Malang (beritajatim.com) – Komitmen untuk memastikan tidak ada mahasiswa yang merasa kesepian (loneliness) di tengah hiruk-pikuk kehidupan kampus menjadi fokus utama Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (Filkom UB). Melalui strategi “2MD”, sebanyak 1.092 mahasiswa baru angkatan 2026 dipastikan mendapat pengawalan emosional dan akademik agar tak pernah merasa dibiarkan berjalan sendirian.
Filkom UB menggelar rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) tingkat fakultas mulai Kamis (13/8/2026) hingga Sabtu (16/8/2026). Kegiatan ini berpusat di Auditorium Algoritma Filkom UB dan diikuti oleh sebanyak 1.092 mahasiswa baru, yang terdiri atas 992 mahasiswa program sarjana (S1) dan 100 mahasiswa program pascasarjana (S2 dan S3).
Tahun ini, PKKMB Filkom UB mengusung tema “Empowering Resilient Students to Grow, Adapt, and Create Impact Together”. Tema tersebut merangkum tiga kata kunci utama, yakni tumbuh (grow), beradaptasi (adapt), dan menciptakan dampak bersama (create impact together).
Dekan Filkom UB, Ir. Tri Astoto Kurniawan, S.T., M.T., Ph.D., IPM, menegaskan bahwa momen keberhasilan menembus seleksi masuk Filkom UB bukanlah garis akhir dari perjuangan, melainkan awal dari perjalanan akademik yang penuh tantangan di era transformasi digital.
“Titik ini bukanlah akhir dari perjuangan Anda, melainkan awal dari sebuah perjalanan panjang yang sangat menantang,” ujar Tri Astoto di hadapan media, Kamis (13/8/2026).
Ia mendorong para mahasiswa baru untuk senantiasa membangun mimpi besar dan memiliki pola pikir visioner. Menurutnya, mahasiswa Filkom UB berada di garis depan perkembangan teknologi modern dan memiliki peluang besar untuk berkontribusi dalam membangun peradaban yang lebih maju serta berkelanjutan.
Guna mendukung terciptanya mental mahasiswa yang tangguh, manajemen Filkom UB terus menguatkan strategi pengawasan dan pembinaan karakter. Dekan Filkom UB menjelaskan bahwa kampus menerapkan kerangka kerja khusus bernama “2MD”, yang merupakan akronim dari Melebu Bareng, Metu Bareng (Masuk Bersama, Lulus Bersama).
Inisiasi kerangka kerja yang telah dimulai sejak angkatan 2025 ini dirancang untuk menjawab berbagai tantangan psikologis mahasiswa selama menempuh studi, salah satunya isu kesepian di tengah keramaian.
“Banyak hal yang menjadi pengganggu keberhasilan studi mahasiswa Filkom UB selama ini. Salah satunya adalah kesendirian di dalam keramaian, loneliness di antara hiruk-pikuknya kegiatan angkatan. Ini yang ingin kita antisipasi,” ungkap Tri Astoto.
Melalui pendekatan 2MD, ikatan antarmahasiswa dibentuk secara sengaja sejak hari pertama masuk kuliah. Euforia dan semangat saling menguatkan tersebut diharapkan bertahan hingga seluruh mahasiswa mampu menyelesaikan masa studi secara bersama-sama di semester delapan.
Tidak hanya mengandalkan peran Unit Layanan Konseling Terpadu (ULKT) untuk penanganan di akhir, Filkom UB memilih strategi preventif dengan membentuk pengurus angkatan serta menghidupkan Forum Komunikasi Orang Tua Wali Mahasiswa yang dibentuk sejak 2025.
Kampus juga menyiapkan Pakta Integritas yang disosialisasikan kepada orang tua dan mahasiswa untuk memastikan lingkungan akademik bersih dari tindakan tidak terpuji, sekaligus mendukung pencapaian status Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dari KemenPAN-RB.
Selain itu, pihak fakultas memastikan lingkungan kampus sepenuhnya bebas dari tindakan perpeloncoan maupun bullying. Budaya senioritas diubah menjadi sistem asistensi, di mana para senior diposisikan sebagai fasilitator yang dibekali pelatihan khusus dari ULKT sebelum mendampingi mahasiswa baru.
“Melebu bareng, metu bareng itu bukan sekadar jargon, tapi sebuah sistem. Kami membangun ekosistem di Filkom agar ada empati dan respect di antara semua civitas akademika,” tegas Tri Astoto.
Sebagai wujud komitmen terhadap pendidikan inklusif dan perluasan akses pendidikan tinggi sesuai prinsip Sustainable Development Goals (SDGs), Filkom UB tahun ini menerima 6 mahasiswa baru penyandang disabilitas melalui jalur Seleksi Penerimaan Kelompok Penyandang Disabilitas (SPKPD).
