Pagi di Seruni Point, tempat untuk melihat matahari terbit, telah berjejer antre mobil-mobil jip menunggu wisatawan kembali. Para sopir asyik berbincang di bawah aroma belerang yang menyengat. Sejak ditutup akibat kebakaran lahan, akses menuju Gunung Bromo ditutup dari berbagai arah. Di Desa Ngadisasi, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Seruni Point menjadi satu-satunya tempat yang bisa dijangkau untuk melihat matahari terbit di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Selasa (11/8/2026).
Dampak penutupan sejak 8 Agustus akibat kebakaran mulai dirasakan. Bukan hanya wisatawan yang kehilangan akses ke kawasan tersebut, melainkan juga para pelaku usaha yang menggantungkan hidup dari pariwisata Bromo. Dengan ditutupnya kawasan Gunung Bromo, sejumlah titik tujuan menjadi tidak bisa diakses, seperti kawah Bromo, Pasir Berbisik, dan Bukit Teletabis.
Salah satu pemilik jip, Suwiryo, mengungkapkan bahwa kebakaran yang saat ini masih berlangsung mulai mengganggu mata pencariannya. Meski masih tetap mendapatkan wisatawan, berkurangnya jumlah titik kunjungan, khususnya yang berada di Gunung Bromo, membuat biaya sewa menjadi turun dan membuat persentase honor ke sopir juga turun.
”Kini hanya bisa mengantar dari hotel ke Seruni Point, lalu kembali ke hotel. Pada saat kondisi normal, wistawan mendapat kesempatan mengunjungi hingga lima lokasi. Yang sebagian besar justru berada di lautan pasir yang ditutup,” ujar Suwiryo.
Dengan adanya kebakaran dan ditutupnya akses ke Gunung Bromo, Suwiryo, kini gencar memberikan informasi ke agen perjalanan untuk menginformasikan wisatawan masih bisa berkunjung dan melihat matahari terbit. ”Untuk turis asing banyak yang kecewa karena biasanya mereka datang untuk melihat Kawah Bromo dan matahari terbit. Yang lainnya biasanya mereka tidak mau,” kata Suwarno.
Sementara itu, pengelola warung makan, Satria, mengeluhkan berkurangnya jumlah kunjungan ke warungnya. ”Biasanya warung tutup pukul 22.00, kini pukul 20.00 sudah saya tutup. Banyak yang mengurungkan berkunjung, khususnya dari wisatawan lokal. Untungnya akses ke Seruni Point masih dibuka untuk wisata, jadi masih ada wisatawan yang mampir ke warung. Biasanya tempat saya banyak didatangi turis-turis asing,” ujar Satria.
Satria yang merupakan warga asli suku Tengger mengungkapkan bahwa dirinya tidak khawatir dengan adanya kebakaran karena merupakan siklus tahunan. Dia juga menceritakan bahwa sepengetahuannya selama ini tidak pernah kebakaran mencapai permukiman. Dia hanya berharap kebakaran segera bisa ditanggulangi dan perekonomian kembali ke sedia kala.
Pergi ke ladang. (KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA)
Pemilik warung, Satria. (KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA)
Warga Tengger berjemur. (KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA)
Kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jawa Timur, hingga kini masih dalam penanganan. Luas area yang terdampak kebakaran dilaporkan telah mencapai sekitar 899,35 hektar.
Kebakaran mulai terdeteksi sejak Senin (3/8/2026) dan kemudian meluas di sejumlah kawasan Bromo. Kondisi vegetasi yang kering dan embusan angin membuat api lebih cepat merambat dan menyulitkan pemadaman.
Tim gabungan terus melakukan pemadaman dari darat untuk memutus jalur rambatan api. Sejumlah titik api yang masih aktif menjadi fokus utama petugas. Upaya pemadaman juga didukung dengan pengerahan sarana udara untuk membantu menjangkau wilayah yang sulit diakses melalui jalur darat.
Kebakaran yang masih melanda menjadi pengingat bahwa keindahan Gunung Bromo begitu rentan rusak. Jika hal tersebut terjadi, dampaknya bisa tidak terperikan.





