Menteri Transmigrasi Kerahkan 1.200 Peserta Ekspedisi Patriot ke Papua untuk Dongkrak Ekonomi Warga

pantau.com
8 jam lalu
Cover Berita

Pantau - Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara menyatakan sekitar 1.200 peserta Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 diterjunkan ke 10 kawasan transmigrasi di Papua untuk meningkatkan produktivitas, pendapatan, dan kesempatan kerja masyarakat.

Iftitah menegaskan keberhasilan program tersebut tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah peserta yang diterjunkan, tetapi berdasarkan dampak nyata yang dihasilkan bagi masyarakat.

"Yang paling penting adalah seberapa besar dampak yang dihasilkan. Ukurannya bukan berapa banyak peserta yang kita kirim, tetapi perubahan nyata yang kita tinggalkan bagi masyarakat," ungkapnya.

Sekitar 200 Tim Diterjunkan ke Papua

Dalam Konferensi Pers Pemerintah di Auditorium Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia (Bakom RI), Kompleks Istana Negara, Jakarta, Rabu (12/8), Iftitah menjelaskan TEP 2026 secara keseluruhan diikuti 1.476 peserta.

Dari jumlah tersebut, sekitar 1.200 peserta yang tergabung dalam sekitar 200 tim ditugaskan di 10 kawasan transmigrasi di Papua.

Para peserta diarahkan menerapkan teknologi tepat guna, mengembangkan usaha lokal, serta membuka akses pasar dan investasi berdasarkan potensi masing-masing kawasan.

Keberhasilan penugasan TEP akan diukur melalui sejumlah indikator, termasuk kemampuan peserta membantu menyelesaikan persoalan yang dihadapi masyarakat.

Indikator lainnya meliputi penerapan teknologi, peningkatan produktivitas dan pendapatan masyarakat, pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta pengembangan usaha lokal.

Keberhasilan program juga dinilai berdasarkan terbukanya akses pasar, masuknya investasi, dan terciptanya lapangan kerja baru.

Peserta TEP tidak hanya bertugas melakukan riset dan pemetaan potensi wilayah, tetapi juga membantu mengolah potensi lokal menjadi produk bernilai tambah.

Mereka turut bertugas mempertemukan pelaku usaha lokal dengan mitra usaha, calon pembeli, dan investor agar potensi ekonomi kawasan dapat dikembangkan secara konkret.

Pendekatan Disesuaikan dengan Potensi Setiap Wilayah

Iftitah menekankan solusi yang diterapkan dalam program tersebut tidak dapat diseragamkan untuk seluruh kawasan transmigrasi.

Setiap solusi harus disusun berdasarkan kebutuhan masing-masing wilayah dengan mempertimbangkan kondisi lahan, cuaca, medan, komoditas unggulan, serta karakter sosial dan budaya masyarakat setempat.

"Tidak ada pembangunan di tanah air ini yang one size fits all. Sistemnya harus tailor-made. Setiap wilayah memiliki potensi dan persoalan yang berbeda. Karena itu, pendekatannya tidak boleh dipukul rata," ungkapnya.

Untuk kawasan dengan potensi pertanian, pendampingan antara lain dapat difokuskan pada peningkatan produksi, pengolahan hasil pascapanen, dan pembukaan akses pemasaran.

Sementara itu, kawasan dengan produk unggulan lokal dapat memperoleh pendampingan untuk meningkatkan kualitas dan kemasan produk, memperkuat kapasitas usaha, serta meningkatkan nilai jual.

Sepuluh kawasan penugasan TEP di Papua meliputi Lereh di Jayapura, Senggi di Keerom, Salor dan Muting di Merauke, Prafi di Manokwari, Momiwaren di Manokwari Selatan, Werianggi-Werabur di Teluk Wondama, Bomberay-Tomage dan Weri-Saharey di Fakfak, serta Klamono-Segun di Sorong.

Sepuluh Perguruan Tinggi Terlibat dalam TEP 2026

TEP 2026 melibatkan 10 perguruan tinggi mitra, yakni Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Diponegoro, IPB University, Universitas Gadjah Mada, Universitas Airlangga, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Indonesia, Universitas Padjadjaran, Universitas Hasanuddin, dan Universitas Brawijaya.

Menurut Iftitah, keterlibatan perguruan tinggi bertujuan memastikan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat diterapkan secara langsung untuk menjawab kebutuhan masyarakat di kawasan transmigrasi.

"Kita ingin menghadirkan banjir ilmu pengetahuan dan teknologi di kawasan transmigrasi. Ilmu harus sampai kepada masyarakat dan menjadi alat untuk meningkatkan produktivitas, pendapatan, dan kesejahteraan mereka," ungkapnya.

Berdasarkan catatan Kementerian Transmigrasi, TEP 2026 secara keseluruhan terdiri atas 1.476 peserta yang tergabung dalam 246 tim.

Komposisi tersebut terdiri atas 246 ketua tim dan 1.230 anggota yang terpilih melalui proses rekrutmen dengan 10.359 pendaftar melalui 10 perguruan tinggi mitra.

Pada 2026, peserta TEP ditempatkan di 53 kawasan transmigrasi di berbagai wilayah untuk menindaklanjuti hasil riset tahun sebelumnya sekaligus merintis pengembangan produk unggulan berdasarkan potensi masing-masing kawasan.

Pada 2025, sekitar 2.000 peneliti TEP telah diterjunkan ke 154 kawasan transmigrasi selama periode Agustus hingga Desember dengan fokus memetakan potensi ekonomi dan sumber daya alam serta mengevaluasi infrastruktur dan kelembagaan ekonomi.

Pada 2026, orientasi program bergeser dari sekadar memperluas cakupan wilayah menuju upaya memperbesar manfaat nyata yang diterima masyarakat, terutama di Indonesia bagian timur.

"Fokus kita bukan lagi sekadar memperluas jangkauan, tetapi memperbesar manfaat. Terutama di Indonesia timur, pembangunan harus benar-benar menghadirkan kehidupan yang lebih produktif, sejahtera, dan bermartabat bagi masyarakat," ungkap Iftitah.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menjelang HUT ke-81 RI, Ketum PA GMNI Bicara Arsip Otentik Demi Pelurusan Sejarah
• 9 jam lalujpnn.com
thumb
Mentan Pastikan SPPG di Surabaya Serap Telur Peternak Lokal untuk MBG
• 16 jam lalukumparan.com
thumb
Bupati dan Ketua Kwarcab Pramuka Jeneponto Kunjungi Peserta Jamnas XII di Buperta Cibubur
• 12 jam laluterkini.id
thumb
Kebakaran Kios di Sudiang Makassar, Api Lahap Sejumlah Warung
• 19 jam laluharianfajar
thumb
Korea Selatan Siapkan Komite Khusus untuk Bereskan Regulasi Startup
• 16 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.