Bicara Saat Sidang Tahunan MPR, Ahmad Muzani Singgung Adab Menyampaikan Aspirasi

jpnn.com
4 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com, JAKARTA - Ketua MPR Ahmad Muzani menyampaikan pentingnya menjaga adab dan kesantunan ketika menyampaikan aspirasi di tengah keberagaman pandangan politik bangsa.

Pernyataan tersebut disampaikannya saat Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR serta DPD di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8).

BACA JUGA: Sidang Tahunan MPR Dihadiri 629 dari 732 Anggota, Cukuplah

Muzani mengatakan demokrasi yang sehat bukanlah proses penyampaian aspirasi yang dipenuhi dengan celaan.

"Kita boleh berbeda pandangan, tetapi perbedaan itu hendaknya disampaikan dengan budi dan bahasa yang baik," kata Muzani, Jumat.

BACA JUGA: Sidang Tahunan MPR, Megawati & SBY Absen, Jokowi Hadir

Muzani pun mengutip bait dari pujangga besar melayu Raja Ali Haji yang tertuang dalam karya legendaris Gurindam Dua Belas terkait pentingnya menjaga adab dalam demokrasi.

"Pujangga besar Melayu dari Pulau Penyengat, Raja Ali Haji, menulis dalam Gurindam Dua Belas, ‘Jika hendak mengenal orang berbangsa, lihat kepada budi dan bahasa.’ Demokrasi tidak akan menjadi lebih kuat karena kita semakin keras mencela,” kata politikus senior Gerindra itu.

BACA JUGA: Prabowo Tiba di Gedung DPR, Disambut Ketua MPR dan DPD, Tetapi Tak Ada Puan

Muzani mengatakan keseimbangan antara kebebasan dan tanggung jawab sebenarnya menjadi kekuatan demokrasi.

"Demokrasi akan menjadi kuat jika kebebasan berbicara disertai tanggung jawab, jika kemerdekaan bicara disampaikan dengan argumentasi, dan jika perbedaan tidak dijadikan alasan penghinaan,” kata dia.

Muzani juga mengungkit perkembangan zaman, khususnya teknologi digital yang terus maju mengubah lanskap penyampaian aspirasi publik.

"Setiap warga dapat menyampaikan pendapat, memperoleh informasi, dan terlibat dalam perdebatan publik," lanjut dia.

Menurut dia, teknologi digital yang pesat dalam penyampaian aspirasi menjadi pisau bermata dua, karena bisa membawa penyebaran masif informasi negatif.

"Namun, teknologi yang sama juga dapat menyebarkan kebencian, fitnah, manipulasi, dan kabar bohong dalam kecepatan yang belum pernah kita alami sebelumnya,” ungkap Muzani.

Dia pun mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjaga ruang publik secara bermartabat dan mencegah perpecahan akibat perbedaan pilihan politik.

Muzani mendorong lahirnya budaya politik baru yang mengedepankan rasionalitas tanpa meninggalkan kesantunan.

“Kita tidak boleh membiarkan ruang publik dipenuhi bahasa yang merendahkan martabat manusia. Kita tidak selayaknya membiarkan perbedaan politik merusak persahabatan, memecah keluarga, atau menanamkan kebencian di antara sesama anak bangsa," ujarnya. (ast/jpnn)


Redaktur : Sutresno Wahyudi
Reporter : Aristo Setiawan


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
JKN Indonesia Disebut Salah Satu Sistem Jaminan Kesehatan Terbesar di Dunia
• 27 menit lalumedcom.id
thumb
Viral Video Diduga Cekcok Orang Tua Siswa Dengan Oknum Guru Di SDN 14 Tamalatea Jeneponto
• 18 jam laluterkini.id
thumb
Pemerintah Diminta Dampingi Korban Serangan Houthi di Yaman
• 17 jam lalukompas.com
thumb
Benarkan Kabar Banting Setir Jualan Sayur Pasca Bercerai, Insanul Fahmi Ungkap Alasannya
• 21 jam lalugrid.id
thumb
Prabowo Targetkan 30.000 Koperasi Merah Putih Beroperasi Akhir 2026
• 4 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.