Waste to Fuel, Olah Sampah Jadi RDF Dinilai Lebih Efisien

jpnn.com
2 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com, JAKARTA - CEO sekaligus Inventor Asiana Technologies, Poltak Sitinjak memperkenalkan konsep waste-to-fuel yang mengubah sampah menjadi Refuse-Derived Fuel (RDF).

Menurutnya, teknologi ini diklaim memiliki keunggulan kompetitif yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan proyek waste-to-energy.

BACA JUGA: Inovasi Waste-to-Fuel, Ubah Sampah Jadi Energi Alternatif Pendamping Batu Bara

Poltak menyebutkan model pengolahan miliknya jauh lebih efisien dari sisi nilai investasi dan energi yang dihasilkan.

"Jauh lebih unggul, karena contoh satu PSEL, 1.000 ton sampah mau diolah dengan investasi hampir empat triliun. Kami 1.000 ton sampah diolah enggak sampai 300 miliar biayanya," ungkap Poltak di Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (11/8).

BACA JUGA: MSIG Indonesia Ajak Siswa SD Jadi Agen Perubahan Memilah Sampah

Selisih biaya yang sangat besar tersebut menjadi dasar keyakinan metode ini dapat menjadi solusi paling masuk akal bagi pemerintah.

Selain lebih murah, Poltak menjelaskan nilai kalori yang dihasilkan dari bahan bakar sampah ini juga sangat tinggi untuk kebutuhan industri.

BACA JUGA: DPRD DKI Dukung Nama Perusahaan Pembuang Sampah Ilegal Diumumkan ke Publik

Dia menekankan fokus utama perusahannya saat ini berupaya membantu pemerintah mempercepat penyelesaian masalah sampah nasional melalui penyediaan energi alternatif.

Bahan bakar hasil olahan ini dipastikan bisa langsung digunakan di pembangkit listrik maupun pabrik semen sebagai pengganti batubara.

Keberhasilan teknologi ini diklaim sudah terbukti di fasilitas RDF Rorotan Jakarta yang mampu mengolah 2.500 ton sampah menjadi 1.000 ton energi per hari.

Poltak menekankan fasilitas di Rorotan tersebut menjadi salah terobosan pertama di Indonesia yang sukses dalam menangani sampah basah.

Sampah di Indonesia memiliki karakteristik yang menantang karena mengandung kadar air hingga 70 persen.

"Kami berhasil alhamdulillah Indonesia pertama negara yang bisa menghasilkan bahan bakar dari sampah yang sangat basah," tutur Poltak.

Pihaknya kini terus mendorong agar rangkaian teknologi ini bisa diadopsi secara masif oleh berbagai pihak kementerian dan lembaga terkait.

Melalui pendekatan ini, Asiana optimistis tantangan sampah perkotaan yang kronis dapat segera teratasi dengan biaya yang lebih terukur.

"Jadi, secara investasi ini jauh lebih efesien, energi yang dihasilkan jauh lebih baik. Jadi, ini pilihan-pilihan saja, tetapi kan pemerintah ingin mendorong masalah sampah cepat selesai," tutupnya. (rom/jpnn)


Redaktur : Dedi Yondra
Reporter : Romaida Uswatun Hasanah


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dugaan korupsi Rp4 M, rumah ketua UPK Pagedongan digeledah Kejari
• 15 jam laluantaranews.com
thumb
Dahlia Poland Terharu Dapat Pesan dari Anak Saat Sedang Kerja: Mama Semangat, Jangan Kecapekan
• 1 jam lalugrid.id
thumb
Cicilan BRI Kartu Kredit Kini Lebih Ringan, Bunga 0% Mulai Transaksi Rp100 Ribu
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Bumi Dikabarkan Kehilangan Gravitasi Selama 7 Detik pada 12 Agustus 2026, NASA Beri Penjelasan
• 15 jam lalurepublika.co.id
thumb
Ketika Perang Iran Menjadi Risiko Ekonomi Indonesia
• 7 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.