Ekshumasi Sutrimo Selesai, Keluarga Ungkap Sejumlah Kejanggalan Kematian

kompas.id
1 jam lalu
Cover Berita

SEMARANG, KOMPAS — Keluarga Sutrimo memutuskan untuk tidak hadir dalam ekshumasi yang dilakukan polisi di tempat pemakaman umum Bantaragung, Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Rabu (12/8/2026). Keluarga disebut masih terpukul dengan kematian Sutrimo dan mengaku tidak sanggup melihat makamnya dibongkar.

Ekshumasi terhadap Sutrimo yang dimulai pada Rabu sekitar pukul 10.00 WIB berakhir sekitar pukul 13.00 WIB. Dalam kegiatan tersebut, tidak ada satu pun anggota keluarga Sutrimo yang hadir. Mereka mengutus pengacara keluarga, Aan Rohaeni, untuk mewakili keluarga menyaksikan pembongkaran makam Sutrimo.

“Memang dari kemarin sudah disepakati agar diwakili saya saja. Keluarga ini kan memang orangnya introver semuanya. Takut salah ngomong, takut salah ini dan itu, ketakutannya banyak. Intinya tidak sanggup melihat prosesnya, jadi cukup tahu saja. Tapi mereka menyetujui proses hukum ini karena memang diperlukan,” kata Aan saat dihubungi, Rabu siang.

Baca JugaRatusan Polisi Dikerahkan untuk Pengamanan Ekshumasi dan Kawal Keluarga Sutrimo

Menurut Aan, keluarga Sutrimo memilih berdiam di rumah. Sebab, bersamaan dengan pelaksanaan ekshumasi, warga sekitar menggelar doa bersama di rumah Sutrimo.

Keluarga Sutrimo, menurut Aan, masih sangat terpukul, terutama ibu dan adik Sutrimo. Sehari menjelang ekshumasi, dokter forensik sempat meminta keterangan dari adik Sutrimo mengenai riwayat kesehatan kakaknya. Seusai memberikan keterangan, adik Sutrimo disebut langsung lemas karena masih berduka.

“Apalagi ibunya Pak Sutrimo, itu cuma bisa memeluk, menangis dan bilang terima kasih, tidak bisa ngomong lain-lain. Ini situasinya masih sangat terpukul, apalagi Pak Sutrimo ini anak kesayangan. Sampai setua itu masih diciumi ibunya, jadi tentu berat lah perasaan orangtua kehilangan anak dalam kondisi seperti ini, pasti sangat berat,” ucap Aan.

Dalam proses ekshumasi tersebut, Aan melihat petugas menggali tanah, mengambil sampel tanah, mengangkat jenazah, mengambil sampel dari jasad Sutrimo, lalu kembali memakamkannya seperti semula. Aan mengaku tidak mengetahui secara persis sampel apa saja yang diambil petugas. Yang jelas, sampel yang diambil dari makam Sutrimo akan dibawa petugas untuk diperiksa di laboratorium forensik.

Terkait kapan hasil ekshumasi akan diketahui, Aan mengaku belum mendapatkan informasi. Menurut dia, keluarga menyerahkan seluruh proses kepada kepolisian agar penyebab kematian Sutrimo bisa diungkap secara terang.

Hingga proses ekshumasi selesai, rumah dan keluarga Sutrimo, menurut Aan, masih terus dijaga ketat oleh polisi. Bahkan, sejumlah kamera pemantau atau CCTV telah dipasang di sekitar rumah Sutrimo demi menjaga keamanan keluarga.

Aan menyebut, sejauh ini tidak ada ancaman terhadap keluarga Sutrimo ataupun dirinya sebagai pengacara keluarga. Namun, kekhawatiran disebut tetap ada lantaran mereka merasa sedang berhadapan dengan ”orang besar”.

Belasungkawa

Selama ini, keluarga Sutrimo mengaku belum pernah mendapatkan ucapan belasungkawa secara langsung dari keluarga mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung Febrie Adriansyah. Padahal, Sutrimo disebut sudah bekerja di rumah Febrie sejak 2008.

Keluarga Sutrimo mengaku pernah didatangi orang-orang yang tiba-tiba menyerahkan uang duka sebesar Rp 20 juta kepada mereka. Namun, orang-orang itu tidak mengucapkan belasungkawa ataupun memperkenalkan diri.

