjadi 2,63 juta metrik ton.
Sementara itu, sejumlah lembaga survei kargo dijadwalkan merilis estimasi ekspor minyak sawit Malaysia untuk periode 1-10 Agustus pada hari yang sama.
Penguatan harga CPO juga sejalan dengan kenaikan minyak nabati pesaing. Kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian naik 0,4 persen.
Sementara kontrak minyak sawit Dalian menguat 0,81 persen. Harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade juga naik 0,77 persen.
Pergerakan harga CPO kerap mengikuti minyak nabati pesaing karena komoditas-komoditas tersebut bersaing untuk memperoleh pangsa pasar minyak nabati global.
Di sisi lain, harga minyak mentah turut menguat pada Senin di tengah ketidakpastian mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz.
Iran menyatakan Amerika Serikat (AS) harus memenuhi sejumlah persyaratan, sementara Teheran dan Oman memasuki tahap akhir pembahasan mengenai jalur pelayaran baru.
Kenaikan harga minyak mentah membuat CPO semakin menarik sebagai bahan baku biodiesel karena meningkatkan daya saingnya dibandingkan bahan bakar fosil.
Namun, penguatan ringgit berpotensi membatasi kenaikan harga CPO.
Mata uang Malaysia tersebut menguat 0,02 persen terhadap dolar AS, sehingga harga CPO menjadi sedikit lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain. (Aldo Fernando)





