SURABAYA— Ekonomi Jawa terus menunjukkan ketahanan di tengah ketidakpastian global. Pada triwulan II 2026, ekonomi Jawa tumbuh 5,65 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan capaian sepanjang 2025 yang sebesar 5,30 persen. Angka ini ditopang oleh konsumsi rumah tangga, investasi, dan belanja pemerintah.
Namun, di balik angka pertumbuhan yang positif, ada tantangan besar yang dihadapi pemerintah daerah: bagaimana menjaga momentum ini jika ruang fiskal semakin terbatas dan ketergantungan pada Transfer ke Daerah masih tinggi?
Pertanyaan itulah yang menjadi inti dari Rapat Koordinasi Percepatan Investasi dan Pertumbuhan Ekonomi Daerah Wilayah Jawa Tahun 2026 yang digelar di Surabaya, Selasa (11/8). Forum yang dipimpin Bank Indonesia ini mempertemukan pemerintah pusat, pemerintah daerah se-Jawa, otoritas sektor keuangan, hingga perbankan untuk mencari solusi bersama.
Investasi: Motor Pertumbuhan yang Terus Digeber
Investasi memiliki peran strategis dalam struktur ekonomi Jawa. Kontribusinya mencapai 29,68 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa. Angka ini menunjukkan bahwa setiap proyek investasi yang terealisasi bukan sekadar angka pertumbuhan, tetapi juga lapangan kerja, konektivitas, dan daya saing daerah yang meningkat.
Namun, kapasitas pembiayaan pembangunan daerah menghadapi tantangan sejalan dengan dinamika ruang fiskal dan Transfer ke Daerah. Kondisi ini mendorong pemerintah daerah untuk tidak lagi hanya mengandalkan APBD.
Pembiayaan Kreatif: Jalan Keluar di Tengah Keterbatasan
Solusi yang ditawarkan dalam rakor ini adalah pembiayaan kreatif (creative financing). Skema ini mencakup beragam instrumen di luar APBD, seperti pinjaman daerah, Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU), obligasi dan sukuk daerah, optimalisasi barang milik daerah, serta skema bauran pembiayaan (blended finance).
Direktur Jenderal Bina Keuangan Daerah Kementerian Dalam Negeri, Agus Fatoni, menekankan bahwa perluasan sumber pembiayaan harus diiringi penguatan kapasitas fiskal dan tata kelola pemerintah daerah, dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan daerah, kesiapan regulasi, dan kelembagaan.
Sementara itu, Direktur Bappenas, Novie Andriani, menyoroti bahwa berbagai skema pembiayaan kreatif sebenarnya telah tersedia secara regulasi. Namun, implementasinya masih menghadapi tantangan, terutama kesiapan kelembagaan dan kapasitas sumber daya manusia di pemerintah daerah.
Peran Bank Indonesia sebagai Katalisator
Direktur Departemen Regional Bank Indonesia, Tri Yanuarti, menegaskan bahwa Bank Indonesia akan terus memperkuat perannya sebagai strategic advisor bagi pemerintah daerah sekaligus katalisator sinergi kebijakan pusat dan daerah.
Peran tersebut dilakukan melalui:
- Penyediaan asesmen ekonomi dan keuangan daerah
- Pemetaan proyek investasi potensial
- Penguatan Regional Investor Relations Unit (RIRU)
- Fasilitasi dialog antara pemerintah, investor, perbankan, dan otoritas sektor keuangan
- Promosi proyek investasi potensial di dalam dan luar negeri
Tiga Arah Penguatan ke Depan
Rakor menghasilkan tiga arah penguatan utama bagi percepatan investasi di Jawa:
- Memperkuat kesamaan pemahaman mengenai potensi, tata kelola, dan prinsip kehati-hatian dalam pemanfaatan pembiayaan kreatif.
- Memperkuat identifikasi dan penyiapan proyek investasi agar semakin layak, siap ditawarkan, dan bankable bagi investor maupun lembaga pembiayaan.
- Memperkuat ekosistem implementasi pembiayaan kreatif, terutama dari aspek skema pembiayaan, regulasi, kelembagaan, kapasitas SDM, serta koordinasi antarlembaga.
Momentum Road to JREF 2026
Rakor ini merupakan bagian dari rangkaian Road to Java Regional Economic Forum (JREF) 2026 yang diarahkan untuk mempercepat realisasi investasi serta memperluas alternatif pembiayaan pembangunan daerah yang inklusif dan berkelanjutan.
Dengan pertumbuhan ekonomi Jawa yang diprakirakan tetap kuat pada kisaran 4,9–5,7 persen sepanjang 2026, penguatan investasi menjadi kunci untuk memastikan momentum ini tidak terputus.
Seperti yang ditegaskan dalam forum tersebut, “Dengan kesiapan proyek yang semakin baik dan dukungan sumber pembiayaan yang sesuai, investasi diharapkan terus menjadi motor pertumbuhan, meningkatkan daya saing daerah, serta memperkuat kontribusi ekonomi Jawa terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.”





