Grid.ID- Kronologi tukang cukur di Rancabungur dapat intimidasi gegara tak pasang bendera Merah Putih. Dia selanjutnya memberikan permintaan maaf.
Seorang tukang cukur bernama Nurhidayat alias Abuy diduga mendapat intimidasi oleh oknum pegawai kecamatan karena menolak memasang bendera Merah Putih. Insiden ini terjadi di Kecamatan Rancabungur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Dalam sebuah video yang beredar di media sosial, Abuy awalnya didatangi Camat Rancabungur yang didampingin oleh pegawai kecamatan. Perdebatan saat itu terjadi antara Camat dan tukang cukur tersebut.
"Besok pasang ya, beli dong, masa gak sanggup," ujar ibu Camat Rancabungur, dilansir dari Kompas.com.
Tak lama kemudaian, oknum pegawai kecamatan itu kembali mendatangi Abuy dan mendesak serta memarahinya yang saat itu sedang bekerja melayani pelanggan. Oknum tersebut sempat menyebut bahwa pemasangan bendera merupakan perintah.
"Alasan Abang memilih enggak mau memasang bendera apa? Apa, saya tanya?" tanya sang oknum.
"Kami dari kecamatan, Iho. Abang enggak menghargai Ibu Camat tadi. Ini dasar perintah dari Bupati. Abang tadi bilang belum merdeka. Apa yang belum merdeka dari negara ini? Coba ngomong," desaknya.
Selanjutnya, peristiwa itu kemudian berujung pada paksaan permintaan maaf dari Abuy melalui video. Dia lalu menyampaikan bahwa pernyataanya soal Indonesia belum merdeka merupakan kekeluruan dan kesalahan, lalu dia juga menegaskan bahwa Indonesia sudah merdeka.
Video tersebut kemudian menjadi viral hingga mendapat tanggapan dari Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Bogor Ferdinando S Pardede. Dalam keterangannya, dia mengatakan, surat edaran soal pemasangan bendera Merah Putih selama Agustus tak memuat sanksi bagi masyarakat yang tidak memasangnya.
"Ya, sanksi sampai saat ini tidak ada. Makanya Surat Edaran Mendagri itu hanya mengimbau mulai tanggal 1 sampai tanggal 31 Agustus," kata Ferdinando.
"Rasa nasionalisme seharusnya tidak perlu pakai sanksi. Harus dari dalam diri sendiri," ujarnya.
Dalam kronologi tukang cukur di Rancabungur dapat intimidasi ini, Abuy mengaku merasa ketakutan hingga sulit tidur karena khawatir mendapatkan reaksi negatif dari warganet. Adapun, Abuy mengetahui bahwa dirinya viral setelah sang istri mengirimkan pesan WhatsApp kepadanya.
"Hari Minggu terus terang enggak bisa tidur, kepikiran takut jempol netizen, takut salah ngomong bahaya," kata Abuy.
Namun, setelah mendapat masukan dari keluarga dan teman-temannya, Abuy mulai kembali percaya diri. Melansir dari TribunJatim.com, dia juga melihat banyak pengguna media sosial yang justru memberikan dukungan kepadanya.
"Ternyata netizen pro-na ka urang (saya), saya jadi PD kan, aman cenah (kata) orang," ungkapnya.
Meski sempat tidak terima karena direkam dan videonya menjadi viral, Abuy memilih untuk meminta maaf dan memberikan klarifikasi terkait ucapannya "belum merdeka". Dia mengatakan, keputusan itu diambinya demi meredakan persoalan yang sudah terlanjur ramai di media sosial.
"Padahal saya memvideokan enggak, ngeviralin enggak. Ngajelasin udah saya mah. Ya udahlah demi kebaikan aja ini mah, mengalah untuk menang lah istilahnya," tutur Abuy.
Di sisi lain, Abuy mempertanyakan identitas pria yang merekamnya saat kejadian, karena pihak Kecamatan Rancabungur mengaku bahwa oknum tersebut bukan petugas kecamatan. Dia berharap pria tersebut bisa memberi klarifikasi atas insiden yang terjadi, termasuk dugaan intimidasi yang membuat rekaman itu viral.
"Makanya kan semua netizen tuh mengecam dia kan sekarang, nyari akun dia kan udah mencoreng nama baik kecamatan juga," pungkasnya. (*)
Artikel Asli




