Pesan tersebut mengemuka dalam Indonesia Human Capital and Beyond Summit (IHCBS) 2026 yang mendorong perubahan paradigma pengelolaan SDM dari sekadar human resources menjadi human capital. SDM dipandang sebagai modal utama yang menentukan kemampuan Indonesia menghadapi perubahan teknologi dan meningkatkan produktivitas.
Baca juga: Talenta Cybersecurity Jadi Kunci Keamanan Hadapi Besarnya Ekonomi Digital Indonesia
Chairman of Steering Committee GNIK, Yunus Triyonggo, mengatakan tantangan tersebut semakin penting karena produktivitas tenaga kerja Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara-negara ASEAN.
“Kalau dibandingkan Malaysia, satu jam pekerja kita di Indonesia menghasilkan 13–15 dolar AS. Malaysia sudah 26–27 dolar AS,” ujar Yunus dalam Media Day IHCBS 2026 di Wayang Bistro, Jakarta, Rabu (12/8/2026).
Menurut Yunus, kondisi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kualitas SDM tidak cukup hanya mengandalkan pendidikan formal maupun pelatihan konvensional. Tenaga kerja perlu memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan teknologi, menciptakan nilai tambah, dan meningkatkan produktivitas.
“BEYOND berarti kita melihat human capital tidak hanya sebagai human resources, tetapi sebagai potensi bangsa untuk meningkatkan produktivitas,” katanya. Bukan Melawan AI, tetapi Beradaptasi Kemajuan AI menghadirkan perubahan besar di dunia kerja. Teknologi seperti AI assistant, augmented AI, hingga agentic AI mulai berkembang dan berpotensi mengubah berbagai jenis pekerjaan.
Dalam kondisi tersebut, SDM tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi. Pekerja perlu memahami bagaimana AI dapat digunakan untuk mempercepat pekerjaan, meningkatkan kualitas pengambilan keputusan, serta menciptakan cara kerja baru yang lebih produktif.
Founder and CEO GML serta Founder QuBisa, Suwardi Luis, mengatakan penerapan AI harus tetap berpusat pada manusia.
IHCBS 2026 mengusung tema Harnessing Human-Centric AI and Digitalization to Unlock Next-Level Productivity, yang menempatkan AI dan digitalisasi sebagai instrumen untuk meningkatkan kapasitas manusia, bukan semata-mata menggantikannya.
“AI dan digitalisasi harus berorientasi dan digawangi dengan human capital capability,” katanya.
Menurut Suwardi, terdapat tiga elemen yang harus berjalan bersama dalam menghadapi perubahan teknologi, yakni people, technology, dan purpose. Artinya, kemampuan manusia harus berkembang seiring teknologi dan diarahkan untuk mencapai tujuan yang memberikan nilai tambah.
Karena itu, pekerja perlu membangun kebiasaan upskilling dan reskilling. Kemampuan teknis harus dilengkapi dengan keterampilan yang sulit digantikan mesin, seperti kreativitas, kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, kepemimpinan, serta kemampuan memecahkan masalah.
Yunus menilai perubahan teknologi juga membuat kebutuhan terhadap upskilling, reskilling, dan link and match semakin mendesak. Menurut dia, pendidikan dan dunia industri perlu semakin terhubung agar kompetensi lulusan SMK, politeknik, dan perguruan tinggi sesuai dengan kebutuhan dunia kerja yang terus berubah.
IHCBS 2026 sendiri diarahkan bukan hanya sebagai forum diskusi, tetapi sebagai gerakan yang menghasilkan aksi nyata. Agenda tersebut dikaitkan dengan blueprint pembangunan SDM yang berfokus pada employability dan entrepreneurial capability.
“Target kita tidak hanya aktivitas, tetapi ada output dan outcome. Setelah acara ini harus ada gerakan-gerakan yang bisa dirasakan,” kata Suwardi.
Selama dua tahun penyelenggaraan sebelumnya, IHCBS diklaim telah menjangkau sekitar 300.000 SDM di Indonesia melalui berbagai program pengembangan kompetensi, termasuk pelatihan AI gratis bagi lebih dari 20.000 orang.
Tahun ini, IHCBS juga menyiapkan buku sebagai salah satu bentuk legacy. Materi dan gagasan dari forum akan dirangkum dengan bantuan AI sebelum diverifikasi oleh para ahli. Menghadapi era AI, kemampuan menggunakan teknologi menjadi salah satu modal penting. Namun, kemampuan manusia tetap menjadi pembeda.
SDM yang mampu menggabungkan keahlian di bidangnya dengan pemanfaatan AI akan memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan produktivitas. Sebaliknya, pekerja yang tidak mengikuti perkembangan teknologi berisiko semakin tertinggal. Jaga Produktiivitas Associate Director Marketing & Sales Mayapada Hospital Group, Michelle C. Tjindarbumi, mengatakan produktivitas SDM tidak terlepas dari kondisi fisik dan mental. Karena itu, pemanfaatan teknologi di bidang kesehatan juga menjadi bagian dari upaya menjaga produktivitas tenaga kerja.
“Kami ingin menjadi partner bagi corporate dan human capital, bukan hanya kuratif, tetapi juga preventif dan dengan AI bisa predictive, supaya produktivitas tetap terjaga,” ujarnya.
Sementara itu, GM Business Support International Test Center, Yeni Widiyasari, menilai kemampuan bahasa Inggris tetap menjadi kompetensi penting di tengah perkembangan AI.
Menurut dia, kemampuan berbahasa Inggris dan sertifikasi berstandar internasional tetap diperlukan agar tenaga kerja mampu beradaptasi dengan teknologi sekaligus bersaing dalam lingkungan kerja global.
Pada akhirnya, menghadapi era AI bukan hanya persoalan menguasai perangkat atau aplikasi baru. SDM Indonesia perlu memiliki pola pikir adaptif, terus belajar, mampu bekerja bersama teknologi, dan tetap mengembangkan kemampuan manusia yang menjadi keunggulan kompetitif.
IHCBS 2026 dijadwalkan berlangsung pada 15–16 September 2026 dengan target sekitar 6.000 peserta. Dengan delapan track, keterlibatan 102 komunitas HR, serta sekitar 100 penyedia solusi HR, AI, dan digitalisasi, forum tersebut diarahkan untuk mendorong SDM Indonesia tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi menjadi pihak yang mampu memanfaatkan AI untuk menciptakan produktivitas dan nilai tambah.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(SAW)