“Kalau misalnya saya punya karyawan, apalagi dalam kondisi kepahitan, pasti minimal saya mengucapkan belasungkawa, itu yang pertama. Tapi, kita sama-sama memahami lah prosesnya. Kalau kemudian hari ini memang ada ucapan bela sungkawa dari mereka, kami akan sampaikan kepada keluarga, meskipun sebaiknya diucapkan sendiri ya,” ujar Aan.

Sebelumnya, Aan mengungkapkan bahwa Sutrimo awalnya bekerja sebagai buruh bangunan di rumah Febrie. Karena hasil kerjanya dinilai memuaskan, Febrie lantas meminta Sutrimo untuk tetap bekerja di rumahnya.

Saat pandemi Covid-19, Sutrimo disebut sempat pulang ke Banyumas selama dua tahun dan bekerja serabutan. Namun, ia kemudian dipanggil lagi oleh Febrie untuk kembali bekerja di rumahnya.

“Kata keluarga, pekerjaan Pak Sutrimo macam-macam. Kadang-kadang disuruh mengerjakan proyek. Kalau enggak, ya mengurusi rumah Pak Febrie. Misalnya, membetulkan apa, disuruh membayar listrik, bayar apa. Jadi salah satu kepercayaan Pak Febrie-lah,” kata Aan.

Sepengetahuan keluarga, Sutrimo bekerja bersama beberapa orang di rumah Febrie. Saat kasus yang menjerat Febrie mulai mencuat, Sutrimo dan para pekerja lain di rumah Febrie diminta pulang kampung. Sutrimo pun pulang ke Banyumas.

Baru beberapa hari berada di rumah, Sutrimo sudah ditelepon oleh Febrie. Ia diminta kembali karena Febrie mengaku tidak punya teman berbagi cerita.

Awalnya, Sutrimo mengatakan bahwa dirinya tidak memiliki ongkos untuk kembali ke Jakarta. Namun, Febrie disebut kemudian mentransfer sejumlah uang dan membelikan tiket kereta api untuk Sutrimo. Kala itu, Febrie juga mengatakan bahwa Sutrimo akan dikawal oleh dua orang dari Stasiun Purwokerto, Banyumas, hingga ke rumah Febrie di Jakarta.

Sejak kembali ke rumah Febrie, komunikasi antara Sutrimo dan keluarganya di Banyumas disebut berjalan lancar. Sutrimo tergolong cukup dekat dengan adik ataupun adik iparnya. Setidaknya sekali sehari, Sutrimo yang sudah berpisah dengan istrinya itu melakukan panggilan telepon dengan adiknya karena ingin memantau tumbuh kembang keponakannya.

Dalam berbagai kesempatan, Sutrimo juga disebut mengirimkan foto-foto aktivitasnya di Jakarta. Hingga hari-hari terakhir kehidupannya, Sutrimo tidak pernah mengeluhkan sakit kepada keluarga. Bahkan, pada hari ia meninggal, Sutrimo masih mengirimkan foto makanan kepada adiknya.

”Di hari kematiannya, sekitar jam 03.18 WIB Pak Sutrimo sempat kirim foto makanan. Isinya nasi ayam goreng, sama lalapan pakai piring hijau. Terus di sekitar jam 04.00, dia kirim foto lagi duduk di seberang rumah Pak Febrie. Jam 06.00, adiknya kan bangun, jadi dia membalas pesan Pak Sutrimo. Tapi pesan itu hanya dibaca, tidak dibalas,” kata Aan.

Dua jam kemudian, sekitar pukul 08.00 WIB, nomor Sutrimo menelepon nomor adiknya berkali-kali, tetapi tidak sempat diangkat. Sekitar pukul 08.30 WIB, telepon tersebut baru diangkat. Saat itu, penelepon mengabarkan bahwa Sutrimo meninggal dunia karena kadar gula darahnya tinggi, yakni mencapai 600. Namun, penelepon tidak menjelaskan kronologi hingga Sutrimo meninggal dunia.

Jenazah Sutrimo tiba di Banyumas sekitar pukul 22.00 WIB pada hari yang sama. Saat tiba, jenazah sudah dimandikan dan dikafani sehingga keluarga tidak bisa memeriksa lebih lanjut kondisi jenazah Sutrimo secara utuh.

