Riuh antusias anak-anak terdengar dari ruang kelas TK-A Sekolah Alternatif Anak Jalanan (SAAJA) di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (11/8).
Beralaskan tikar dan meja kecil, anak-anak ini tampak semangat mengikuti pelajaran. Mereka belajar mengenal huruf, hingga kosakata dasar.
Di tempat sederhana itu, sekolah bukan hanya tentang membaca, menulis, atau berhitung. Bagi sebagian anak, SAAJA menjadi tempat untuk pertama kalinya mengenal ruang kelas, bertemu teman, berani berbicara, hingga perlahan membangun kepercayaan diri.
Lebih dari dua dekade sejak sekolah ini berdiri, SAAJA masih membuka pintunya bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera dan mereka yang rentan berada di jalanan.
SAAJA lahir dari kegelisahan melihat anak-anak yang kala itu banyak menghabiskan waktu di jalan dan tidak mendapatkan pendidikan. Pendiri SAAJA, Almarhum Farid Faqih, bersama para relawan, berupaya menghadirkan ruang belajar agar anak-anak tersebut tetap memiliki kesempatan mengenal pendidikan.
Kristina Iin Dwiyanti (47) atau Iin, guru sekaligus kepala sekolah SAAJA, telah berada di lingkungan sekolah tersebut sejak 1999. Ia menjadi salah satu saksi tumbuhnya kegiatan belajar mengajar di sekolah itu dari yang awalnya diikuti tiga hingga lima anak kini mencapai 40 anak.
Pendidikan utama yang diberikan di sekolah ini ditujukan untuk anak usia dini atau setingkat TK, sementara anak-anak yang telah memasuki jenjang SD hingga SMA mendapatkan bimbingan belajar.
"Jadi SAAJA hadir di tengah-tengah masyarakat untuk memberikan pendidikan, pendampingan pendidikan bagi anak-anak usia dini yang berasal dari keluarga prasejahtera ataupun anak-anak yang rentan untuk berada di jalanan," kata Iin saat ditemui kumparan di Sekolah Alternatif Anak Jalanan (SAAJA), Jakarta Selatan, Selasa (11/8).
Bagi SAAJA, pendidikan tidak berhenti pada kemampuan akademik. Anak-anak juga dibimbing untuk membangun karakter dan keberanian sejak usia dini.
Di dalam kelas, anak-anak TK A diperkenalkan dengan dasar-dasar seperti huruf dan angka. Sementara anak-anak TK B mulai disiapkan untuk membaca dan menulis sebelum melanjutkan pendidikan ke sekolah dasar.
Metode belajar pun dibuat menyesuaikan dunia anak. Buku cerita, permainan, hingga kegiatan bersama relawan digunakan agar anak-anak tidak mudah bosan.
Bagi Iin, hal terpenting adalah bagaimana anak-anak memiliki pondasi yang kuat untuk semangat belajar sejak awal.
"Yang penting mereka mau datang ke dengan keinginan yang kuat untuk belajar. Itu yang kita bangun, semangatnya mereka untuk tetap bisa belajar," ujarnya.
Dari Takut Sosialisasi hingga Berani CeritaPerubahan hasil pendidikan di sekolah ini, turut dirasakan oleh Ernawati (40), orang tua salah satu murid SAAJA.
Kondisi ekonomi keluarga menjadi salah satu alasan Ernawati memilih SAAJA sebagai tempat untuk putrinya mengenyam pendidikan. Ia mengetahui keberadaan sekolah tersebut dari seorang teman yang menyarankan agar anaknya belajar di sana tanpa biaya.
"Satu ekonomi ya, karena ekonomi terbawah rendah. Untuk biaya sekolah kan di luar sana mahal," kata Ernawati.
Sekitar setahun belajar di SAAJA, Ernawati melihat perubahan pada putrinya, Zoya Triniti yang berusia 5 tahun dan kini mengenyam pendidikan di jenjang TK-B. Zoya yang sebelumnya takut bertemu orang mulai berani berbaur dan bersosialisasi. Dari sisi akademik, anaknya yang sebelumnya belum mengenal huruf dan angka kini mulai mengenal keduanya dan belajar menyambungkan huruf.
"Tadinya penakut sama orang. Terus sekarang sudah bisa kenal, sudah bisa berbaur, bersosialisasi. Dari akademiknya yang tadinya enggak tahu huruf A B, sekarang sudah bisa, terus sudah sedikit menyambung-nyambung huruf tahu angka," kata Ernawati.
Perubahan itu bahkan ikut terbawa sampai ke rumah. Zoya mulai mengulang pelajaran yang didapatnya di sekolah. Ia juga mulai memiliki cerita tentang apa yang dilakukan bersama guru dan teman-temannya.
"Bu, tadi aku suruh maju," kata Ernawati menirukan cerita putrinya.
Bagi seorang ibu, cerita sederhana dari anaknya itu memiliki arti besar. Ernawati melihat anaknya yang sebelumnya hanya menghabiskan waktu dengan bermain kini memiliki aktivitas, teman, dan semangat untuk belajar.
"Dia lebih jadi bersemangat lagi sih, hari-harinya ada warna lagi," ujarnya.
