EtIndonesia.com — Di tengah tekanan ekonomi, sanksi internasional, serta konfrontasi berkepanjangan di kawasan Selat Hormuz, Iran kembali berusaha memperluas jalur ekonominya ke negara-negara BRICS. Namun, pada saat yang sama, sejumlah perkembangan di dalam negeri dan kawasan menunjukkan bahwa tekanan terhadap Teheran justru semakin kompleks.
Pada 11 Agustus 2026, Gubernur Bank Sentral Iran Abdolnaser Hemmati menyatakan bahwa negaranya akan segera bergabung dengan New Development Bank atau NDB, lembaga pembiayaan pembangunan yang didirikan oleh negara-negara BRICS. Pernyataan tersebut kemudian diberitakan secara luas pada 12 Agustus 2026, menjelang pertemuan para pejabat keuangan BRICS di India. Iran sendiri telah menjadi anggota penuh BRICS sejak 2024.
Bagi Teheran, langkah tersebut memiliki arti strategis. Iran selama bertahun-tahun menghadapi pembatasan berat dalam mengakses sistem keuangan internasional akibat sanksi Amerika Serikat. Bergabung dengan NDB diharapkan dapat membuka alternatif pembiayaan bagi proyek infrastruktur dan pembangunan sekaligus memperkuat perdagangan menggunakan mata uang nasional.
Namun, persoalannya tidak sesederhana mengganti dolar AS dengan mata uang negara-negara BRICS.
NDB Belum Sepenuhnya Terlepas dari Sistem Keuangan Global
New Development Bank memang dibentuk sebagai lembaga pembiayaan alternatif bagi negara-negara berkembang. Akan tetapi, kemampuan NDB untuk benar-benar menjadi jalur bagi negara yang terkena sanksi berat masih dipertanyakan.
Dalam General Strategy NDB 2022–2026, bank tersebut menargetkan total pembiayaan sekitar 30 miliar dolar AS selama lima tahun. Namun, target pembiayaan menggunakan mata uang lokal hanya sebesar 30 persen dari keseluruhan pembiayaan.
Artinya, meskipun NDB berusaha memperbesar penggunaan mata uang nasional, sebagian besar aktivitas pembiayaannya masih belum sepenuhnya terlepas dari sistem keuangan internasional.
Kasus Rusia memberikan gambaran mengenai keterbatasan tersebut.
Pada 4 Maret 2022, tidak lama setelah Rusia melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina dan menghadapi gelombang sanksi Barat, NDB mengumumkan bahwa seluruh transaksi baru di Rusia dihentikan sementara. Bank itu menegaskan akan tetap menjalankan aktivitasnya sesuai standar kepatuhan internasional.
Karena itu, pertanyaan terpenting bagi Iran bukan hanya apakah Teheran dapat menjadi anggota NDB, melainkan apakah bank tersebut nantinya benar-benar mampu menyediakan pembiayaan dalam skala besar tanpa menimbulkan persoalan kepatuhan dan akses terhadap pasar modal global.
Inilah salah satu tantangan terbesar strategi Iran untuk mengalihkan orientasi ekonominya ke Timur.
Tekanan Ekonomi Domestik Semakin Terasa
Pada saat Teheran berusaha mencari sumber pembiayaan baru, tekanan terhadap masyarakat Iran juga dilaporkan semakin berat.
Laporan yang beredar pada 11–12 Agustus 2026 menyebut adanya antrean panjang kendaraan untuk memperoleh bensin di sejumlah daerah, termasuk Bandar Abbas. Laporan lain yang belum dapat diverifikasi secara independen secara kuat menyebut kemungkinan perubahan harga bahan bakar secara drastis di Kerman. Karena informasi mengenai kenaikan hingga 1.600 persen belum didukung konfirmasi resmi yang memadai, angka tersebut perlu diperlakukan dengan hati-hati.
Isu harga bensin sangat sensitif di Iran. Perubahan tajam terhadap subsidi energi pada masa lalu pernah menjadi pemicu demonstrasi besar. Karena itu, setiap langkah pemerintah menaikkan harga bahan bakar berpotensi menambah tekanan sosial ketika masyarakat sudah menghadapi inflasi, kenaikan biaya hidup, masalah ketenagakerjaan, serta gangguan listrik dan layanan publik.
Tumpahan Minyak Menambah Masalah di Kawasan
Tekanan terhadap Iran juga berlangsung bersamaan dengan meningkatnya persoalan lingkungan di kawasan Teluk dan Laut Arab.
