Brussels: Eropa Barat mengalami periode bulan Juni dan Juli terpanas sepanjang sejarah, menurut laporan yang dirilis Copernicus Climate Change Service pada Senin, 10 Agustus 2026.
Dalam laporannya, Copernicus menyebut kawasan tersebut mengalami gelombang panas ketiga dan keempat sejak Mei, menjadikan musim panas tahun ini sebagai salah satu yang paling ekstrem.
"Eropa Barat mengalami periode Juni-Juli terpanas dalam sejarah pencatatan, sementara Juli menjadi bulan dengan gelombang panas ketiga dan keempat sejak Mei, menandai rangkaian panas ekstrem yang luar biasa pada musim panas ini," sebut isi laporan tersebut, yang dikutip kantor berita Anadolu.
Copernicus juga mencatat kondisi kering yang meluas di sebagian besar wilayah Eropa Barat sejak Mei dan Juni terus berlanjut serta semakin parah. Prancis, Spanyol, sebagian Jerman, dan Inggris mengalami curah hujan rendah serta kelembapan tanah yang jauh di bawah normal.
Selain itu, debit sejumlah sungai utama seperti Seine, Rhein, dan Danube juga tercatat berada di bawah rata-rata.
Pimpinan Strategi Iklim di European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF), Samantha Burgess, mengatakan Juli 2026 menjadi bulan ketiga berturut-turut dengan suhu luar biasa tinggi di Eropa Barat.
"Juli 2026 merupakan bulan ketiga berturut-turut dengan panas ekstrem di Eropa Barat, sehingga suhu gabungan Juni dan Juli mencetak rekor baru untuk kawasan ini," ujarnya.
Menurut Burgess, kekeringan semakin diperparah oleh suhu ekstrem akibat sistem tekanan tinggi yang bertahan lama dan memerangkap panas di kawasan tersebut. Ketika tanah mengering, kemampuannya memberikan efek pendinginan alami juga berkurang sehingga panas lebih mudah terakumulasi.
"Ini merupakan contoh nyata bagaimana perubahan iklim memperparah cuaca panas ekstrem, dengan panas dan kekeringan yang semakin saling memperkuat," katanya.
Copernicus juga menyebut kondisi panas dan kering berkepanjangan berkontribusi terhadap meluasnya kebakaran hutan ekstrem di Eropa Barat selama Juli.
Selain itu, laporan tersebut mencatat suhu permukaan laut tertinggi yang pernah tercatat untuk bulan Juli di kawasan samudra di luar wilayah kutub, yang sebagian dipengaruhi oleh berkembangnya fenomena El Nino di Samudra Pasifik ekuator.
Baca juga: Kebakaran Hutan akibat Gelombang Panas Meluas di Belanda, 100 Hektare Lahan Hangus




