JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah Taiwan mengecam rencana latihan TNI Angkatan Laut (AL) Indonesia bersama Angkatan Laut China atau People’s Liberation Army Navy (PLAN) pada medio Agustus 2026 di perairan sebelah timur Taiwan.
Taipei menilai latihan tersebut sebagai tindakan “berbahaya” dan upaya Beijing menciptakan kesan bahwa China memiliki yurisdiksi atas perairan tersebut.
Baca juga: Selain China, TNI AL Juga Bakal Latihan Militer dengan Jepang dan AS
Sebagaimana dilansir Reuters, Rabu (12/8/2025), Dewan Urusan Daratan Taiwan (Mainland Affairs Council), lembaga pemerintah yang menangani kebijakan terhadap China, menyebut latihan itu sebagai "provokasi militer".
Taiwan mendesak Beijing segera menghentikan tindakan tersebut karena dinilai dapat mengganggu status quo di kawasan.
Lalu, bagaimana respons TNI AL dan pemerintah terkait kecaman dari Pemerintah Taiwan?
TNI AL buka suara
Kadispenal Laksamana Pertama TNI Tunggul mengatakan, kapal perang KRI I Gusti Ngurah Rai-332 tengah dalam perjalanan pulang ke Tanah Air setelah mengikuti Orruda 2026 di Vladivostok, Rudi.
“(Dalam perjalanan pulang ini, KRI I Gusti Ngurah Rai) akan melaksanakan latihan bersama secara terbatas atau passing exercise dengan Angkatan Laut sejumlah negara yang dilintasi, termasuk Jepang, Tiongkok, dan Armada Ketujuh Angkatan Laut Amerika Serikat,” kata Tunggul dalam siaran pers, dikutip Rabu (12/8/2026).
Baca juga: Latihan Militer Indonesia-China Diprotes Taiwan, Kemlu: Passing Exercise Bukan Latihan Tempur
Tunggul menyampaikan, kegiatan latihan bersama atau passing exercise (passex) ini merupakan hal lazim bagi Angkatan Laut di berbagai negara.
Dia menggarisbawahi, passex bersama angkatan laut dari berbagai negara itu tidak ditujukan untuk latihan tempur.
"Passing exercise merupakan bentuk interaksi untuk membangun komunikasi, kepercayaan, hubungan baik, dan semangat persahabatan antar angkatan laut, sekaligus mendukung diplomasi maritim Indonesia," tegas dia.
Pati TNI AL bintang satu itu menyampaikan, pelaksanaan passing exercise sejalan dengan politik luar negeri bebas aktif Indonesia yang membuka ruang kerja sama dengan semua negara.
"Kegiatan ini juga mencerminkan komitmen Indonesia untuk memperkuat persahabatan serta turut menjaga keamanan, stabilitas maritim, dan perdamaian dunia," tuturnya.
Bukan Latihan PerangTunggul menyebut rencana latihan lintas laut atau passing exercise (Passex) bersama Angkatan Laut China bukan merupakan latihan perang atau war fighting.
"Passing exercise yang dilaksanakan bukan bersifat war fighting," katanya.





