Perusahaan media milik Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Trump Media & Technology Group (TMTG), yang menaungi platform Truth Social, mencatat kerugian sebesar USD 238 juta atau sekitar Rp 4,24 triliun (dengan kurs Rp 17.826 per dolar AS) pada kuartal II 2026.
Dikutip dari the Guardian, kerugian tersebut dibukukan dalam tiga bulan hingga Juni 2026. Dalam periode tersebut, perusahaan mulai merambah sejumlah bisnis baru, termasuk sektor kripto.
CEO baru Trump Media, Kevin McGurn, mengatakan perusahaan kini akan kembali memusatkan perhatian pada bisnis media sosial setelah selama setahun berupaya melakukan ekspansi ke bisnis taruhan daring dan kripto.
“Kami membuat pilihan yang disiplin untuk melakukan perubahan arah guna menginvestasikan lebih banyak waktu dan sumber daya pada inisiatif kami yang paling penting. Kami akan mengatakan tidak pada berbagai hal atau mengubah arah jika diperlukan," kata McGurn dikutip dari the Guardian, Rabu (12/8).
Salah satu bagian penting dari strategi baru perusahaan adalah Truth API, layanan yang akan menjual akses awal terhadap unggahan di Truth Social dari Trump dan pengguna utama lainnya kepada perusahaan perdagangan di Wall Street.
Akses tersebut memungkinkan perusahaan-perusahaan perdagangan memanfaatkan pergerakan saham, obligasi, dan suku bunga yang kerap mengikuti pengumuman kebijakan penting Trump melalui platform tersebut.
McGurn mengatakan layanan Truth API dibanderol USD 60.000 hingga USD 100.000 per bulan. Trump Media disebut telah mendapatkan 10 pelanggan, yang sebagian besar merupakan perusahaan high-frequency trading yang melakukan transaksi jual beli dalam hitungan milidetik.
Layanan berbayar tersebut dan Trump Media secara keseluruhan, mendapat kritik dari sejumlah pengawas pemerintahan. Pakar aturan konflik kepentingan pemerintah dari Washington University School of Law Kathleen Clark sebelumnya menilai layanan tersebut bermasalah.
Menurut dia, langkah tersebut merupakan bentuk korupsi yang semakin terang-terangan dan eksploitasi kekuasaan pemerintah yang tidak semestinya untuk memperkaya diri sendiri.
McGurn membantah kekhawatiran tersebut. Dia mengatakan perusahaan lain juga menyediakan akses khusus dan cepat kepada para pelaku perdagangan.
Trump Media Tetap Garap Bisnis Fusi NuklirMeski kembali memfokuskan bisnisnya pada media sosial, McGurn mengatakan Trump Media tetap melanjutkan rencana usaha yang sebelumnya telah diumumkan, yakni pengembangan teknologi fusi nuklir.
Trump Media masih menargetkan penyelesaian merger dengan perusahaan energi TAE Technologies pada akhir tahun ini.
Pada kuartal II 2026, Trump Media mencatat pendapatan sebesar USD 1,7 juta atau sekitar Rp 30,3 miliar. Pendapatan tersebut meningkat 89 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Di sisi lain, perusahaan memiliki utang sebesar USD 1 miliar yang berasal dari surat utang konversi khusus. Utang tersebut baru jatuh tempo pada 2028.
Namun, para pemberi pinjaman memiliki opsi untuk meminta surat utang tersebut dicairkan pada November mendatang. Kondisi ini berpotensi memberikan tekanan terhadap keuangan perusahaan, meskipun Trump Media dinilai memiliki kas yang cukup.
Pada akhir kuartal II 2026, Trump Media memiliki lebih dari USD 400 juta atau sekitar Rp 7,12 triliun dalam bentuk kas dan investasi jangka pendek. Perusahaan juga memiliki aset bitcoin dan aset terkait bitcoin senilai USD 1,2 miliar atau sekitar Rp 21,39 triliun.