Kalimat itu menjadi gambaran kecil tentang arti SAAJA bagi anak-anak yang belajar di sana. Pendidikan tidak hanya membuat mereka mengenal huruf dan angka, tetapi juga memberikan ruang untuk tumbuh dan mengenal dunia di luar lingkungan rumah.
Bertahan dengan KepedulianPerjalanan SAAJA selama lebih dari dua dekade juga tidak lepas dari keterbatasan. Sekolah ini memberikan pendidikan secara gratis dan tidak memungut biaya dari anak maupun orang tua. Namun, kegiatan sehari-hari nya masih mengandalkan bantuan yang datang dari masyarakat, relawan, dan donatur.
Pengelola SAAJA, Harto (49), mengatakan bantuan tersebut tidak selalu datang secara rutin. Karena itu, kebutuhan sekolah harus disesuaikan dengan kemampuan yang tersedia.
"Di sini free semua, tidak ada pemungutan apa pun ke anak-anak dan orang tua, dimaksimalkan apa adanya," kata Harto.
Buku, peralatan menulis, dan kebutuhan belajar anak dipenuhi melalui bantuan yang datang. Para pengelola pun menjalankan kegiatan dengan sumber daya terbatas.
Kondisi serupa juga dirasakan para guru. Iin mengatakan, SAAJA tidak memiliki donatur tetap. Ketika ada dana yang masuk, kebutuhan anak-anak menjadi prioritas.
"Kami tidak ada donatur tetap. Jadi otomatis ya kalaupun ada misalkan ada dana yang masuk hari ini misalkan atau bulan ini ya itu yang akan kami kelola kami utamakan untuk kebutuhan anak-anak gitu.” kata Iin.
Namun keterbatasan itu tidak membuat kegiatan belajar berhenti. Setiap hari, anak-anak tetap datang. Guru tetap mengajarkan huruf dan angka. Anak-anak tetap bermain, belajar, dan pulang membawa cerita tentang apa yang mereka lakukan di sekolah.
Menunggu Perhatian yang Lebih Besar
Di tengah upaya tersebut, keterlibatan pemerintah dalam mendukung keberlangsungan SAAJA masih terbatas. Harto mengatakan pemerintah sejauh ini lebih banyak melakukan pemantauan. Sementara bantuan atau revitalisasi untuk kegiatan sekolah belum diterima.
"Paling ya dari Pemprov itu atau dari PNS-PNS itu monitor sifatnya. Jadi kita di sini mereka memonitor itu saja," kata Harto.
Sementara itu, Iin mengatakan, salah satu kendala SAAJA untuk memperoleh dukungan pendidikan secara lebih luas berkaitan dengan persoalan status lahan. SAAJA berdiri di atas lahan milik Pemprov DKI Jakarta sehingga pengelola kesulitan mengurus hak guna pakai yang menjadi salah satu syarat untuk mendaftarkan sekolah ke Dinas Pendidikan.
"Karena kan kami berdiri di atas lahan milik Pemprov DKI, dalam hal ini badan aset. Jadi otomatis untuk mengajukan hak guna pakai lahan sebagai syarat utama untuk mengajukan sekolah ini terdaftar di Dinas Pendidikan kan agak berat," kata Iin.
Di sisi lain, SAAJA saat ini belum memiliki badan hukum sendiri. Iin mengatakan SAAJA masih berada di bawah Yayasan Pemberdayaan untuk Rakyat Miskin yang sejak 2015 sudah tidak aktif.
"Jadi saat ini legalnya SAAJA ini tidak berdiri sendiri. Jadi kami di bawah Yayasan Pemberdayaan untuk Rakyat Miskin tapi memang sejak tahun 2015 yayasan ini sudah tidak aktif," ungkap Iin.
Meski demikian, pengelola berharap SAAJA tetap bisa bertahan dan suatu hari memiliki legalitas yang lebih kuat sehingga anak-anak yang dibina dapat terdata dalam sistem pendidikan.
"Jadi kita bisa apa punya badan hukum sendiri SAAJA untuk apa namanya bisa terdaftar di Kementerian Pendidikan dalam hal ini pendidikan anak usia dini gitu. Jadi supaya memang anak-anak ini apa anak-anak yang kami bina ini juga bisa terdata di kementerian Dinas Pendidikan gitu," kata Iin.
Harapan itu bukan semata tentang keberadaan sebuah sekolah. Ada anak-anak yang ingin belajar di dalamnya. Ada orang tua yang ingin anaknya memiliki masa depan lebih baik. Dan ada guru serta pengelola yang tetap membuka pintu kelas meski dukungan yang datang belum selalu cukup.
Bagi Ernawati, pendidikan di SAAJA membuatnya berani berharap lebih jauh untuk putrinya. Ia ingin Zoya terus bersekolah, bahkan hingga perguruan tinggi.
"Sangat berharap sekali. Bisa mengubah garis," ujarnya.
Di ruang belajar sederhana SAAJA, harapan itu tumbuh dari hal-hal kecil. Dari seorang anak yang mulai mengenal huruf, berani maju ke depan kelas, pulang membawa cerita, dan perlahan tidak lagi takut bertemu orang.
Mungkin bagi sebagian orang, perubahan itu terlihat sederhana. Namun bagi keluarga yang kesulitan memberikan pendidikan bagi anaknya, kesempatan untuk belajar adalah langkah awal menuju masa depan yang berbeda.




