Tsunami Kebangkrutan, 1.000 Perusahaan Jepang Gulung Tikar

cnbcindonesia.com
14 jam lalu
Cover Berita
Foto: Bendera Jepang. (Dok. Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Jumlah kebangkrutan di Jepang kembali meningkat, menimbulkan kekhawatiran akan "tsunami" pemutusan hubungan kerja (PHK). Bahkan angkanya naik 6,9% dibandingkan setahun sebelumnya pada Juli 2026, menjadi 1.028 kasus.

Ini merupakan kedua kali berturut-turut angka kebangkrutan mencapai 1.000, seiring kekurangan tenaga kerja dan kenaikan harga yang terus menekan perusahaan-perusahaan kecil Jepang. Total kewajiban perusahaan yang bangkrut melonjak 41,4% menjadi 236,3 miliar yen (sekitar Rp 26,9 triliun).


Baca: Media Asing Sorot Calon Bos BI Destry Damayanti, Sebut Ini

Mengutip Japan Times, Rabu (12/8/2026), angka ini merujuk riset terbaru Tokyo Shoko Research. Kenaikan tersebut terutama dipicu kebangkrutan Zentoshin, perusahaan penyedia sistem transaksi kartu kredit yang berbasis di Osaka.

Perusahaan mengajukan kebangkrutan pada Juli dengan total kewajiban mencapai 115,16 miliar yen. Menurut perusahaan riset kredit korporasi Teikoku Databank Ltd., kebangkrutan tersebut kemungkinan menjadi yang terbesar di Jepang sepanjang tahun ini.

Baca: Prabowo-Xi Jinping Satukan Kekuatan, Kapal Militer Siap Diterjunkan

Kebangkrutan yang disebabkan oleh kekurangan tenaga kerja mencapai rekor 63 kasus, termasuk 36 kasus yang dipicu oleh kenaikan biaya tenaga kerja. Jumlah tersebut dua kali lipat dibandingkan setahun sebelumnya.

"Kenaikan upah tidak dapat dihindari untuk mendapatkan pekerja, tetapi perusahaan justru memperburuk arus kas mereka dengan menaikkan upah di luar kemampuan ketika tidak mampu menghasilkan pendapatan yang cukup," kata seorang pejabat perusahaan riset tersebut.

Baca: Breaking: Timteng Panas Lagi, AS-Houthi Serang Kapal-Kapal

Sementara itu, kebangkrutan yang disebabkan oleh kenaikan harga mencapai 93 kasus, tertinggi sejak 2022. Pelemahan yen turut meningkatkan biaya material dan bahan baku. Berdasarkan sektor industri, jumlah kebangkrutan meningkat dibandingkan tahun sebelumnya di tujuh dari 10 sektor, termasuk konstruksi, ritel, dan transportasi.

Sektor informasi dan komunikasi mencatat lonjakan kebangkrutan sebesar 62,5%. Di dalamnya termasuk perusahaan-perusahaan perangkat lunak yang terdampak semakin luasnya penggunaan kecerdasan buatan (AI).

Sektor jasa mencatat jumlah kebangkrutan terbanyak, yakni 342 kasus. Sementara itu, perusahaan kecil dengan total kewajiban kurang dari 100 juta yen menyumbang hampir 80% dari seluruh kasus kebangkrutan.

Baca: Breaking: Kim Jong Un Ngamuk, Korut Tembak Rudal ke Laut Jepang

(sef/sef)
Saksikan video di bawah ini:
Video: Serapan Tenaga Kerja di Semester I 2026 Tembus 1,45 Juta Orang

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jelang Muktamar NU, Kiai Asep: Jangan Ada Udang di Balik Batu dan Politik Uang
• 18 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Peringatan Dini Bencana di Indonesia Harus Berujung Aksi, Ini Pelajaran BRIN dari China
• 12 jam lalukompas.tv
thumb
Apakah 18 Agustus Cuti Bersama? Simak Ketentuannya
• 2 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Asal-Usul Hadirnya Lomba 17 Agustus untuk Rayakan Hari Kemerdekaan RI
• 6 jam lalubeautynesia.id
thumb
Jokowi soal Praperadilan dr Tifa: Kalau Yakin Ijazah 100% Palsu, Buktikan
• 6 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.