Jatuhnya bekas roket Falcon 9 milik SpaceX di Bulan menambah panjang daftar bangkai teknologi manusia yang sengaja maupun tidak sengaja dibuang ke Bulan.
Sejak eksplorasi Bulan dimulai hampir 70 tahun lalu, Bulan telah dipenuhi oleh puing-puing logam dari berbagai misi manusia ke Bulan yang meleset dari sasaran, jatuh terlalu cepat, atau memang sengaja dibuang ke Bulan.
Bekas roket bagian atas Falcon 9 itu menumbuk permukaan Bulan pada Rabu (5/8/2026). Lokasi jatuhnya di dekat Kawah Einstein yang ada di belahan utara Bulan, di bagian Bulan yang menghadap Bumi, dan di perbatasan antara bagian Bulan yang mengalami siang dan malam. Tumbukan itu diperkirakan menghasilkan kawah baru berdiameter 27 meter dan kedalaman 5 meter.
Sebelumnya, roket Falcon 9 itu dipakai untuk meluncurkan dua wahana pendarat swasta di Bulan, Blue Ghost milik Firefly Aerospace dari Amerika Serikat dan Resilience milik ispace dari Jepang.
Setelah mengirimkan kedua wahana itu, roket bagian atas Falcon 9 itu ditempatkan di titik tertentu di orbit tinggi Bumi yang memiliki ketinggian lebih 35.786 kilometer dan beririsan dengan orbit Bulan.
Semula, penempatan sampah antariksa itu dianggap sudah aman dan memenuhi hukum antariksa. Nyatanya, manuver itu tidak stabil. Aktivitas Matahari dan tarikan gravitasi akhirnya mendorong bekas roket itu menuju Bulan dan akhirnya jatuh menubruk permukaan Bulan.
Bekas roket itu akan bertahan beberapa waktu sampai pelapukan akan menghancurkannya dengan proses yang berbeda dengan pelapukan di Bumi.
Roket bagian atas Falcon 9 itu bukanlah teknologi manusia pertama yang akhirnya terkubur di Bulan. Misi pertama manusia menuju Bulan, Luna 1 milik Uni Soviet, sebenarnya dirancang untuk menabrak Bulan.
Namun kegagalan manuver, seperti ditulis Space.com, Kamis (6/8), akhirnya membuat wahana antariksa itu meleset dan melewati target. Ujungnya, Luna 1 justru memasuki orbit Matahari dan mengelilingi pusat Tata Surya sejak 2 januari 1959.
Sembilan bulan (month) kemudian, impian menempatkan teknologi manusia di tanah Bulan (moon) pun berhasil. Luna 2 menjadi obyek pertama buatan manusia yang sampai ke Bulan.
Wahana antariksa itu sengaja ditubrukkan ke tanah Bulan di wilayah Sinus Lunicus atau Teluk Lunik, di tepi Mare Imbrium, pada 14 September 1959. Mare Imbrium adalah dataran gelap alias kawah raksasa berdiameter 1.145 km yang ada di belahan utara Bulan dan di sisi Bulan yang menghadap Bumi.
Di era awal penerbangan manusia ke Bulan, berbagai satelit yang diterbangkan ke Bulan akan ditabrakkan ke Bulan saat misinya berakhir. Cara itu merupakan strategi yang efektif untuk menguji wahana maupun pengumpulan berbagai data ilmiah.
Jejak Uni Soviet itu diikuti AS. Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional AS (NASA) mengirimkan wahana Ranger 4 yang ditabrakkan ke sisi belakang atau sisi jauh Bulan pada 26 April 1962. Sisi belakang Bulan adalah bagian yang tidak pernah bisa dilihat manusia secara langsung dari Bumi.
Misi ini mengirimkan dua jenis wahana sekaligus, yaitu wahana penabrak dan wahana pendarat, tetapi keduanya gagal beroperasi akibat panel surya wahana tidak bisa mengembang.
Di era awal penerbangan manusia ke Bulan, berbagai satelit yang diterbangkan ke Bulan akan ditabrakkan ke Bulan saat misinya berakhir. Cara itu merupakan strategi yang efektif untuk menguji wahana maupun pengumpulan berbagai data ilmiah.
Menubrukkan wahana merupakan cara yang lebih mudah dalam mendaratkan wahana di Bulan dibanding menjadikan wahana tersebut sebagai wahana pengorbit.
Untuk menjadi wahana pengorbit, manusia membutuhkan teknologi yang mampu memperlambat laju jatuh satelit sehingga satelit senantiasa berada pada ketinggian tertentu dan terus mengorbit Bulan.
