Investasi tidak melulu soal sektor yang paling populer hari ini. Lebih dari itu, investasi juga tentang pembangunan industri untuk jangka panjang. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, Indonesia Investment Authority (INA) mencoba menavigasi investasi untuk industri masa depan.
INA merupakan lembaga pengelola investasi atau sovereign wealth fund pertama di Indonesia yang berdiri Desember 2020. Mandatnya adalah mengelola investasi pemerintah dalam jangka panjang sekaligus menarik modal global ke Indonesia.
Salah satu wujud investasi jangka panjang INA tergambar dari pengembangan platform produksi katoda lithium iron phosphate (LFP) pertama di Indonesia di Kawasan Industri Kendal, Jawa Tengah. Dalam proyek ini, INA bermitra dengan perusahaan asal China, Changzhou Liyuan.
Dengan nilai investasi sekitar 200 juta dolar AS, pabrik ini menjadi fasilitas produksi katoda LFP, bahan baterai kendaraan listrik, terbesar di luar China. Kapasitas produksinya mencapai 30.000 ton pada 2025 dan akan ditingkatkan jadi 110.000 ton pada 2026 dan 120.000 ton per tahun pada 2027.
”Kalau pengembangan tahap ketiga ini berjalan dan ekspor, produksi material untuk baterai ini setara dengan satu juta mobil listrik,” ujar Ketua Dewan Direktur dan Chief Executive Officer INA Oki Ramadhana dalam wawancara khusus bersama Harian Kompas (Kompas.id) di Jakarta, Rabu (5/8/2026).
Oki mengakui, masih ada sejumlah pihak yang mempertanyakan investasi di sektor ini. Apalagi, Indonesia belum memiliki cadangan litium. Namun, investasi ini cukup menjanjikan dalam jangka panjang. Bloomberg New Energy Finance, misalnya, memproyeksikan LFP terus tumbuh.
Pada 2023, LFP menyumbang sekitar 40 persen dari permintaan baterai global. Pangsa pasar itu diproyeksikan meningkat menjadi lebih dari 60 persen pada 2035. Jika beroperasi optimal, nilai penjualan ekspor dari LFP ini diproyeksikan di atas 1 miliar dolar AS per tahun.
”Jadi, investasi itu tidak hanya soal industri-industri yang populer sekarang, tetapi juga investasi yang 10-20 tahun lagi menjadi basis industri kita di Indonesia,” ungkap Oki.
Menurut Oki, perkembangan sektor jasa, terutama keuangan, belum sepenuhnya diimbangi penguatan industri yang menghasilkan nilai tambah di dalam negeri. Padahal, pengembangan industri untuk sektor jangka panjang dapat mengurangi ketergantungan impor dan memperkuat Indonesia di rantai pasok global.
”Kita masih kurang dalam pembangunan industrialisasi. Ini harus dikembangkan. Pak Presiden Prabowo Subianto juga menginginkan industrialisasi,” ujarnya. Itu sebabnya, pihaknya berfokus pada investasi jangka panjang.
Di Karawang International Industrial City, Jawa Barat, misalnya, INA dan mitra investor telah membangun fasilitas fraksionasi plasma PT SKPlasma Core Indonesia. Pabrik ini diharapkan memenuhi kebutuhan obat derivat, seperti imunoglobulin, albumin, dan faktor VIII.
Pembangunan fasilitas ini telah mencapai 100 persen dan kini dalam tahap sertifikasi cara pembuatan obat yang baik (CPOB) oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Pada fase awal, pabrik ini diproyeksikan memproduksi 600.000 liter plasma per tahun.
Investasi INA untuk masa depan juga tergambar dari pengembangan pusat data hyperscale di Batam. Proyek bernilai 600 juta dolar AS ini bermitra dengan DayOne, perusahaan penyedia pusat data skala global. Pembangunan fase pertama pusat data sebesar 72 megawatt (MW) ini telah tuntas tahun lalu.
Saat ini, perusahaan tengah mengembangkan fase dua pusat data dengan target kapasitas 360 MW. Pihaknya optimistis, realisasi pertumbuhan nilai investasi dan imbal hasil dari proyek ini diperkirakan akan terlihat dalam 2–3 tahun mendatang seiring penambahan kapasitas dan utilisasi tenan.
Berbagai proyek ini merupakan implementasi dari pengembangan lima sektor prioritas, yakni transportasi dan logistik, energi hijau, digital dan akal imitasi (AI), kesehatan, serta material tingkat lanjut (advanced materials). ”Sektor-sektor ini akan mendukung kebutuhan industri di Indonesia dalam 10-20 tahun ke depan,” ujarnya.
Oki mengakui, imbal hasil dari investasi di sektor tersebut membutuhkan waktu. Namun, ia meyakini, investasi jangka panjang di sektor itu akan menumbuhkan industri, membuka lapangan kerja, hingga menempatkan Indonesia dalam rantai pasok global, terutama untuk kebutuhan baterai kendaraan listrik dan pusat data.
