JAKARTA, KOMPAS.com - Sampah rumah tangga umumnya berakhir di tempat pembuangan. Namun, warga RW 07, Kelurahan Joglo, Kembangan, Jakarta Barat, memilih mengolah sampah dari sumbernya.
Sejak 2019, warga setempat secara mandiri menginisiasi pengelolaan sampah rumah tangga. Kini, mereka mampu mengolah sampah yang dikumpulkan dari lingkungan sendiri.
Ketua RW 07 Kelurahan Joglo, Eko Gunoto, mengatakan perjalanan tersebut tidak langsung berjalan mulus. Butuh waktu bertahun-tahun untuk membiasakan warga memilah dan mengolah sampah dari rumah.
Baca juga: Saat CCTV Jadi Mata Warga Tamansari Jakbar Cegah Curanmor dan Tawuran...
"Pengolahan sampah ini sebetulnya sudah kita laksanakan sejak tahun 2019. Sebelum ada program dari pemerintah, kita sudah menginisiasi program pengolahan sampah ini dari awal," kata Eko kepada Kompas.com saat ditemui, Selasa (11/8/2026).
Menurut Eko, perjalanan selama sekitar tujuh tahun tersebut diwarnai berbagai kendala. Namun, warga perlahan mulai memahami pentingnya pengelolaan sampah dari sumbernya.
"Memang itu tidak mudah. Kendalanya memang banyak, tapi bersyukur warga diajak pelan-pelan akhirnya mau, sampai akhirnya kita berada di titik ini. Sekarang kita sudah mengolah sampah 100 persen dari rumah," ujarnya.
Tak Sekadar Mengurangi SampahMeski telah mampu mengolah sampah dari rumah, Eko mengatakan capaian tersebut bukan berarti persoalan selesai. Konsistensi warga menjadi kunci agar sistem pengelolaan sampah tetap berjalan secara berkelanjutan.
"Kalau program yang berkelanjutan itu kan tidak berhenti di satu titik saja. Dari waktu ke waktu pasti ada permasalahan," tuturnya.
Dalam sistem tersebut, warga terlebih dahulu memilah sampah rumah tangga. Sampah organik kemudian dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan.
Sebagian sampah organik diolah menjadi kompos, sedangkan sebagian lainnya dimanfaatkan sebagai pakan maggot.
Baca juga: Perketat Keamanan Warga, RW di Tamansari Jakbar Pasang CCTV di Titik Rawan
Maggot yang dihasilkan kemudian digunakan untuk mendukung kebutuhan peternakan warga, seperti pakan ikan dan ayam.
"Kalau skalanya besar bisa dijual, tapi karena kita skalanya komunal di tingkat RW, jadi hanya kita gunakan untuk pakan ternak warga, seperti pakan ikan atau ayam," jelas Eko.
Meski berorientasi pada kebutuhan warga, sebagian kompos dan maggot juga dijual. Namun, Eko menegaskan, penjualan tersebut bukan semata-mata untuk mengejar keuntungan.
"Memang ada sebagian yang dijual, termasuk kompos juga, tapi itu tujuannya untuk membiayai biaya produksi, karena prosesnya cukup memakan biaya," katanya.
Pengolahan sampah organik hingga menjadi kompos membutuhkan waktu cukup panjang. Dari sampah masuk hingga siap dikemas, prosesnya bisa memakan waktu sekitar satu setengah bulan.





