REPUBLIKA.CO.ID, Bank sentral harus independen dalam menjalankan tugasnya menjaga stabilitas mata uang, sekaligus interdependensi dalam menjalankan tugasnya menjaga kepentingan nasional. Dua hal penting dalam interdependensi ini adalah koordinasi dengan otoritas fiskal, dan komunikasi dengan pemain besar valuta asing. Dua hal ini memberi kejelasan arah bank sentral yang disebut forward guidance.
Lemahnya koordinasi akan menimbulkan ketegangan kelembagaan, dan yang paling merisaukan, akan mengirimkan pesan yang membingungkan kepada pasar. Koordinasi otoritas fiskal dan bank sentral terdiri dari tiga aspek, yaitu koordinasi menjaga inflasi, koordinasi bauran kebijakan, koordinasi menjaga kinerja ekonomi.
Baca Juga
Destry Damayanti Diajukan Sebagai Calon Tunggal Gubernur BI, Kapan Fit and Proper Test di DPR?
Pelajar Perempuan 14 Tahun Tewas di Stasiun Jurangmangu, Polisi Selidiki Motifnya
MBG Picu Keracunan 707 Siswa-Guru di SMKN 6 Semarang Positif 3 Jenis Bakteri
Pertama koordinasi menjaga inflasi. Bianchi dan Melosi, peneliti NBER, dalam kajian mereka “The Dire Effects of the Lack of Monetary and Fiscal Coordination” menjelaskan membesarnya defisit fiskal akan menaikkan inflasi, memicu reaksi kontraksi moneter, utang meningkat, dan mendorong efek spiral inflasi lanjutan.
Otoritas fiskal yang frustasi ketika kebijakan procyclical nya dinihilkan oleh kebijakan countercyclical bank sentral, akan bereaksi menambah besar stimulus fiskal. Selanjutnya sentral bank akan menambah ketat kontraksi moneternya. Cirinya mudah dilihat yaitu utang pemerintah dan utang sentral bank sama-sama meningkat, pertumbuhan dan inflasi sama-sama tertahan.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Kedua koordinasi bauran kebijakan. Ada dua ekstrim kebijakan yaitu dominannya kebijakan fiskal, dan dominannya kebijakan moneter. Ketika kebijakan fiskal dominan, otoritas fiskal menjalankan defisit fiskal berkelanjutaan untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi. Sentral bank akan terpaksa menjaga tingkat bunga rendah (dovish) atau membeli surat berharga negara agar tidak default, selanjutnya hal ini akan memicu inflasi lebih tinggi.
Dominasi otoritas fiskal dibatasi oleh batas atas pinjaman pemerintah lintas waktu (inter temporal). Brunnermeier, Merkel, Sannikov, peneliti NBER, dalam kajian mereka “The Fiscal Theory of Price Level with a Buble” menjelaskan bahwa negara yang memiliki defisit anggaran tetap dapat memiliki mata uang yang stabil dan inflasi yang rendah, jika valuasi utang nya sama dengan kapasitas fiskal di masa mendatang.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.