Bitcoin Tersungkur di Bawah USD64.000, Pasar Kripto Masih Wait and See Jelang CPI AS

medcom.id
3 jam lalu
Cover Berita
Jakarta: Bitcoin (BTC) kembali tertekan. Harga aset kripto terbesar ini tergelincir di bawah level USD64.000, setelah sebelumnya masih bertahan di sekitar USD65.000.
 
Pergerakan Bitcoin kali ini dibayangi beberapa sentimen sekaligus, mulai dari memanasnya ketegangan geopolitik di Selat Hormuz, kenaikan harga minyak, hingga pasar yang memilih wait and see menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) pada Rabu (12/8/2026).
 
Data Consumer Price Index (CPI) AS diproyeksikan melandai tipis menjadi 3,4% secara tahunan (YoY) dari 3,5% pada Juni. Jika sesuai ekspektasi, angka tersebut akan melanjutkan tren pendinginan inflasi yang sudah terlihat sejak Mei.
  Baca juga: Panduan Lengkap Investasi Bitcoin untuk Pemula di Indonesia 2026   
Namun, pasar kripto juga mendapat tekanan dari sisi regulasi. Voting Digital Asset Market Clarity Act (CLARITY Act) di Senat AS ditunda hingga September 2026. Penundaan ini membuat investor kembali mengambil posisi lebih hati-hati.

Sentimen geopolitik juga ikut bikin pasar makin tegang. Iran mengancam akan menutup Selat Hormuz hingga 2029, kecuali AS mencabut blokade navalnya. Eskalasi ini langsung menjadi perhatian pasar karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur penting bagi distribusi energi global.
 
Risiko gangguan pasokan tersebut ikut mendorong harga minyak naik. WTI kini berada di kisaran USD83,75 per barel dan berpotensi kembali menguat menuju USD91,50 jika ketegangan geopolitik semakin panas.
 
Kondisi ini menjadi tantangan bagi pasar finansial. Harga minyak yang lebih tinggi berpotensi meningkatkan tekanan inflasi, sementara investor masih menunggu data CPI AS untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed.
 
"Pasar saat ini masih cenderung wait and see. Investor akan mencermati data inflasi AS karena hasilnya bisa menjadi katalis penting bagi pergerakan aset berisiko, termasuk Bitcoin," ujar Panji Yudha, Financial Expert Ajaib. Strategy Mulai Ubah Strategi Pendanaan Di tengah Bitcoin yang masih volatile, Strategy juga menunjukkan perubahan dalam strategi pendanaan setelah menjual 1.690 BTC pada pekan lalu, perusahaan membeli kembali 1.152.020 saham preferen STRC. Strategy juga menghimpun sekitar USD653,1 juta melalui penjualan 6,59 juta saham MSTR.
 
Langkah tersebut membuat cadangan dolar AS Strategy meningkat menjadi sekitar USD4,65 miliar. Sementara itu, total kepemilikan Bitcoin Strategy kini berada di 840.447 BTC, dengan total biaya akumulasi mencapai sekitar USD63,36 miliar atau rata-rata USD75.385 per BTC.
 
Strategy masih memiliki sekitar USD785,2 juta yang dialokasikan untuk buyback saham preferen dan sekitar USD1 miliar untuk buyback saham MSTR ke depan.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(SAW)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Penjualan Domestik Terus Turun, Produsen Mobil China Makin Fokus Ekspor
• 8 jam laluidxchannel.com
thumb
Terobosan Hanura Buat Calegnya di Pemilu 2029, Elektabilitas dan Keterpilihan Bakal Dipantau
• 4 jam laluviva.co.id
thumb
Investor Asing Masuk ke Jalan Tol RI, Nilainya Tembus Rp 36 T
• 4 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Tes Kepribadian: Gambar Pilar atau Pria yang Pertama Kamu Lihat? Ini Maknanya!
• 1 jam lalubeautynesia.id
thumb
Presiden Hebat Sebelumnya Tak Ada Artinya Dibanding Jokowi
• 2 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.