Ketika NASA meluncurkan misi Apollo pada 1967-1972, ilmuwan dan perekayasa menemukan alasan lain untuk menabrakkan wahana yang telah selesai misi ke Bulan.
Tumbukan yang terjadi akan menghasilkan getaran tanah Bulan yang dapat dimanfaatkan untuk mengukur kekuatan ‘gempa Bulan’ yang dihasilkan serta untuk mengetahui struktur maupun susunan lapisan batuan di bawah kerak Bulan.
Setelah misi Apollo usai yang disertai kesuksesan AS mendaratkan manusia di Bulan dalam enam misi pada 1969-1972, misi ke Bulan pun melambat. Otomatos intensitas benturan yang terjadi di permukaan Bulan pun menurun.
Di awal dekade 1990an, hasrat manusia untuk kembali ke Bulan pun tumbuh. Namun usai bubarnya Uni Soviet, makin banyak negara menunjukkan ketertarikannya untuk mengeksplorasi Bulan dengan AS dan China menjadi yang dominan.
Sejak tahun 1993 hingga sebelum jatuhnya bekas roket Falcon 9 milik SpaceX pekan lalu, tercatat ada 11 wahana yang coba dibuang atau dijatuhkan ke Bulan saat misi mereka selesai.
Dari jumlah itu, empat wahana milik China, tiga dari Jepang, dua AS, dan masing-masing satu dari India dan Uni Eropa. Wahana yang sengaja dibuang ke Bulan itu berbeda dengan wahana yang memang ditujukan untuk mendarat dengan lembut di Bulan atau wahana yang jatuh selama proses pendaratan.
Wahana yang ditabrakkan ke Bulan tanpa disengaja, seperti bagian atas roket Falcon 9 ini, intensitasnya jauh lebih sedikit.
Dalam beberapa kasus, penabrakan bekas satelit itu ke Bulan merupakan hal yang disengaja. Namun pada beberapa kasus lain, penabrakannya ke Bulan sengaja dilakukan untuk mengecek keberadaan es cair di Bulan dengan memeriksa hamburan tanah yang terlontar ke atas.
Model pembuangan satelit ini di antaranya dilakukan pada wahana Lunar Prospector milik NASA pada 1999, Lunar Crater Observation and Sensing Satellite (LCROSS) asal AS pada 2009, dan Chandrayaan-1 asal India pada 2009.
Sementara wahana yang ditabrakkan ke Bulan tanpa disengaja, seperti bagian atas roket Falcon 9 ini, intensitasnya jauh lebih sedikit.
Model tabrakan teknologi Bumi ke Bulan seperti ini juga pernah dialami badan roket Long March 3C milik China pada Maret 2022. Roket ini digunakan untuk meluncurkan misi Chang’e 5-TI mengelilingi Bulan pada 2014 atau delapan tahun sebelumnya.
Tanpa adanya populasi manusia di Bulan, maka risiko membuang atau menabrakkan bekas teknologi manusia ke Bulan sangatlah kecil, baik yang disengaja maupun tidak disengaja.
Namun seiring meningkatnya aktivitas manusia di Bulan, seperti pembangunan sejumlah fasilitas berkelanjutan untuk mendukung kolonisasi manusia di Bulan hingga rencana penambangan di Bulan, maka risiko pembuangan sampah antariksa ke Bulan akan semakin meningkat.
Administrator NASA Jared Isaacman mengatakan pangkalan Bulan di masa depan akan menggabungkan beberapa infrastruktur canggih, seperti wahana antariksa yang dapat digunakan kembali untuk mengantarkan antariksawan dan muatan kargo serta sejumlah sarana riset maupun operasonal di Bulan.
Untuk mengurangi sampah antariksa, maka penggunaan wahana yang bisa dipakai kembali mendesak untuk dilakukan.
Berbagai aktivitas manusia di permukaan Bulan itu membutuhkan dukungan konstelasi satelit Bulan untuk penentuan posisi, navigasi, dan komunikasi. Karena itu, jumlah satelit yang mengorbit Bulan diperkirakan akan melonjak dalam beberapa tahun mendatang.
Saat satelit itu selesai bertugas, maka pilihan praktisnya adalah menabrakkan bekas satelit itu ke tanah Bulan daripada membiarkannya menjadi sampah antariksa yang berisiko mengganggu satelit aktif.
