Danantara tengah menyiapkan skema pembiayaan untuk memperluas pembelian motor listrik di Indonesia. Skema tersebut mencakup suku bunga kredit yang lebih rendah, tenor lebih panjang, hingga rencana mengurangi bahkan menghilangkan uang muka atau down payment (DP) yang saat ini berada di kisaran 10 persen.
CEO Danantara Rosan Roeslani mengatakan pihaknya telah berkomunikasi dengan perbankan dan institusi finansial di bawah Danantara untuk membahas skema pembiayaan motor listrik tersebut.
“Oleh sebab itu tentunya kami pun di dalam Danantara, kami juga sudah berbicara dengan seluruh perbankan dan juga seluruh institusi finansial di bawah Danantara bahwa kita siap mendukung dari perbankan kami untuk memberikan pendanaan dengan suku bunga lebih rendah, jangka waktu lebih panjang," kata Rosan dalam Peluncuran Molinas di Cikarang, Rabu (13/8).
Rosan mengatakan pembahasan pembiayaan tersebut menjadi bagian dari upaya memperbesar pasar motor listrik nasional. Saat ini, tingkat pembelian motor listrik dinilai masih rendah dibandingkan total pasar sepeda motor di Indonesia.
"Kita akan membuat agar DP-nya yang selama ini masih ada kalau menurut informasi dari perbankan kami itu ada 10 persen, kita akan coba reduce bahkan akan kita coba hilangkan sehingga minat masyarakat untuk membeli motor listrik ini bisa berjalan dengan cepat, dengan baik, dan kita mempunyai kemampuan untuk mengakselerasi produksi dari motor listrik nasional yang ada di Indonesia ini," ungkapnya.
Menurut dia, terdapat sekitar 140 juta motor di Indonesia. Adapun pembelian sepeda motor setiap tahunnya mencapai sekitar 6 juta hingga 7 juta unit. Namun, pembelian motor listrik baru berada di kisaran 60 ribu hingga 70 ribu unit atau sekitar 1 persen dari total pembelian tahunan.
Besarnya selisih tersebut dinilai menunjukkan ruang pertumbuhan pasar motor listrik yang masih luas. Rosan memperkirakan potensi pasar motor listrik Indonesia dapat berkembang secara eksponensial, dengan market size yang diperkirakan mencapai sekitar USD 170 miliar.
Selain memperluas pembiayaan, pengembangan motor listrik nasional juga diarahkan untuk memperkuat komponen dalam negeri. Rosan menyebut baterai motor listrik nasional akan menggunakan basis nikel, sejalan dengan ketersediaan bahan baku di Indonesia.
Ia menyebut Indonesia memiliki 46 persen cadangan nikel dunia. Hilirisasi nikel selanjutnya diarahkan hingga menjadi sel baterai dan battery pack yang dapat digunakan dalam produksi motor listrik nasional.
“Dan kita mempunyai teknologi, kita mempunyai kemampuan sehingga karya anak bangsa ini bisa berkembang, Molinas ini bisa terjangkau, berkualitas, apalagi kita bisa menjalankan hilirisasi dari nikel ini menjadi sel baterai, baterai pack, sehingga bisa digunakan dalam produksi Molinas ke depannya," tutur Rosan.
Di sisi industri, Rosan menyebut terdapat sekitar 10 perusahaan nasional yang telah memenuhi kriteria pemenuhan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dari Kementerian Perindustrian. Pengembangan industri motor listrik nasional juga diarahkan agar produk dalam negeri dapat memenuhi standar internasional dan masuk ke pasar regional hingga global.
Rosan menilai peningkatan akses pembiayaan diperlukan sejalan dengan upaya meningkatkan produksi motor listrik nasional. Dengan bunga kredit yang lebih rendah, tenor lebih panjang, serta kemungkinan penghapusan DP, masyarakat diharapkan memiliki akses yang lebih mudah untuk membeli motor listrik.
Rencana tersebut sekaligus menjadi bagian dari pengembangan ekosistem motor listrik nasional yang melibatkan pemerintah, BUMN, dan perusahaan nasional. Molinas disebut dikembangkan untuk meningkatkan kemandirian Indonesia dalam produksi kendaraan listrik, termasuk melalui pemanfaatan bahan baku dan teknologi dalam negeri.





