Situasi antara Amerika Serikat dan Iran terus menegang. Iran menyatakan menolak melakukan perundingan langsung dengan Amerika Serikat. Teheran juga mengajukan sejumlah syarat jika Selat Hormuz ingin dibuka kembali, termasuk penarikan pasukan AS dari Timur Tengah dan pembayaran kompensasi dalam jumlah besar.
Menghadapi sikap Iran yang terus menentang Washington, Presiden AS Donald Trump pada Minggu mengatakan bahwa untuk sementara Amerika Serikat tidak mempertimbangkan serangan militer, melainkan akan meningkatkan tekanan melalui blokade laut dan sanksi ekonomi. Trump menggambarkan situasi ini seperti “permainan catur” dan memilih mengamati bagaimana Iran menghadapi krisis ekonomi berupa inflasi tinggi serta kekurangan dana.
EtIndonesia.com Pada Minggu (9/8/2026), kelompok militan Houthi yang didukung Iran melancarkan serangan terhadap Pelabuhan Mokha yang berada di bawah kendali pemerintah Yaman. Serangan tersebut menewaskan sedikitnya tujuh orang dan melukai 15 warga sipil lainnya.
Pelabuhan Mokha merupakan salah satu pelabuhan utama yang dikuasai pemerintah Yaman yang diakui secara internasional. Dalam beberapa tahun terakhir, pelabuhan tersebut telah diperbaiki dan terutama digunakan untuk menangani pelayaran yang menghindari Pelabuhan Hodeidah, yang berada di bawah kendali kelompok Houthi.
Tidak hanya itu, serangan Houthi juga meluas hingga Arab Saudi.
Pada hari yang sama, kelompok tersebut mengklaim telah melancarkan serangan drone terhadap fasilitas minyak Saudi Aramco di Jizan, Arab Saudi. Houthi mengatakan serangan tersebut merupakan aksi balasan atas dugaan pelanggaran wilayah udara Provinsi Hajjah dan Saada di Yaman oleh drone Arab Saudi.
Kementerian Energi Arab Saudi mengonfirmasi bahwa kebakaran terjadi di sebuah fasilitas Saudi Aramco setempat. Namun, api telah berhasil dipadamkan dan tidak ada korban jiwa.
Di tengah serangkaian serangan yang dilakukan Houthi, Iran sebagai pendukung utama kelompok tersebut juga sedang menggunakan jalur pelayaran penting lainnya untuk memberikan tekanan kepada Amerika Serikat.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Minggu mengatakan bahwa selama Amerika Serikat terus melanggar kesepakatan sementara yang dicapai pada Juni, Iran tidak akan melakukan perundingan langsung dengan AS.
Namun demikian, kedua pihak saat ini masih bertukar informasi melalui perantara.
Pada Sabtu, Iran mengajukan tuntutan paling tinggi sejauh ini. Di antaranya adalah meminta Amerika Serikat secara permanen menghentikan ancaman militer terhadap Iran, menarik pasukannya dari Timur Tengah, serta menghentikan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Iran juga menuntut agar AS mencabut sanksi, mencairkan aset Iran yang dibekukan di luar negeri, serta membayar kompensasi perang dalam jumlah besar.
Para analis mengatakan bahwa Iran telah lama menggunakan Selat Hormuz sebagai alat tawar-menawar dalam negosiasi. Melalui ancaman serangan menggunakan rudal, drone, dan senjata lainnya terhadap kapal, Iran dapat mengganggu lalu lintas pelayaran komersial.
Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan bahwa kedua pihak sedang berada dalam “masa transisi yang sangat penting” untuk menyelesaikan konflik. Jika Iran tidak bersedia melakukan perubahan, Amerika Serikat akan terus meningkatkan tekanan.
Presiden Donald Trump mengatakan kepada Axios pada Minggu bahwa meskipun Teheran terus menentang Washington, dirinya siap meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran, bukan memerintahkan serangan militer baru.
Trump mengatakan Amerika Serikat saat ini bertindak secara hati-hati dan tidak terlalu terbuka, dengan tujuan mengamati bagaimana Iran menghadapi inflasi yang parah dan kekurangan dana.
Ia menegaskan bahwa kondisi ekonomi Iran sangat buruk. Iran bahkan kekurangan dana untuk membayar gaji tentaranya, sementara blokade laut yang dilakukan Amerika Serikat semakin memperburuk krisis ekonomi Teheran.
Ketika berbicara mengenai upaya menghadapi Iran, Trump mengatakan bahwa situasinya seperti bermain catur dan semuanya pada akhirnya akan menjadi lebih baik.
Laporan gabungan: Yixin, New Tang Dynasty Television





