Universitas Gadjah Mada (UGM) berencana mengembangkan pendeteksi kanker serviks dengan bantuan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Hal ini disampaikan oleh Rektor UGM, Prof. Ova Emilia, di sela acara UGM Indosat NVIDIA AI Technology Center (NVAITC) di Gelanggang Inovasi dan Kreatifitas (GIK) UGM, Yogyakarta, Kamis (13/7).
Prof. Ova mengatakan hambatan terbesar dalam penanggulangan kanker serviks di Indonesia ternyata bukan hanya soal ketersediaan alat medis atau biaya, melainkan faktor psikologis dan sosiokultural. Berangkat dari realitas tersebut. Ia dan tim di UGM tengah memimpin riset pengembangan AI untuk menciptakan metode skrining yang non-invasif dan lebih privat.
"Banyak hal yang bisa kita buat dari AI yang murah, affordable, dan saya kira ini nanti bukan hanya bermanfaat di Indonesia tapi juga untuk di global," kata Prof. Ova. "Saya juga sekarang sedang mengembangkan AI tapi yang kaitannya dengan cervical cancer screening."
Prof. Ova mengungkapkan kegelisahannya terhadap rendahnya cakupan skrining kanker serviks di Indonesia yang saat ini masih berada di bawah angka 3 persen. Maka itu perlu dicari cara yang lebih nyaman dan tidak membuat malu saat pemeriksaan kanker serviks.
"Terkait dengan AI ini terkait dengan masalah apa, kendala apa yang sekarang dilihat. Misalnya kenapa kok kanker serviks masih banyak di Indonesia? Ternyata karena malu (periksa mandiri)," ujarnya.
Menurutnya, prosedur skrining konvensional seringkali dianggap mengintimidasi bagi sebagian besar perempuan Indonesia. Oleh karena itu, riset kecerdasan buatan yang sedang ia kembangkan bertujuan untuk mengubah cara pengambilan sampel medis menjadi jauh lebih sederhana, mirip dengan kemudahan tes kehamilan mandiri.
"Terus akhirnya kepikiran berarti kita ambil sampel yang lain (untuk cek kanker serviks), sampel kencing (misalnya), seperti orang kalau cek hamil. Artinya itu suatu terobosan," bebernya.
Prof. Ova menjelaskan teknologi AI memungkinkan tenaga medis untuk mengidentifikasi indikator kanker melalui sampel yang tidak invasif, seperti urine. Logika ini serupa dengan pengembangan alat deteksi COVID-19, GeNose, yang kemudian bertransformasi menjadi pendeteksi tuberkulosis.
Prof. Ova mengatakan pengembangan AI di kampus tidak ditentukan dirinya sebagai manajer di kampus, tetapi berdasarkan kebutuhan masyarakat sesuai payung-payung penelitian. Lead Researcher UGM, Dr. Nur Mohammad Farda, mengatakan perkembangan ke depan AI tidak hanya di bidang geografi maupun kesehatan tetapi juga menggaet semua fakultas baik teknik, ekonomi, bahlan hingga hukum.
"Banyak digunakan dari bermacam aspek. Tadi itu sekarang banyak digunakan. Ternyata kita bisa menggabungkan riset kita (antar fakultas). Semakin lama bisa semakin kolaborasi," kata Farda.
Sebelumnya, Indosat Ooredoo Hutchison (Indosat/IOH), Nvidia, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), dan UGM meluncurkan NVAITC di GIK UGM. NVAITC menjadi pusat teknologi AI berbasis universitas pertama di Indonesia yang tujuannya untuk penelitian, inovasi, dan pengembangan talenta di bidang digital.
UGM Indosat NVAITC sebagai bagian dari inisiatif Indonesia AI Center of Excellence (AI CoE) yang menjadi wadah pemerintah, pemimpin teknologi global, industri, dan akademisi mengakselerasi penelitian AI terapan.