Keenam mahasiswa tersebut tersebar di Program Studi S1 Sistem Informasi (2 orang), S1 Teknik Informatika (2 orang), dan S1 Teknik Komputer (2 orang).
Secara akumulatif, saat ini terdapat lebih dari 30 mahasiswa penyandang disabilitas yang menempuh pendidikan di Filkom UB. Fakultas menyediakan berbagai sarana fisik, seperti jalur pemandu khusus (guiding block) dan toilet aksesibel.
Guna mendukung proses perkuliahan mahasiswa disabilitas, terutama kelompok tunarungu, Filkom UB mengintegrasikan teknologi speech-to-text.
“Kami menyiapkan peralatan speech-to-text. Mikrofon yang dipakai oleh dosen nanti receiver-nya langsung terhubung ke laptop mahasiswa disabilitas, sehingga ucapan dosen langsung terkonversi menjadi teks di layar. Ini memperkecil gap pemahaman materi,” terang Tri Astoto.
Mahasiswa disabilitas pendengaran ini juga dihimpun dalam kelas khusus agar dapat saling mendukung, serta didampingi oleh relawan mahasiswa (volunteer).
Dari sisi keberagaman, rincian 992 mahasiswa baru program sarjana (S1) angkatan 2026/2027 tersebar di lima program studi, yaitu: Program Studi Sistem Informasi: 249 mahasiswa, Program Studi Teknik Informatika: 249 mahasiswa, Program Studi Teknik Komputer: 181 mahasiswa, Program Studi Teknologi Informasi: 190 mahasiswa, dan Program Studi Pendidikan Teknologi Informasi: 123 mahasiswa.
Maba Filkom UB terlihat antusiasi mengikuti rangkaian acara (Foto: Dani Alifian)Data fakultas menunjukkan mahasiswa baru S1 Filkom UB 2026 berasal dari 34 provinsi di Indonesia. Provinsi Jawa Timur menyumbang proporsi terbesar sebanyak 390 mahasiswa (39,35%), disusul Jawa Barat 114 mahasiswa (11,50%), DKI Jakarta 109 mahasiswa (11,00%), Jawa Tengah 56 mahasiswa (5,65%), dan Banten 44 mahasiswa (4,44%), sementara sisanya tersebar di 29 provinsi lainnya.
Selain itu, terdapat 15 mahasiswa baru yang diterima melalui jalur Seleksi Program Internasional (SPI) pada Program Studi S1 Sistem Informasi. Namun, seluruhnya berstatus Warga Negara Indonesia (WNI), sehingga istilah kelas internasional pada konteks ini merujuk pada jalur program akademik, bukan kewarganegaraan asing.
Untuk jenjang pascasarjana, Filkom UB menerima 100 mahasiswa baru yang terbagi ke dalam tiga program studi, meliputi 35 mahasiswa Program S3 Ilmu Komputer, serta sisanya terbagi di Program S2 Ilmu Komputer dan Program S2 Sistem Informasi.
Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kewirausahaan Mahasiswa (WD III) Filkom UB, Dr. Eng. Budi Darma Setiawan, S.Kom., M.Cs., memaparkan bahwa usai pelaksanaan PKKMB tingkat universitas selama tiga hari, kegiatan di tingkat fakultas difokuskan pada pengenalan tata cara akademik dan budaya kampus.
“Hari pertama pelaksanaan PKKMB tingkat fakultas berlangsung satu hari penuh hingga pukul 16.00 WIB. Kemudian besok dan hari Sabtu dilanjutkan setengah hari. Fokus kegiatannya adalah memberikan motivasi dan pemahaman tentang ke-Filkom-an serta proses akademik yang harus dilalui,” jelas Budi Darma.
Ketua Pelaksana PKKMB Filkom UB 2026, Riswan Septriayadi Sianturi, S.Si., M.M., M.Sc., Ph.D., menambahkan bahwa rangkaian penyambutan ini akan dilanjutkan dengan program Startup Academy selama tiga bulan ke depan untuk memperdalam adaptasi akademik dan kemahasiswaan.
Sebagai bagian dari penguatan motivasi dan wawasan industri, panitia menghadirkan pembicara dari kementerian dan para alumni sukses. Hadir mewakili Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Direktur Pengembangan Ekosistem Digital, Sonny Hendra Sudaryana, yang memberikan pemaparan terkait perkembangan ekosistem digital nasional.
Selain itu, dua alumni Filkom UB yang sukses mendirikan perusahaan teknologi turut dihadirkan untuk memberikan pembekalan kewirausahaan, yaitu Adip Torik (Co-Founder Algurox) dan Prof. Hafiz Zakur Johin (CEO/Founder PT Alfa Umar Repayasa Teknologi). Panitia juga menyiapkan agenda Open House untuk memperkenalkan berbagai laboratorium riset serta Lembaga Kedaulatan Mahasiswa (LKM) bagi angkatan baru. (dan/kun)