Masalahnya, seperti disampaikan peneliti senior Universitas Durham Inggris kepada The Guardian, 22 Desember 2025, jatuhnya sampah antariksa di permukaan Bulan berisiko menyebarkan puing-puing maupun serpihan satelit di Bulan.
Dalam dua dekade mendatang, diperkirakan sudah ada lebih 400 misi ke Bulan yang sudah direncanakan.
Kondisi itu bisa memicu kerusakan bangunan, instrumen ilmiah, situs-situs alami bernilai ilmiah tinggi di Bulan, hingga situs bersejarah peninggalan manusia seperti jejak kaki manusia pertama di Bulan.
Dengan kecepatan puing-puing antariksa itu sekitar 2 km per detik, tumbukan yang dihasilkan cukup untuk menghasilkan getaran hebat yang menganggu berbagai instrumen sensitif di Bulan.
Selain itu, tumbukan yang terjadi akan akan menghasilkan kawah dengan diameter puluhan meter dan menghasilkan ‘gumpalan awan’ debu abrasif yang sangat besar hingga menghalangi pandangan teleskop landas Bulan dan memicu kerusakan berbagai peralatan.
“Ini memang bukan masalah yang mendesak mengingat luasnya permukaan Bulan. Namun dengan semakin banyaknya satelit yang mengorbit Bulan, maka semakin besar pula kemungkinan beberapa satelit di antaranya akan menabrak tempat yang sensitif secara ilmiah maupun budaya,” tambah Profesor Ian Crawford, dari Birkbeck Univeristas London.
Dalam dua dekade mendatang, diperkirakan sudah ada lebih 400 misi ke Bulan yang sudah direncanakan. Misi itu antara lain Lunar Gateway alias stasiun luar angkasa yang mengorbit Bulan dan pangkalan Artemis di dekat kutub selatan Bulan yang akan dibangun NASA. Selain itu, China dan Rusia juga berencana membangun pangkalan di Bulan, juga di sekitar kutub selatan Bulan.
Sementara Badan Antariksa Eropa (ESA) berencana meluncurkan satelit Lunar Pathfinder pada akhir 2026. Ini adalah wahana uji pembangunan konstelasi satelit Moonlight di Bulan yang ditarget beroperasi tahun 2030. Satelit ini direncanakan beroperasi selama delapan tahun.
Setelah selesai, ada tiga opsi pembuangan yang akan dilakukan yaitu satelit diterbangkan tinggi hingga mengorbit Matahari dengan risiko biaya mahal, dipindahkan ke orbit Bulan yang lebih jauh walau sulit karena gravitasi Bulan tidak merata, dan ditabrakkan permukaan Bulan yang butuh rencana cermat.
Kepala Kantor Regulasi Badan Antariksa Inggris (UKSA) Sarah Boyall mengatakan Tim Aksi PBB tentang Konsultasi Aktivitas Bulan (ATLAC) dan Komite Koordinasi Antar-Lembaga tentang Puing-puing Antariksa (IADC) saat ini sedang menetapkan cara terbaik untuk pembuangan satelit di Bulan.
Pembangunan zona ‘pemakaman’ satelit Bumi di Bulan adalah solusi paling praktis.
Salah satu rancangan utamanya adalah menciptakan ‘kuburan’ wahana antariksa di Bulan dan operator satelit diharuskan menjatuhkan satelit tuanya di tempat tersebut. Kuburan bangkai satelit itu bisa berupa kawah raksasa yang mampu menampung debu-debu yang terlempar akibat benturan hingga tidak menganggu peralatan ilmiah yang ada.
Manajer proyek senior Lunar Pathfinder di Surrey Satellite Technology Ltd (SSTL) di Surrey, Inggris Ben Hooper mengatakan pembangunan zona ‘pemakaman’ satelit Bumi di Bulan adalah solusi paling praktis.
Dengan menetapkan wilayah tertentu sebagai zona terdampak akibat sampah antariksa akan membatasi penyebaran artefak manusia di permukaan Bulan dan melestarikan wilayah lain di Bulan untuk eksplorasi ilmiah masa depan.
Jika di Bumi ada Point Nemo, titik di selatan Samudera Pasifik yang jauh dari populasi manusia, untuk membuat sampah antariksa di orbit rendah Bumi, maka Bulan sudah pula disiapkan untuk menjadi pembuangan teknologi manusia dari orbit tinggi Bumi.
Di mana-mana, manusia selalu menghasilkan sampah dan senantiasa dipusingkan bagaimana mengelola dan menanganinya.





