Operasional fasilitas pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif lewat fasilitas refused derived fuel (RDF) di Rorotan, Jakarta Utara, masih jauh dari optimal. Salah satu masalahnya adalah pasokan yang tidak lancar karena belum adanya jalan khusus untuk lalu-lalang truk pengangkut sampah ke fasilitas ini.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan, sedang berupaya mengatasi masalah ini. “Kami segera untuk membangun jalan khusus untuk sarana transportasi. Menggunakan truk compactor menuju TPS 3R (tempat pengolahan sampah reduce-reuse-recycle) ke tempat ini,” kata dia dalam Konferensi Pers di Jakarta, Utara, Senin (10/8).
Dari total kapasitas pengolahan 2.400 ton per hari, fasilitas ini baru bisa mengolah rata-rata 400-500 ton sampah per hari, dengan pengolahan terbesar 800 ton sehari.
Pramono telah memerintahkan Dinas Bina Marga DKI Jakarta agar melakukan pembebasan lahan untuk jalan khusus tersebut. Dia juga telah menginstruksikan agar seluruh truk sampah yang beroperasi adalah truk compactor yang tidak menghasilkan air lindi, sehingga tak menyebarkan bau.
“Kalau memang bisa, katakan-lah, sampah di sini setiap harinya bisa 2.000 ton, maka tiga line (alat pengolah) itu akan kami operasikan secara bersama-sama,” ujar Pramono. Sementara, saat ini, baru satu line yang beroperasi untuk mengolah sampah.
RDF Rorotan merupakan fasilitas pengolahan yang mengubah sampah padat perkotaan menjadi bahan bakar alternatif, terutama untuk substitusi batu bara pada fasilitas industri. Sejak beroperasi pada Desember 2025, RDF Rorotan telah mengolah sampah dari 16 kelurahan di Jakarta Utara dan Jakarta Timur.
Dari total pasokan sampah 400-500 ton atau maksimal 800 ton per hari, hanya sekitar 30-40 persennya yang bisa diproses menjadi sampah padat untuk bahan bakar alternatif. Hasil olahan tersebut dikirim ke perusahaan semen PT Indocement Tunggal Prakarsa (Tbk) sebagai penyerap atau offtaker tunggal, setidaknya untuk saat ini.
“Jadi bahan RDF ini dipakai oleh PT Indocement sebagai bahan bakar alternatif pengganti batu bara,” ujar Eko Budi W., Tenaga Ahli Sosial dan Humas RDF Plant Jakarta.
Tak semua jenis sampah padat perkotaan dapat diolah menjadi bahan bakar alternatif. “Sampah yang memang combustible material, yang bisa dibakar,” ucapnya.
Sebab itu, sebelum diolah, sampah akan dipilah untuk menyingkirkan material-material yang tidak mudah terbakar, seperti logam, kaca, juga tanah dan sampah organik. Sampah terpilih kemudian dicacah, dikeringkan, hingga siap dikemas menjadi bahan bakar alternatif.




