Sebagian besar orang tua anak neurodivergent di Indonesia ternyata telah menyadari adanya perbedaan pada tumbuh kembang anak bahkan sebelum diagnosis profesional dilakukan. Hal ini terungkap dalam survei “Suara Orang Tua” yang dirilis oleh Atelier of Minds (AOM).
Berdasarkan survei yang melibatkan 173 orang tua anak neurodivergent—termasuk dengan kondisi autisme, ADHD, disleksia, hingga giftedness—sebanyak 76% responden mengaku menjadi pihak pertama yang mengenali perubahan pada anak mereka.
Temuan ini menunjukkan bahwa tantangan utama yang dihadapi orang tua bukan terletak pada kurangnya kesadaran, melainkan pada langkah selanjutnya setelah menyadari adanya perbedaan tersebut. Banyak orang tua harus mengambil keputusan di tengah banjir informasi dari berbagai sumber yang belum tentu akurat dan relevan dengan kebutuhan anak.
Menurut Lead Psychologist Atelier of Minds, Erna Yulianti, momen saat orang tua menyadari adanya perbedaan pada anak merupakan fase yang penting sekaligus rentan. Dalam fase ini, orang tua kerap mencari jawaban dari berbagai sumber, mulai dari mesin pencari, media sosial, hingga komunitas. Namun tanpa pendampingan profesional, informasi yang berlimpah justru berpotensi menimbulkan kebingungan dan menunda intervensi yang dibutuhkan anak.
Selain itu, survei juga mengungkap beban emosional yang dialami orang tua. Sebanyak 76% responden mengaku pernah merasa kondisi anak merupakan kesalahan atau kegagalan sebagai orang tua. Di sisi lain, kekhawatiran terhadap masa depan anak menjadi emosi yang paling banyak dirasakan, disusul kelelahan atau parental burnout sebesar 61%.
Dalam aspek pendidikan, tantangan juga masih dirasakan. Sekitar 33% orang tua menilai guru belum sepenuhnya memahami kebutuhan anak mereka, sementara 24% menyatakan anak belum mendapatkan akomodasi belajar yang sesuai, bahkan di sekolah dengan program inklusi.
Kekhawatiran orang tua pun tidak hanya berhenti pada kebutuhan saat ini. Sebanyak 78% responden mengaku cemas terhadap kemampuan anak untuk hidup mandiri di masa depan. Selain itu, 65% khawatir terkait peluang karier anak, dan 64% mempertanyakan siapa yang akan mendampingi anak mereka di kemudian hari.
Dari sisi akses layanan, biaya menjadi hambatan utama. Sebanyak 71% responden menyebut biaya sebagai kendala terbesar dalam mendapatkan terapi secara berkelanjutan. Kondisi ini tidak hanya terjadi di wilayah perkotaan, tetapi juga dirasakan oleh keluarga di berbagai daerah di Indonesia.
Meski sebagian orang tua telah bergabung dalam komunitas, ruang dukungan dinilai belum optimal. Sebanyak 51% responden tergabung dalam komunitas orang tua anak neurodivergent, namun menilai aktivitasnya belum berjalan aktif. Sementara itu, 22% responden lainnya mengaku ingin bergabung tetapi belum mengetahui aksesnya.
Founder Komunitas Berspektrum, Nadira Saraswati, menilai banyak orang tua masih merasa sendirian dalam menghadapi kondisi anak mereka. Ia menekankan pentingnya kehadiran ruang yang tidak hanya menjadi wadah berkumpul, tetapi juga mampu memberikan rasa dipahami tanpa harus terus menjelaskan kondisi yang dihadapi.
Atelier of Minds melihat bahwa tantangan terbesar tidak berhenti pada proses diagnosis atau terapi, tetapi pada bagaimana keterampilan yang dipelajari anak dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, pendekatan yang dilakukan tidak hanya berfokus pada perkembangan anak, tetapi juga membekali orang tua dan keluarga dalam mendampingi proses tersebut.
Melalui hasil survei ini, Atelier of Minds berharap dapat mendorong percakapan yang lebih luas mengenai pentingnya sistem dukungan yang inklusif, berbasis bukti, serta berpusat pada kebutuhan anak neurodivergent dan keluarganya di Indonesia.





