Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyoroti masih tingginya kematian akibat tuberkulosis (TBC) di Indonesia menjelang 81 tahun kemerdekaan. Ia menyebut TBC masih menjadi penyakit menular dengan jumlah kematian tertinggi di Indonesia, bahkan melampaui COVID-19.
Hal itu disampaikan Budi saat menghadiri agenda skrining TBC dan Cek Kesehatan Gratis (CKG) di pesantren dan permukiman padat penduduk di Kapuk Muara, Penjaringan, Jakarta Utara, Kamis (13/8).
"TBC ini kita sudah mau 81 tahun merdeka. Tetap meninggalkannya paling banyak, lebih banyak dari Covid, ini meninggalkannya setiap tahun," kata Budi.
Budi mengatakan Indonesia masih menempati peringkat kedua dengan jumlah kematian akibat TBC terbanyak di dunia setelah India.
"Dan kita ranking nomor dua dari bawah. Ranking nomor dua dari bawah. Karena paling banyak sesudah India," ujarnya.
Menurut Budi, kondisi tersebut menjadi persoalan serius karena TBC sebenarnya bukan penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Obat untuk TBC telah tersedia dan efektif jika dikonsumsi sesuai ketentuan.
"Penyakit ini ribuan tahun sudah ada dan anehnya obatnya sudah ada. Obatnya ada dan manjur. Kalau minum obat pasti sembuh," jelas Budi.
Ia menilai persoalan utama berada pada keterlambatan menemukan penderita. Banyak orang yang terinfeksi TBC belum mengetahui kondisinya karena belum menjalani skrining.
"Masalahnya adalah enggak ketahuan kalau dia sakit TBC karena skriningnya terlambat atau tidak dilakukan," kata dia.
Budi mengatakan pemerintah kini mendorong skrining lebih agresif untuk menemukan penderita TBC dan segera memberikan pengobatan. Upaya tersebut dinilai penting untuk memutus rantai penularan sekaligus menekan angka kematian akibat TBC di Indonesia.
"Itu sebabnya Kementerian Kesehatan karena ingin memperpanjang rata-rata usia hidup rakyat Indonesia, harus bisa mengurangi kematian karena TBC dengan cara skriningnya diperbanyak," ujarnya.





