Peringatan Hari Gajah Sedunia pada 12 Agustus tahun ini diwarnai kabar kematian anak gajah sumatra betina bernama Yuna. Anak gajah berusia di bawah tiga tahun itu mati di Pusat Pelatihan Gajah (PLG) Saree, Aceh, pada Selasa (11/8), sehari sebelum peringatan Hari Gajah Sedunia.
Gajah Yuna diduga mati akibat serangan elephant endotheliotropic herpesvirus (EEHV), jenis virus mematikan yang sangat rentan menyerang gajah berusia di bawah 14 tahun.
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh Ujang Wisnu Barata menjelaskan, dua hari sebelum insiden ini, tidak ditemukan indikasi gejala penyakit maupun penurunan kondisi fisik pada Yuna. “Kondisi Yuna drop sangat cepat,” kata Ujang, sebagaimana dikutip dari keterangan resmi pada Rabu (12/8).
Serangan EEHV dapat merusak lapisan dalam pembuluh darah, serta menyebabkan kebocoran darah dan cairan tubuh ke organ dalam. Kondisi tersebut dapat memicu syok fatal hingga kematian mendadak dalam kurun waktu 24-48 jam. Tingkat kematian akibat paparan virus ini bahkan mencapai 80%.
Ujang mengatakan, penularan virus ini dapat terjadi melalui sekresi atau lendir yang keluar melalui belalai, air liur, maupun feses. Virus yang sama pernah menjangkit Intan, anak gajah berusia 4 tahun di Conservation Response Unit (CRU) Trumon, Aceh Selatan, pada 2021 .
Ujang menjelaskan, pada Selasa (11/8) pagi hingga siang hari, Yuna masih terpantau aktif beraktivitas seperti biasa. Namun, pada pukul 16.00 WIB, mahout (pawang gajah) mendapati Yuna dalam kondisi lemas, wajah membengkak, mata membengkak dan memerah, serta lidah pucat membiru.
Tim dokter hewan BKSDA Aceh bersama mahout kemudian segera memberikan tindakan medis darurat, berupa pemberian cairan infus dan multivitamin. Akan tetapi, kondisi anak gajah itu kian menurun drastis, hingga membuat nyawanya tidak tertolong.
Setelah dinyatakan mati pada pukul 20.48 WIB, tim medis melakukan prosedur nekropsi dan dilanjutkan proses pemakaman. “Untuk mempertegas penyebab pasti berpulangnya Yuna, kami telah mengambil sampel organ guna pengujian laboratorium lebih lanjut,” ujar Ujang.
Padahal sebelumnya, kata dia, kondisi kesehatan Yuna dipantau setiap hari dan dievaluasi per tiga bulan. Hasil pemeriksaan medis terakhir pada Juni 2026, memperlihatkan kondisi Yuna yang sehat, dengan Body Condition Index Score (BCIS) 5,5. Sebagai informasi, skala ideal BCIS untuk gajah jinak berkisar antara 5-7.
Untuk mendeteksi dini keberadaan virus pada anak gajah lainnya, BKSDA Aceh akan memperketat pemantauan dan melakukan uji medis. “Khususnya untuk gajah Gerry, Yuyun, dan Dilan, guna mengantisipasi serta meminimalkan potensi penyebaran virus,” ucapnya.
Kematian Gajah di Tengah Kebun SawitKatadata.co.id mencatat, kematian Yuna merupakan kematian kedua gajah Sumatra bulan ini. Pekan lalu, satu individu gajah sumatra ditemukan mati di tengah areal perkebunan sawit PT MPLI, di Desa Kaloy, Aceh Tamiang. Gajah jantan itu diduga mati akibat keracunan.
Bangkai gajah tersebut ditemukan pada Minggu (9/8), namun berdasarkan pemeriksaan awal, gajah sudah mati sekitar tiga hari sebelum ditemukan. Beberapa sampel organ pun telah diambil oleh tim medis untuk pemeriksaan lebih lanjut melalui uji laboratorium.
Ujang menjelaskan, saat ditemukan, gading gajah dalam kondisi utuh dan tidak ada luka di bagian tubuhnya. Juga, tidak ditemukan alat atau benda mencurigakan di sekitar lokasi bangkai gajah.
Usai olah TKP dan nekropsi tersebut, bangkai gajah segera dikuburkan di areal perkebunan PT MPLI.
Hari Gajah SeduniaMengutip laman resmi Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan, Hari Gajah Sedunia diperingati pada 12 Agustus setiap tahun. Tujuannya, untuk meningkatkan kesadaran global mengenai konservasi gajah.
Pasalnya, satwa yang tergolong critically endangered atau sangat terancam punah ini masih menghadapi berbagai ancaman, seperti perburuan liar, hilangnya habitat, serta perdagangan ilegal. Harapannya, peringatan ini dapat menggugah masyarakat untuk terlibat aktif dalam melindungi gajah dan ekosistemnya.
Peringatan ini dimulai pada 2012, diinisiasi oleh pegiat konservasi asal Kanada Patricia Sims dan Yayasan Reintroduksi Gajah dari Thailand. Sejak saat itu, Hari Gajah Sedunia menjadi gerakan yang melibatkan berbagai organisasi konservasi serta masyarakat di berbagai negara.