Pada 11 Agustus 2026, rekaman yang beredar secara daring memperlihatkan pencemaran minyak di sebagian pesisir Pulau Qeshm, Iran. Lapisan berwarna hitam terlihat di garis pantai maupun permukaan laut. Namun, rincian mengenai sumber pencemaran di Qeshm serta klaim keterkaitannya dengan tanker yang diserang masih memerlukan verifikasi independen lebih lanjut.
Secara terpisah, krisis tumpahan minyak dalam skala jauh lebih besar sedang terjadi di perairan Oman.
Kapal tanker Caroline Bezengi, yang membawa hampir satu juta barel minyak mentah Rusia, kandas di sekitar Pulau Qibliyah setelah sebelumnya mengalami insiden di laut. Pada 10 Agustus 2026, otoritas Oman mengatakan tumpahan tersebut telah menyebar hingga sekitar 400 kilometer persegi, sementara pengamatan kelompok lingkungan menunjukkan cakupan yang bahkan lebih luas.
Pada 12 Agustus, minyak dilaporkan mulai mencapai garis pantai Oman dan mengancam kawasan sekitar Ras Madraka serta Pulau Masirah. Situasi tersebut meningkatkan kekhawatiran akan kerusakan ekosistem laut dalam skala besar.
Perkembangan ini menunjukkan bagaimana konflik dan ketidakstabilan jalur pelayaran di kawasan dapat menimbulkan konsekuensi yang jauh melampaui persoalan militer dan perdagangan energi.
Perang Gesekan Washington–Teheran
Pada tingkat yang lebih luas, konfrontasi Amerika Serikat dan Iran semakin menyerupai perang gesekan atau war of attrition.
Strategi Teheran bertumpu pada keyakinan bahwa tekanan terhadap jalur energi, meningkatnya ongkos pengiriman, ketidakpastian di Selat Hormuz, dan kenaikan risiko ekonomi global pada akhirnya dapat memaksa Washington memberikan konsesi.
Sebaliknya, Amerika Serikat tampaknya bertaruh pada kemampuan sanksi, pembatasan finansial, blokade dan tekanan ekonomi untuk mempersempit ruang gerak pemerintah Iran.
Washington masih mempertahankan jaringan sanksi luas terhadap Iran. Departemen Keuangan Amerika Serikat juga terus melakukan tindakan terhadap jaringan yang dituduh membantu Teheran menghindari pembatasan keuangan dan memperoleh pendapatan dari perdagangan minyak.
Mantan Wakil Utusan Khusus Presiden AS untuk Timur Tengah Morgan Ortagus sebelumnya juga menekankan pentingnya mempertahankan tekanan ekonomi terhadap Teheran. Dalam pernyataannya pada Juni 2026, ia mengaitkan strategi tersebut dengan inflasi, kontraksi ekonomi, dan hilangnya lapangan pekerjaan di Iran.
Di sinilah persoalan terbesar Teheran mulai terlihat.
Iran mungkin mampu mencari jalur perdagangan baru, memperkuat hubungan dengan China dan Rusia, memperbesar penggunaan mata uang nasional, bahkan bergabung dengan New Development Bank. Tetapi seluruh langkah tersebut belum tentu mampu dengan cepat menghilangkan dampak sanksi dan tekanan ekonomi domestik.
Pada akhirnya, pertarungan Washington dan Teheran bukan hanya mengenai siapa yang memiliki kekuatan militer lebih besar atau siapa yang mampu mengendalikan Selat Hormuz.
Pertarungan tersebut juga menyangkut siapa yang mampu bertahan lebih lama menghadapi tekanan ekonomi.
Bagi Iran, ancaman paling serius dapat muncul ketika biaya konfrontasi eksternal mulai dirasakan secara langsung oleh masyarakat: melalui harga barang, bahan bakar, lapangan pekerjaan, pendapatan, serta memburuknya pelayanan publik.
Dengan demikian, keinginan Iran bergabung dengan bank pembangunan BRICS merupakan langkah penting, tetapi bukan jalan keluar instan. Di tengah sanksi, tekanan domestik, ketidakpastian pelayaran, dan krisis lingkungan yang berkembang di kawasan, Teheran kini menghadapi ujian besar: apakah strategi “berpaling ke Timur” benar-benar mampu memberikan ruang bernapas bagi ekonominya, atau justru tekanan akan meningkat lebih cepat daripada kemampuan pemerintah Iran untuk mengatasinya. (***)





