Zainin dan Kampung yang Hilang di Singapura

katadata.co.id
1 jam lalu
Cover Berita

Pintu kedatangan Terminal 2 Bandara Internasional Changi, Singapura, terus terbuka siang itu, Sabtu (1/8). Satu per satu penumpang keluar dari area imigrasi. Ada yang mendorong troli penuh koper, ada yang bergegas memeluk keluarga yang telah menunggu. 

Di salah satu sudut, seorang ayah menggendong anaknya yang masih balita. Gadis kecil itu menunjuk ke arah sebuah robot pembersih berwarna jingga yang melintas di tengah keramaian. Lelaki paruh baya itu lalu menghampiri robot, sementara putri kecil mengamati dengan seksama. 

Robot setinggi pinggang orang dewasa itu bergerak pelan di antara koper-koper. Sesekali ia berhenti ketika seseorang melintas, lalu kembali menyusuri jalur yang telah dipetakan. Garis lengkung di bibirnya menyambut setiap orang yang datang. 

Anak itu tersenyum, lalu tertawa kecil. Namun belum habis tawanya, ayahnya menerima panggilan telepon lalu berlalu membawa putrinya menjauh. Di belakangnya, robot jingga kembali melanjutkan tugasnya. 

Kitrina, seorang petugas di Bandara Changi mengatakan robot-robot itu kini menjadi bagian dari keseharian Bandara Changi.

“Sudah lebih tiga tahun robot-robot itu bertugas di sini,” ujarnya. Sejak itu tak banyak lagi petugas kebersihan yang berkeliaran di area kedatangan dan area tunggu bandara. 

***

Tiga hari kemudian, di sebuah rumah makan di pusat perbelanjaan Great World, di pusat kota Singapura Katadata bertemu Zainin.

Dengan seragam hitam sederhana, pria berdarah Melayu itu berpindah dari satu meja ke meja lain. Tangannya cekatan mengangkat piring, membersihkan meja, lalu menyapa pelanggan yang datang silih berganti.

Usianya 56 tahun. Ia lahir pada 1970, jauh sebelum Singapura dipenuhi gedung pencakar langit, kereta bawah tanah, atau robot-robot yang bekerja tanpa lelah.

Ketika Katadata bertanya bagaimana Singapura pada masa kecilnya, wajahnya langsung berubah. Ia tersenyum.

"Beda sekali."

Kalimat itu ia ucapkan pelan. Raut wajahnya berubah, namun ia segera pergi. Kembali bekerja. Tak sampai lima menit kemudian ia kembali. 

"Dulu kami tinggal di rumah kampung. Rumah Melayu dari kayu." ia kini terlihat lebih rileks.  

Zainin bercerita menghabiskan masa kecil di tengah lingkungan yang kini nyaris mustahil ditemukan di Singapura. Rawa dan semak belukar di mana-mana. 

"Ular banyak," katanya sambil tertawa. "Nyamuk juga banyak."

Lalu ia menambahkan sesuatu yang membuat suasana menjadi hening.

"Burung juga banyak."

Burung. Di kota yang hari ini dipenuhi suara MRT, kendaraan listrik, pendingin udara, dan notifikasi telepon genggam, Zainin justru mengingat suara burung.

Masa kecilnya berubah ketika usianya sekitar sepuluh tahun. Pemerintah mulai membangun Singapura baru.

Kampung-kampung Melayu yang telah berdiri puluhan tahun satu per satu dibongkar. Warga dipindahkan ke blok-blok rumah susun atau flats yang menjadi simbol modernisasi negeri itu.

Zainin masih mengingat hari ketika rumahnya ikut diratakan dan ia berpindah ke rumah flat yang disediakan. Ia tumbuh bersama perubahan besar yang mengangkat kualitas hidup jutaan warga Singapura.

"Kampung sudah tidak ada."

Tapi ia tak pernah menyesali perpindahan itu. Rumah susun memberi keluarganya kehidupan yang lebih layak. Yang hilang bukan kenyamanan, melainkan kampung tempat ia dibesarkan.  

Dalam ingatan Zainin, Singapura telah berubah dengan cepat. Namun di balik semua itu, ada sesuatu yang perlahan menghilang. Kini hanya ada satu kampung yang tertinggal di Singapura. 

“Bila ingin tengok suasana kampong, ke Batam saja,” ujar Zainin singkat. Batam adalah kota yang masuk dalam wilayah administrasi Indonesia, sekitar 20 kilometer di arah tenggara. 

Singapura hari ini terus bergerak menuju masa depan. Robot-robot bekerja di bandara, kereta melaju di bawah tanah, dan gedung-gedung tinggi memenuhi ruang yang dulu ditempati kampung.

Bagi Zainin, kampung itu memang sudah tak ada. Namun kenangannya belum hilang dari ingatannya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menko Polkam Sebut Kapolda-Pangdam Bisa Dicopot Kalau Gagal Tangani Karhutla
• 19 jam lalukumparan.com
thumb
Trump Tuntut Balik Kompensasi dari Iran Atas Kerugian Akibat Perang
• 19 jam laludetik.com
thumb
Penjelasan KPK soal Sisa Uang Amplop Bupati Kuansing untuk Menhut
• 17 jam laluliputan6.com
thumb
Rizky Maulana Terpilih Jadi Ketua Umum BMK 1957
• 20 jam laluviva.co.id
thumb
Tim Upacara dan Paskibraka HUT ke-81 RI Mulai Latihan Bersama di Istana Merdeka
• 7 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.