Pemerintah akan meluncurkan produk aspal yang disebut Aspal Merah Putih sebagai upaya menekan biaya pembangunan jalan tol. Rencananya dilakukan setelah peringatan 17 Agustus.
Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo mengatakan Aspal Merah Putih merupakan campuran aspal produksi Pertamina dengan asbuton atau aspal alam yang berasal dari Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Pengembangan produk tersebut juga menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap aspal impor. Namun, penggunaan asbuton tetap harus mempertimbangkan biaya agar tidak membuat pembangunan infrastruktur menjadi lebih mahal.
"Beberapa hari lagi kita akan meluncurkan Aspal Merah Putih. Aspal Merah Putih itu asbuton, tapi aspalnya Pertamina kita campur dengan aspal Buton. Ini bocoran sedikit nanti mungkin setelah 17 Agustus lah kita launch," kata Dody usai agenda Focus Group Discussion Asosiasi Jalan Tol Indonesia di Hotel Ritz Carlton Pacific Place, Rabu (12/8)
Menurutnya, harga aspal yang digunakan dalam pembangunan maupun pemeliharaan infrastruktur harus tetap memperhatikan aspek keekonomian. Pemerintah tidak ingin kebijakan penggunaan asbuton justru membuat biaya produksi meningkat dan pada akhirnya berdampak terhadap tarif yang harus dibayar masyarakat.
"Kalaupun kita menggunakan aspal Buton dengan berbagai macam alasan, impor kemudian alasan teknis dan seterusnya, dari sisi ekonomisnya harus masuk supaya tarifnya untuk masyarakat tidak perlu nambah," ujarnya.
Berharap Bisa Tekan Kenaikan Tarif TolIa menargetkan harga Aspal Merah Putih setidaknya dapat menyamai harga aspal yang digunakan saat ini. Bahkan, pemerintah berharap harga produk tersebut bisa lebih rendah sehingga biaya yang dikeluarkan badan usaha jalan tol (BUJT) maupun pemerintah dapat ditekan.
Selain untuk menekan biaya pembangunan jalan tol, penggunaan Aspal Merah Putih juga ditujukan untuk mengurangi beban APBN. Menurut Dody, aspal tidak hanya digunakan untuk jalan tol, tetapi juga untuk pembangunan dan pemeliharaan jalan nasional yang menggunakan anggaran negara.
"Aspal ini kan kita pakai di mana-mana kan ya jalan tol, jalan nasional kita juga pakai. Kalau misalnya aspal ini ketinggian, nanti APBN saya jebol jadi masalah baru, besar bagi saya," tegasnya.
Dody menyebut harga aspal berbasis asbuton berpotensi turun sekitar 10 hingga 20 persen. Namun, angka tersebut masih menjadi target dan belum merupakan harga final karena nantinya akan ditentukan melalui mekanisme bisnis antara penyedia dan pengguna.
"Harapannya turun sedikit lah. Ini bisa turun 10-20 persen, tapi belum," ujarnya.