Untuk memastikan berbagai investasi itu berjalan, pihaknya menerapkan sejumlah strategi. Pertama, INA menggandeng investor luar negeri yang ahli di sektor tersebut. Pengembangan pusat data, misalnya, pihaknya bermitra dengan DayOne, platform pusat data yang sebelumnya berada di bawah GDS Holdings Limited.
”Jadi, kami tidak hanya membawa kapital, tetapi juga mendatangkan expertise (pakar di bidangnya). Dengan keahliannya, mitra investor kami bisa memastikan ke mana arah industri ini dalam satu atau dua dekade ke depan,” ujar Oki.
Strategi kedua adalah memberikan navigasi kepada mitra investor dalam menanam modal di Indonesia. INA tidak hanya berhenti pada saat transaksi selesai. Lembaga itu ikut mengelola investasi sepanjang siklusnya, memantau kinerja perusahaan portofolio, mengidentifikasi risiko baru, dan mencari peluang penciptaan nilai.
Strategi ketiga INA untuk mengembangkan investasi jangka panjang adalah memastikan tata kelola transparan dan independen. ”Dalam lima tahun terakhir, kami membangun institusi, portofolio bisnis, dan aktif mengelola investasi. Itu sebabnya, investor luar negeri percaya dengan INA,” ujar Oki.
Selain menjadi anggota tetap Forum SWF Internasional, INA juga telah meraih skor 92 persen dalam Governance, Sustainability and Resilience Scoreboard (GSR) 2026. Capaian itu menempatkan INA di peringkat kedua terbaik SWF di Asia setelah Temasek.
Selama lima tahun beroperasi, lembaga ini telah memperoleh komitmen investasi sebesar 25 miliar dolar AS atau sekitar Rp 450 triliun dari 40 mitra strategis di 15 negara. Mitra itu adalah dana pensiun, perusahaan asuransi, SWF, manajer aset, perusahaan strategis, dan private equity.
INA bersama para mitra investor pun telah menyalurkan investasi sebesar sekitar Rp 74,5 triliun atau sekitar 4,7 miliar dolar AS. Sebanyak Rp 33,3 triliun atau 2,1 miliar dolar AS di antaranya investasi INA sendiri.
Sebagai investor jangka panjang, tantangannya bukan lagi mencoba memprediksi setiap perubahan pasar, melainkan mampu membedakan antara volatilitas jangka pendek dengan perubahan struktural yang benar-benar memengaruhi prospek investasi jangka panjang.
Pada saat yang sama, INA turut mengundang modal asing. Hingga 2025, INA telah berkontribusi mendatangkan penanaman modal asing (PMA) ke Indonesia dengan realisasi kumulatif mencapai Rp 41,2 triliun (sekitar 2,6 miliar dolar AS).
Meski terus tumbuh, investasi INA menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah ketidakpastian ekonomi akibat ketegangan geopolitik, seperti perang Iran dan AS atau pemberlakuan kebijakan tarif AS. Menurut Oki, ketidakpastian itu bukan lagi kondisi sementara, melainkan menjadi karakter perekonomian global.
”Sebagai investor jangka panjang, tantangannya bukan lagi mencoba memprediksi setiap perubahan pasar, melainkan mampu membedakan antara volatilitas jangka pendek dengan perubahan struktural yang benar-benar memengaruhi prospek investasi jangka panjang,” ujarnya.
Itu sebabnya, pihaknya terus meningkatkan investasi ke sektor-sektor masa depan dan memperkuat kemitraan dengan investor global. Dengan ketidakpastian perekonomian global, kemitraan justru semakin penting. Melalui strategi itu, Oki yakin, investasi jangka panjang INA terus tumbuh.
”Dalam 10-20 tahun lagi, INA akan menjadi lembaga pengelola investasi yang lebih besar dan lebih berdampak bagi Indonesia,” ujarnya.
Guru Besar Manajemen Stratejik FEB UI Sari Wahyuni menilai, investasi memang seharusnya fokus pada pengembangan sektor masa depan. Dalam manajemen strategis, terdapat teori dynamic capability, yakni melihat industri yang dibutuhkan ke depannya, kapabilitas yang diperlukan, dan cara untuk mencapainya.
Pengembangan investasi jangka panjang untuk masa depan tidak hanya terkait industrialisasi, tetapi juga pengembangan pengetahuan.
”Pengembangan investasi jangka panjang untuk masa depan tidak hanya terkait industrialisasi, tetapi juga pengembangan pengetahuan,” ujarnya. Dengan begitu, investasi juga turut mengembangkan pengetahuan dan penguasaan teknologi bagi sumber daya manusia di Indonesia.
Pada akhirnya, investasi bukan hanya tentang sektor apa yang menghasilkan hari ini, melainkan juga pembangunan industri untuk jangka panjang. Waktu yang akan menguji apakah modal yang ditanam saat ini menjadi fondasi bagi industri Indonesia di masa depan.





