Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, telah berdampak pada area sekitar 742,70 hektare
IDXChannel - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, telah berdampak pada area sekitar 742,70 hektare hingga Senin (10/8/2026).
Kepala BNPB Suharyanto mengatakan, penanganan karhutla di kawasan TNBTS terus dilakukan secara terpadu melalui operasi darat dan udara. Data luasan terdampak masih berkembang dan tengah dalam proses pendataan ulang.
Karhutla di kawasan TNBTS mulai terjadi pada Senin (3/8/2026). Dari 34 titik kebakaran yang sebelumnya terpantau, tim gabungan terus melakukan pemadaman dan pemantauan di sejumlah lokasi.
Perkembangan terakhir menunjukkan tidak terpantau titik api di wilayah P30 dan Dingklik. Sementara itu, tim gabungan masih melanjutkan penanganan darat di wilayah Ranupani.
Dukungan operasi udara juga terus dilakukan untuk membantu proses pemadaman. Pada Senin (10/8), operasi water bombing telah dilaksanakan sebanyak sembilan rit dengan total 24.000 liter air yang dijatuhkan ke kawasan terdampak.
Kepala BNPB menegaskan, pemadaman tidak hanya ditujukan untuk menghilangkan api yang terlihat, tetapi juga memastikan tidak ada bara yang berpotensi memicu kebakaran kembali.
"Kita tidak hanya mengejar api padam, tetapi juga memastikan api benar-benar padam dan tidak muncul kembali. Setelah pemadaman, pemantauan akan terus dilakukan untuk memastikan kondisi aman sebelum kawasan kembali dibuka," ujar Suharyanto dalam keterangan tertulisnya, dikutip Selasa (11/8/2026).
Menurutnya, operasi darat tetap menjadi bagian penting dalam penanganan kebakaran, termasuk setelah pelaksanaan water bombing. Tim di lapangan perlu melakukan penyisiran dan pendinginan untuk memastikan api benar-benar tidak kembali menyala.
"Kita tidak hanya mengejar api padam, tetapi juga memastikan api benar-benar padam dan tidak muncul kembali," tuturnya.
Kawasan TNBTS saat ini masih ditutup sementara sebagai langkah pencegahan hingga kondisi benar-benar dinyatakan aman. Penutupan dilakukan untuk melindungi pengunjung sekaligus memberikan ruang bagi tim gabungan untuk melakukan pemadaman dan pemantauan.
Pemerintah juga terus mengantisipasi potensi munculnya kembali titik api di kawasan tersebut. Pemantauan akan dilakukan setelah proses pemadaman untuk memastikan kondisi kawasan aman sebelum dibuka kembali.
Karhutla TNBTS menjadi perhatian karena kawasan tersebut merupakan kawasan konservasi sekaligus destinasi wisata alam yang memiliki nilai ekologis dan ekonomi. Karena itu, pengendalian api, pencegahan meluasnya area terbakar, serta perlindungan kawasan sekitar menjadi prioritas pemerintah.
BNPB bersama pemerintah daerah, TNI, Polri, pengelola kawasan, dan unsur terkait lainnya terus melakukan koordinasi dalam penanganan karhutla. Operasi darat dan udara akan disesuaikan dengan perkembangan kondisi di lapangan.
"Masyarakat juga diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi sumber api, khususnya di tengah kondisi cuaca kering yang dapat membuat api lebih cepat menyebar," katanya.
(kunthi fahmar sandy)





