Blitar (beritajatim.com) – Pemerintah Kota (Pemkot) Blitar di bawah kepemimpinan Wali Kota Syauqul Muhibbin merancang langkah strategis untuk mengakselerasi peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) sekaligus memutus rantai kemiskinan antar generasi.
Pemkot Blitar berencana memberikan jaminan pembiayaan pendidikan tinggi atau S-1 hingga lulus bagi pelajar dari keluarga kurang mampu yang masuk dalam kategori desil 1 hingga desil 4 Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).
Tak hanya berfokus pada akses pembiayaan, intervensi Pemkot Blitar ini juga mengusung konsep pemberdayaan hulu ke hilir. Selain memberikan Beasiswa Pendidikan Tinggi dan optimalisasi Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah, Pemkot Blitar bakal menghubungkan (link and match) mahasiswa lokal dengan ekosistem Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta pelatihan kerja praktis.
Wali Kota Blitar yang akrab disapa Mas Ibin ini menegaskan, untuk memastikan program ini tepat sasaran dan berdampak nyata, Pemkot Blitar akan menerapkan strategi jemput bola. Pemerintah akan mengumpulkan para siswa kelas 12 (kelas 3 SMA/SMK/MA) yang masuk kategori desil 1–4 beserta para orang tua mereka secara langsung.
Langkah ini diambil untuk memberikan pengarahan (briefing), motivasi, serta pemahaman komprehensif terkait prosedur administrasi dan kesiapan mental masuk ke jenjang perguruan tinggi.
“Di tingkat pendidikan, prioritas kita adalah persiapan masuk perguruan tinggi, kursus, dan pelatihan. Ini mencakup masyarakat dari desil 1 sampai 4. Sebentar lagi, anak-anak kelas 3 beserta orang tuanya dari kelompok desil tersebut akan kami kumpulkan untuk kami berikan briefing,” ujar Mas Ibin pada Selasa (11/8/2026).
Wali Kota menekankan bahwa keterbatasan finansial tidak boleh lagi menjadi penghalang bagi anak-anak Kota Blitar untuk meraih gelar sarjana.
“Kami jelaskan kepada orang tua dan anak-anaknya agar fokus mempersiapkan diri masuk perguruan tinggi. Pemerintah menjamin biayanya sampai selesai, baik melalui KIP Kuliah maupun melalui Beasiswa Pemerintah Kota Blitar,” tegasnya.
Hal yang membedakan program beasiswa Kota Blitar dengan daerah lain terletak pada penguatan kapasitas kerja (soft skill). Pemkot Blitar menargetkan mahasiswa yang menempuh studi di perguruan tinggi lokal agar tidak hanya menjadi pembelajar akademis di ruang kelas, tetapi juga aktif terlibat dalam aktivitas ekonomi kreatif daerah.
Melalui kemitraan dengan sektor UMKM dan pusat pelatihan vokasi, mahasiswa penerima bantuan akan dibekali pengalaman wirausaha dan keterampilan praktis sejak dini.
“Bagi yang menempuh pendidikan lokal di sini, kami akan link-kan langsung dengan UMKM dan berbagai program pelatihan. Harapannya, sambil kuliah mereka bisa belajar berwirausaha dan bekerja. Jadi selain mengantongi gelar akademis, mereka punya soft skill dan kesiapan kerja saat lulus. Itu target utama kami,” pungkas Mas Ibin.
Kebijakan ini dipandang sebagai langkah progresif Pemkot Blitar dalam menanggulangi angka pengangguran terbuka dan menaikkan taraf hidup masyarakat kelas menengah ke bawah.
Dengan memberikan jaminan pendidikan tinggi yang dipadukan dengan pembekalan kewirausahaan, Pemkot Blitar optimis mampu mencetak generasi muda berdaya saing tinggi yang siap menggerakkan roda perekonomian daerah di masa depan. (owi/ian)




