Banyuwangi, tvOnenews.com – Belum hilang dalam ingatan peristiwa pengasuh pondok pesantren yang ditangkap setelah terungkap mencabuli lima santriwatinya di Kecamatan Sempu pada awal Juli 2026 lalu. Kini peristiwa serupa kembali terulang di wilayah yang sama.
Akhir Juli 2026 lalu, sepasang suami istri melapor ke SPKT Polresta Banyuwangi karena baru mengetahui kalau putrinya menjadi korban pencabulan guru ngajinya di wilayah Kecamatan Sempu.
Bahkan terungkap kalau tidak hanya satu anak yang menjadi korban pencabulan. Melainkan ada 4 anak lainnya mengalami hal serupa dengan pelaku yang sama. Semuanya ada murid yang belajar mengaji di rumah pelaku.
“Anak saya berusia 9 tahun, tiba-tiba tidak mau mengaji lagi. Pertama tidak mau ngomong apa alasannya. Dan dia langsung menangis ketakutan ketika saja ajak bicara pelan-pelan,” ungkap sang ibu kepada tvOnenews.com, Kamis (13/08/2026).
Wajah sang ibu memerah karena menahan marah dan tangis. Dia mendapat pengakuan anaknya kalau perbuatan cabul itu dilakukan pada bulan Desember 2025 lalu. Berkali perbuatan itu dilakukan saat korban sedang mengaji di rumah pelaku. Terakhir perbuatan bejat itu dilakukan pada tanggal 26 Juli 2026 lalu.
“Saya dan suami langsung lapor polisi setelah mendapat pengakuan anak saya pada tanggal 29 Juli 2026 lalu. Anak saya sudah divisum bahkan ditangani psikiater. Katanya anak saya trauma berat,” ungkap sang ibu dengan mata berkaca-kaca.
Data yang didapat tvOnenews.com di lapangan ternyata pelaku berinisial MP itu diketahui sehari-harinya bekerja sebagai petani. Usianya lebih dari 40 tahun. Selain itu juga mengajar ngaji sekitar 30 anak laki-laki dan perempuan di rumahnya. Rata-rata murid ngajinya adalah anak tetangga dan warga sekitar desa.
Tidak hanya bocah perempuan berusia 9 tahun yang menjadi korbannya. Ternyata ada empat anak lainnya yang juga mendapat perlakuan yang sama. Salah satunya bocah perempuan berusia 11 tahun. Bahkan anak perempuan yang sudah duduk di bangku SMP itu sudah mendapatkan perlakuan bejat pelaku sejak dia masih duduk di bangku Sekolah Dasar.
“Iya, dipegang pegang ininya (dada) dan dicium cium,” kata korban kepada kedua orang tuanya dengan ketakutan.
Sang ibu korban mengaku juga kalau banyak hal janggal setelah putrinya mendapat perlakukan tidak senonoh itu. Salah satunya adalah dirinya secara tidak sengaja melihat pencarian di google search pada handphone sang anak. Sang anak mencari tahu tentang hukum akhirat bagi guru ngaji yang mengajar dengan gratis murid-muridnya.
“Saya curiga awalnya dari perilaku anak ini, terus saya menemukan anak ini kok searching di google tentang guru ngaji yang mengajar tidak dibayar tapi memperkosa apakah dosa,” ungkap ibu dari bocah 9 tahun kepada tvOnenews.com.
Tidak terima dengan apa yang menimpa putri kecilnya, orang tua korban menuntut polisi segera mengusut tuntas kasus yang menimpa pada putrinya.
“Saya berharap dengan saya melapor ini para korban lainnya juga berani melapor. Itu pelakunya masih bebas sampai sekarang,” pungkas sang ibu. (hoa/gol)




