Plaza Indonesia kembali menghadirkan kampanye I Love Indonesia 2026 untuk menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia. Kampanye tahunan ini menjadi bentuk komitmen Plaza Indonesia dalam merayakan dan memperkenalkan kekayaan budaya lokal.
“Suatu kebanggaan bagi Plaza Indonesia untuk kembali menghadirkan I Love Indonesia 2026, sebuah selebrasi tahunan yang menjadi wujud komitmen kami dalam merayakan kekayaan budaya Indonesia,” ujar Zamri Mamat, Chief Marketing Officer Plaza Indonesia, saat konferensi pers I Love Indonesia 2026 di Plaza Indonesia, Rabu (5/8).
Tahun ini, Plaza Indonesia mengajak pelaku industri kreatif, desainer, komunitas budaya, musisi, serta brand dan UMKM lokal untuk turut memeriahkan kampanye I Love Indonesia 2026. Zamri mengatakan bahwa Kolaborasi ini bertujuan untuk mempertemukan budaya, kreativitas, dan inovasi—agar warisan Indonesia tetap hidup.
Dari kolaborasi tersebut, lahir empat inisiatif utama yang akan mengisi agenda I Love Indonesia dalam satu bulan ke depan. Apa saja itu? Mari simak artikel ini sampai habis, Ladies!
PI Neighborhood Icons MarketPertama, Plaza Indonesia akan menggelar bazar UMKM bertajuk PI Neighborhood Icons Market yang berlangsung pada 10–23 Agustus 2026 di Warehouse Plaza Indonesia.
Sejumlah brand lokal yang akan mengisi PI Neighborhood Icons Market antara lain Carpenter’s Bakehouse, Esteboo, Excelso, Marc & Mich Bakery, Oschusan, The Pandan Club, Roti Macan, Smooth, Suasana Kopi, Teazzi, The Matcha Tokyo, hingga The Paper Hotel.
Reinventing Tenun: Journey to Algorithm, serial dokumenter perjalanan Wilsen Willim mengeksplorasi tenun NusantaraPlaza Indonesia juga akan menayangkan serial dokumenter enam episode yang mengikuti perjalanan desainer Wilsen Willim dalam mengeksplorasi tenun Nusantara untuk koleksi Algorithm: Universal Language, yang diperkenalkan di Mulia in Fashion pada Juli lalu.
“Dokumenter ini menjadi medium aku bercerita soal apa yang sebenarnya aku lakukan. Kita menunjukkan semua proses (membuat kain tenun),” ujar Wilsen Willim.
Dalam koleksi tersebut, Wilsen Willim menggunakan empat jenis tenun, yakni Halaban, Jembrana, Bandung, dan Putussibau. Bertajuk “Reinventing Tenun: Journey to Algorithm”, serial dokumenter ini akan ditayangkan perdana pada 21 Agustus 2026 di XXI Plaza Indonesia.
“Melalui dokumenter ini, saya ingin mengajak lebih banyak orang melihat bahwa kain tradisional bukan hanya warisan budaya, tetapi juga sumber inspirasi yang terus hidup dan dapat diterjemahkan dalam karya-karya kontemporer,” tambah Wilsen Willim.
Pertunjukan musik Snada Indonesia 2026Bersama media Oppal, Plaza Indonesia kembali menggelar pertunjukan musik Snada Indonesia 2026 pada Sabtu, 10 Oktober 2026, di Istora Senayan, Jakarta. Acara ini menjadi wadah untuk merayakan kekayaan budaya Indonesia melalui harmoni musik dan kolaborasi lintas generasi.
Menariknya, Snada Indonesia 2026 juga akan dimeriahkan oleh Rumah Orkestra Jogja, komunitas orkestra anak muda Indonesia yang menghadirkan interpretasi segar, elegan, dan penuh energi terhadap karya-karya Nusantara.
“Bersama Plaza Indonesia, kami menghadirkan sebuah pertunjukan yang memadukan talenta, kolaborasi, dan semangat untuk terus menghidupkan karya-karya Nusantara dalam format yang relevan bagi masyarakat saat ini,” ujar Bernard Permadi, CEO & Founder Oppal.
Instalasi The Sacred Horse of SumbaTerakhir, ada instalasi tenun Sumba yang hadir di Fashion Corridor Level 1 Plaza Indonesia. Bertajuk The Sacred Horse of Sumba, instalasi ini merupakan hasil kolaborasi Luxina, jenama fesyen Cita Tenun Indonesia, studio kreatif NUSAE, dan klinik kecantikan The Riserva.
Di lorong instalasi bernuansa merah dan biru, pengunjung akan mempelajari warisan tenun Sumba sekaligus memahami filosofi motif kuda.
Menariknya, motif kuda ini ternyata sudah menjadi identitas budaya Sumba jauh sebelum banyak digunakan sebagai inspirasi oleh berbagai brand mewah dunia. Makanya instalasi ini memperkenalkan kembali budaya Indonesia yang ternyata berlimpah dan mewah.
Bianca Adinegoro, selaku Hubungan Masyarakat Cita Tenun Indonesia, mengatakan kolaborasi ini menghadirkan pendekatan yang berbeda karena instalasi tidak hanya memamerkan kain, tetapi juga mengangkat sejarah di baliknya.
“Kolaborasi seperti ini menurut saya sangat menarik karena cukup berbeda dalam memamerkan tenun. Bukan sekadar memamerkan, tetapi juga menceritakan sejarah kenapa kuda ini menjadi simbol yang penting bagi masyarakat Sumba,” jelas Bianca.
Instalasi The Sacred Horse of Sumba dapat dikunjungi hingga 31 Agustus 2026 secara gratis.