Keluarga baru menemukan sejumlah kejanggalan beberapa hari setelah Sutrimo dimakamkan. Pertama, beredar informasi mengenai kondisi mulut dan hidung Sutrimo yang berbusa saat pertama kali ditemukan. Padahal, beberapa jam sebelumnya, Sutrimo masih dalam kondisi sehat dan tidak mengeluhkan sakit apa pun kepada keluarga.

Kejanggalan berikutnya adalah tidak lengkapnya surat keterangan dari rumah sakit yang disampaikan kepada keluarga saat jenazah diantarkan, Kamis (23/7/2026). Hal itu membuat keluarga tidak mengetahui secara jelas kronologi meninggalnya Sutrimo.

“Enggak ada surat-surat keterangan dari rumah sakit, tidak lengkap. Terus kemarin saya akhirnya dikirimi formulir kronologisnya, kaget saya. Dan, memang dokumen itu tidak pernah disampaikan ke keluarga. Jadi, pengantar jenazah dengan sadar menghilangkan satu dokumen, yaitu formulir kronologis,” ucap Aan.

Kejanggalan lain yang dirasakan keluarga adalah belum dikembalikannya barang-barang pribadi milik Sutrimo hingga saat ini. Barang-barang tersebut antara lain ponsel dan dompet Sutrimo.

Pada Kamis malam, jenazah Sutrimo diantar pulang oleh empat orang. Dua di antaranya merupakan petugas mobil jenazah, sedangkan dua orang lainnya mengaku sebagai teman kerja Sutrimo di rumah Febrie. Kepada keempat orang tersebut, keluarga sempat menanyakan barang-barang pribadi Sutrimo. Mereka mengatakan barang-barang itu akan segera dikirimkan.

Keluarga Sutrimo sempat meminta nomor telepon salah seorang teman kerja Sutrimo untuk berkoordinasi lebih lanjut mengenai pengembalian barang-barang tersebut. Meski sempat aktif selama beberapa hari, nomor itu kemudian tidak aktif hingga saat ini.

Ratusan

Dihubungi terpisah, Kepala Polresta Banyumas Komisaris Besar Petrus P Silalahi mengatakan, pada Rabu, Polresta Banyumas dilibatkan untuk menjaga keamanan sebelum, selama, dan sesudah proses ekshumasi. Sebanyak 183 personel dikerahkan dalam kegiatan tersebut.

Ratusan polisi itu diterjunkan untuk menjaga kelancaran dan keamanan proses ekshumasi. Selain disiagakan di sekitar makam, para personel juga diminta berjaga di sepanjang rute menuju makam di Desa Wlahar.

“Pengamanan di rute-rute yang dimungkinkan menjadi akses masuk dan keluar supaya tidak terganggu proses ekshumasinya, supaya lancar (lalu lintasnya),” kata Petrus saat dihubungi, Rabu.

Baca JugaKeluarga Minta Usut Kematian Sutrimo, Polisi Jaga Makam Jelang Ekshumasi

Selain menjaga keamanan rute dan makam, sejumlah personel juga disebut Petrus disiagakan untuk menjaga rumah dan keluarga Sutrimo. Petrus tidak menyebut secara pasti sampai kapan pengamanan terhadap rumah dan keluarga Sutrimo dilakukan. Yang jelas, hingga kini, pengamanan melekat masih terus dilakukan oleh personel kepolisian.

“Pengamanan melekat kami lakukan kepada keluarga Pak S. (Pengawalan dilakukan) sejak melapor ke Polresta Banyumas Sabtu (8/8/2026),” ucap Petrus.

Tak hanya itu, Petrus menambahkan, penjagaan oleh personel kepolisian juga dilakukan terhadap makam Sutrimo. Menurut Petrus, hal itu dilakukan sebagai bagian dari pengamanan barang bukti.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jambore Nasional Pramuka 2026 Dimulai Besok, Ini Tema dan Logonya
• 8 jam lalukompas.tv
thumb
FIFA Beri Jalan, John Herdman Bisa Panggil Pemain Naturalisasi Baru ke Timnas Indonesia di ASEAN Cup 2026
• 20 jam lalutvonenews.com
thumb
Begini Tanggapan Nusron Wahid Soal Isu Reshuffle Usai 17 Agustus
• 21 jam laluidxchannel.com
thumb
HUT RI Ke-81, DPC Gerindra Surabaya Anjangsana Janda Veteran di Sawahan dan Genteng
• 23 jam laluberitajatim.com
thumb
Ini Tampang Pelaku Pembunuhan dan Pemerkosaan Perempuan di Tangerang
• 20 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.