New York: Saham-saham Wall Street ditutup melemah pada Selasa, 11 Agustus 2026, tertekan kenaikan harga minyak di tengah ketidakpastian pembukaan kembali Selat Hormuz. Investor juga cenderung menahan transaksi menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) yang dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).
Dikutip dari Investing, Rabu, 12 Agustus 2026, indeks S&P 500 turun 0,4 persen ke level 7.725,76 poin. Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi melemah 0,6 persen ke level 26.445,45 poin, sedangkan Dow Jones Industrial Average turun 0,3 persen ke level 53.791,97 poin. Harga minyak tekan Wall Street Kenaikan harga minyak kembali menjadi perhatian investor setelah seorang pejabat Iran menyatakan Selat Hormuz belum akan dibuka hingga sejumlah persyaratan Teheran terpenuhi.
Washington dan Teheran sebelumnya menyampaikan klaim berbeda mengenai status jalur pelayaran strategis tersebut. AS menyatakan selat tetap terbuka untuk pelayaran komersial, sementara Iran memperingatkan bahwa jalur tersebut praktis masih tertutup.
Iran saat ini melakukan pembicaraan dengan Oman untuk menyusun kerangka pengelolaan Selat Hormuz. Qatar menyebut negosiasi tersebut telah memasuki tahap penting.
Di sisi lain, laporan Bloomberg menyebut AS dan Iran hampir mencapai kesepakatan terkait potensi perjanjian damai. Oman dan Pakistan diketahui berperan sebagai mediator dalam pembicaraan kedua negara.
Ketidakpastian tersebut membuat investor kembali mencermati risiko terhadap pasokan energi global. Kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan tekanan inflasi sekaligus memengaruhi prospek kebijakan moneter The Fed.
Baca Juga :
Mengenal Danantara CX100, Program untuk Ukur Kualitas Layanan BUMN(Ilustrasi. Foto: iStock) Kinerja emiten masih menopang pasar Meski tertekan pada awal pekan, Wall Street sebelumnya mencatatkan kinerja mingguan terbaik sejak pertengahan April. Penguatan tersebut didukung penurunan harga minyak, rotasi sektor, serta kinerja keuangan perusahaan yang relatif solid.
Menurut data LSEG I/B/E/S, dari 436 perusahaan dalam indeks S&P 500 yang telah melaporkan kinerja hingga Jumat, 85,1 persen mencatatkan hasil di atas ekspektasi analis. Angka tersebut jauh di atas rata-rata jangka panjang sebesar 67 persen.
Jefferies juga mencatat perusahaan berkapitalisasi besar membukukan musim laporan keuangan yang kuat, dengan pertumbuhan laba gabungan mencapai level tertinggi sejak 2021.
Sejumlah saham bergerak signifikan mengikuti laporan keuangan. Saham Sea yang tercatat di bursa AS melonjak 14,5 persen setelah perusahaan teknologi asal Singapura tersebut melaporkan pendapatan kuartalan di atas estimasi.
Sebaliknya, saham Tencent Music turun 12 persen setelah laba kuartalan perusahaan berada di bawah ekspektasi analis. Investor tunggu data CPI AS Perhatian investor selanjutnya tertuju pada data indeks harga konsumen atau Consumer Price Index (CPI) AS untuk Juli yang dirilis Rabu.
Data tersebut menjadi penting setelah AS secara tak terduga mencatat penurunan 23 ribu lapangan kerja pada Juli. Selain itu, data payroll Mei dan Juni direvisi turun secara signifikan.
Pelemahan pasar tenaga kerja tersebut mendorong investor mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.
Namun, kenaikan harga energi berpotensi memperumit prospek inflasi. Tekanan harga minyak yang berkelanjutan dapat membuat inflasi lebih sulit turun, sehingga memberikan tantangan tambahan bagi The Fed dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.
Investor kini menunggu data CPI untuk melihat apakah tekanan inflasi masih cukup tinggi untuk memengaruhi keputusan The Fed sekaligus menentukan arah pergerakan Wall Street selanjutnya.




