Semarang: Perayaan kemerdekaan tidak selalu harus diisi dengan perlombaan atau panggung hiburan. Warga Pandansari, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, Jawa Tengah, memilih merayakan HUT ke-81 Republik Indonesia dengan mengangkat sejarah dan budaya melalui kegiatan bertajuk Pajatan Budaya bersama Komunitas Swara Kesadaran.
Kegiatan yang digelar di Jalan Pandansari 3 tersebut turut menghadirkan peta kuno Kota Semarang yang dibuat pada 1695. Peta berusia lebih dari tiga abad itu menjadi salah satu sumber untuk melihat kembali sejarah sekaligus identitas masyarakat Semarang.
Baca Juga :
Menjelajah Ragam Kuliner Nusantara di Kampung LegendarisSelain pertunjukan seni, dilakukan penyerahan peta kuno Kota Semarang dari Tenaga Pemugaran Cagar Budaya, Bukhori Masruri, kepada Karang Taruna Pandansari. Peta yang dibuat oleh M.D. Roy pada 1695 tersebut dinilai penting untuk membantu masyarakat memahami perjalanan sejarah dan identitas Kota Semarang. Masyarakat Perlu Akses Arsip Arsiparis ISI Surakarta, Jamal, mengatakan masyarakat masih menghadapi keterbatasan dalam mengakses arsip yang berkaitan dengan sejarah masa lalu. Menurutnya, akses terhadap arsip penting agar masyarakat dapat melihat langsung sumber sejarah dan memahami kembali identitas mereka.
“Jadi itu perlu disadarkan untuk membaca ulang historiografi kita, untuk mendefinisikan ulang identitas siapa kita,” ujar Jamal.
Ia menjelaskan, peta lama yang merupakan koleksi National Archive tersebut juga menunjukkan bahwa nama Terboyo telah tercatat sejak 1695.
Hal tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana arsip lama dapat membuka pemahaman baru mengenai sejarah Semarang. Jamal juga menyoroti keberagaman etnis yang telah lama hidup berdampingan di Semarang. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya toleransi dalam kehidupan masyarakat.
“Di Semarang itu ada banyak sekali etnis yang hidup berdampingan, yang mana itu menjadi kesadaran bahwa toleransi itu menjadi suatu keniscayaan,” katanya.
Baca Juga :
Peringati HUT RI, Batalyon Infanteri 400/Banteng Raiders Gelar Donor Darah“Formalistik dalam artian itu hanya menjadi peristiwa-peristiwa formal tanpa satu konsentrasi pada bagaimana membangun ekosistem agar sebuah kebudayaan itu bisa tumbuh,” ujar Bukhori.
Ia berharap Komunitas Swara Kesadaran dapat ikut mendorong terbentuknya ruang bagi masyarakat untuk mengembangkan kebudayaan. Bukhori juga mengajak masyarakat melihat kembali makna kemerdekaan dari sisi kehidupan sehari-hari, bukan hanya melalui perayaan yang bersifat formal.
“Merdeka itu kan masalah rasa ya, apakah memang masyarakat saat ini sudah merasakan ada kemerdekaan untuk menjalani kehidupan mereka,” katanya.




