Karhutla Gunung Bromo, BNPB Andalkan Air dari Ranu Pani untuk Water Bombing

suarasurabaya.net
2 jam lalu
Cover Berita

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut Danau Ranu Pani menjadi satu-satunya sumber air yang dapat diandalkan untuk mendukung pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur.

Letjen TNI Suharyanto Kepala mengatakan, pasokan air dari Ranu Pani saat ini digunakan untuk mengisi armada helikopter water bombing yang dikerahkan dalam operasi pemadaman.

“Pengisian air untuk armada pemadaman (helikopter water bombing) saat ini mengandalkan pasokan dari Ranu Pani,” kata Suharyanto dilansir dari Antara, Selasa (11/8/2026).

Ranu Pani merupakan danau yang berada di ketinggian sekitar 2.100 meter di atas permukaan laut (mdpl). Lokasi tersebut juga dikenal sebagai salah satu titik awal pendakian menuju Gunung Semeru dan masih berada di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).

Menurut Suharyanto, tim gabungan telah memanfaatkan Ranu Pani secara maksimal selama sekitar 10 hari operasi pemadaman karhutla Gunung Bromo.

Keterbatasan sumber air menjadi salah satu tantangan utama dalam penanganan kebakaran. Selain itu, kondisi medan membuat pemadaman dari darat tidak memungkinkan dilakukan di titik api utama.

Lokasi kebakaran berada di lereng Gunung Bromo dengan kemiringan medan yang sangat curam, mencapai sekitar 80 derajat. Kondisi tersebut dinilai membahayakan keselamatan personel apabila pemadaman dilakukan secara langsung dari darat.

“Tim pemadam darat tidak memungkinkan untuk menjangkau lokasi demi keselamatan jiwa personel di lapangan,” ujar Suharyanto.

Karena itu, operasi pemadaman dari udara menggunakan helikopter water bombing menjadi salah satu metode utama untuk menjangkau titik kebakaran yang sulit diakses pasukan darat.

Di tengah berbagai kendala tersebut, BNPB optimistis kebakaran di kawasan TNBTS dapat segera dikendalikan. Salah satu upaya yang disiapkan adalah Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk meningkatkan peluang turunnya hujan di kawasan terdampak.

OMC dilakukan dengan menyemai bahan tertentu, seperti garam atau natrium klorida (NaCl), ke dalam awan menggunakan pesawat khusus berdasarkan analisis dan data meteorologi.

Suharyanto berharap operasi tersebut dapat segera dilakukan apabila kondisi atmosfer mendukung. Hujan yang turun diharapkan dapat membasahi lahan kering sehingga mengurangi potensi api kembali menyala akibat terpaan angin.

“Berdasarkan penjelasan BMKG, terdapat potensi awan hujan pada 14–16 Agustus. Jika potensi tersebut dikonfirmasi, BNPB akan segera menggelar OMC agar hujan dapat diturunkan secara optimal di area terdampak,” katanya. (ant/saf/ipg)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Populer: O!Save Ekspansi di RI; Subsidi Pertalite Bakal Dibatasi
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Kemnaker Siapkan Pelatihan dan Akses Kerja agar Penyintas Narkoba Kembali Produktif
• 2 jam lalupantau.com
thumb
Freeport Sudah Ajukan Perpanjangan Izin Tambang (IUPK), Ini Kata ESDM
• 15 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Didakwa Rugikan Negara Rp622 Miliar, Gus Yaqut: Orang Lain yang Terima Uang!
• 12 jam lalurctiplus.com
thumb
Rio Capella Sebut Partai Hanura Usulkan Perubahan Sistem Pemilu
• 14 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.