Dolar AS Menguat 0,3%, Pasar Beralih ke Aset Safe Haven

metrotvnews.com
10 jam lalu
Cover Berita

New York: Dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada perdagangan Senin, 10 Agustus 2026, setelah melemah selama dua pekan. Penguatan didorong permintaan terhadap aset aman (safe haven) di tengah kenaikan harga minyak.

Pelaku pasar mata uang juga mencermati perubahan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) setelah laporan ketenagakerjaan Juli yang lebih lemah dari perkiraan. Investor kini menantikan sejumlah data inflasi penting untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai arah suku bunga.

Mengutip Investing, Selasa, 11 Agustus 2026, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan greenback terhadap enam mata uang utama naik 0,3 persen menjadi 99,82. Indeks tersebut sebelumnya telah turun hampir 2 persen dalam dua pekan terakhir. Data inflasi menjadi sorotan utama Dolar AS turun 0,4 persen pada Jumat setelah data menunjukkan penurunan bulanan pertama lapangan kerja nonpertanian AS sejak Februari. Penurunan tersebut terutama disebabkan berkurangnya lapangan kerja di sektor pendidikan pemerintah daerah.

Selain itu, data payroll untuk Mei dan Juni direvisi turun secara kumulatif sebesar 103 ribu pekerjaan.

Laporan ketenagakerjaan tersebut memperumit prospek kebijakan The Fed. Di satu sisi, meskipun terjadi penurunan lapangan kerja, kondisi pasar tenaga kerja secara keseluruhan masih relatif kuat. Di sisi lain, risiko inflasi meningkat di tengah volatilitas harga minyak akibat konflik yang melibatkan Iran.

Baca Juga :

Wall Street Ditutup Melemah, Saham Teknologi dan Real Estat Tertekan

(Ilustrasi. Foto: Dok MI)

Sejumlah pembuat kebijakan juga menunjukkan kecenderungan untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan kebijakan moneter The Fed pada Juli.

Pelaku pasar merespons data tersebut dengan menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September. Ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi cenderung mendukung nilai dolar AS.

Perhatian pasar kini tertuju pada sejumlah indikator inflasi utama yang akan dirilis pekan ini. Agenda ekonomi AS akan menyoroti data Indeks Harga Konsumen (CPI) dan Indeks Harga Produsen (PPI) Juli yang masing-masing dirilis pada Rabu dan Kamis.

Data tersebut kemudian disusul laporan penjualan ritel Juli pada Jumat. Yen kembali melemah setelah intervensi Beralih ke mata uang utama lainnya, yen Jepang melemah signifikan pada Senin. Pasangan USD/JPY naik 0,9 persen menjadi 159,26.

Yen kini telah kehilangan sebagian penguatannya terhadap dolar yang dicapai setelah intervensi pada Juli, ketika otoritas Amerika Serikat dan Jepang disebut melakukan pembelian yen bersama untuk pertama kalinya sejak 2011.

Sebelum intervensi tersebut, yen melemah ke level terendah dalam 40 tahun terhadap dolar, yakni 164. Pelemahan yen memberikan tekanan terhadap perekonomian Jepang yang bergantung pada impor.

Untuk menopang nilai tukar yen, otoritas Jepang biasanya menjual obligasi pemerintah AS (Treasury bonds) yang menjadi salah satu aset cadangan Jepang untuk memperoleh dana guna membeli mata uang domestik.

Sementara itu, euro melemah 0,1 persen menjadi USD1,1541. Pound sterling menguat 0,1 persen menjadi USD1,3507.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Lebih Dekat dengan Garuda Pertiwi, Asuhan Coach Timo di Srikandi Merdeka Cup
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Angela Tanoesoedibjo di APMF 2026: Di Era Algoritma, Merek Harus Jadi Worth Searching For
• 1 jam laluidxchannel.com
thumb
‎Erick Thohir Tegaskan Sepak Bola Putri Tak Pernah Dianaktirikan, IWL Kembali Bergulir Usai Vakum 7 Tahun
• 1 jam lalutvonenews.com
thumb
Persib Tanggung Jawab FIFA Registration Ban yang Seret Robert Rene Alberts, Maung Bandung Selesaikan Bursa Transfer Pemain Lebih Cepat?
• 17 jam lalutvonenews.com
thumb
Istana Gelar Gladi Parsial Upacara Peringatan HUT ke-81 RI
• 6 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.