Musim Panjat Pinang, Musim Rezeki Kafi dan 8 Pekerjanya

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Batang-batang pohon pinang mulai memenuhi tempat usaha Kafi (55) di Jalan Manggarai Utara 2, Tebet, Jakarta Selatan, menjelang perayaan HUT 81 RI.

Di tengah tumpukan batang yang mencapai panjang hingga 11 meter itu, Kafi bersama para pekerjanya sibuk menyiapkan kebutuhan lomba panjat pinang.

Bagi Kafi, Agustus menjadi bulan tersendiri. Sebab, selain menjalankan usaha bambu yang menjadi sumber penghasilan utamanya sepanjang tahun, ia kembali menyediakan batang pinang yang banyak dicari untuk perlombaan 17 Agustus.

“Kalau pohon pinang istilahnya musiman, hanya ada bulan Agustus. Itu pun dari bulan Agustus sampai paling pertengahan September,” kata Kafi saat ditemui kumparan, Jumat (14/8).

Tahun ini, Kafi mengambil 10 batang pinang dari pemasok di Rangkasbitung. Hingga 14 Agustus, empat batang di antaranya telah terjual. Ia pun masih berharap permintaan kembali bertambah menjelang hari kemerdekaan.

“Kalau sekarang kan belum ketahuan karena waktunya masih ada. Masih ada harapan. Tanggal 17 kan hari Senin, masih ada dua hari lagi,” ujar Kafi.

Namun, usaha musiman tersebut bukan hanya menjadi sumber penghasilan bagi Kafi. Ada delapan pekerja yang ikut terlibat menyiapkan batang pinang sebelum dikirim kepada pembeli.

Salah satunya Zainal (38), yang telah bekerja bersama Kafi sejak 2003. Ia bertugas mengolah batang pinang dari kondisi mentah hingga siap digunakan dalam perlombaan.

“Proses pengerjaannya dari awal masih mentah. Terus kita serut dari ujung sampai ujung. Setelah itu diamplas. Habis diamplas, baru kita bikin lingkaran di atasnya,” jelas Zainal.

Untuk mengerjakan satu batang, Zainal membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk proses penyerutan. Sementara pembuatan lingkaran di bagian atas membutuhkan waktu sekitar dua jam.

Ia menjelaskan, batang pinang sengaja diserut hingga licin untuk menambah tantangan bagi peserta yang berlomba mencapai puncak.

“Kalau sudah diserut, justru dibuat supaya licin sehingga susah dinaiki,” terang dia.

Di sisi lain, Kafi sendiri bukan pedagang pinang musiman sejak awal. Pria asal Bojongsoang itu telah menekuni usaha bambu sejak akhir 1980-an bersama orang tuanya.

Baru pada 1996, setelah orang tuanya meninggal, Kafi mencoba menjual batang pinang untuk memenuhi kebutuhan lomba 17-an.

“Orang tua saya dulu nggak pernah jualan pinang. Setelah orang tua saya meninggal, saya coba-coba ke pinang. Kayaknya enak, ya sudah saya coba,” tutur Kafi.

Sejak saat itu, batang pinang menjadi salah satu dagangan tambahan Kafi setiap memasuki bulan Agustus. Berbeda halnya dengan bambu yang dapat dijual sepanjang tahun, menurut Kafi, batang pinang memiliki masa permintaan yang jauh lebih pendek dan sulit dimanfaatkan kembali.

“Memang dagangan kita bambu. Bertahun-tahun juga pasti kuat. Beda kalau pinang, paling juga dua bulan,” sebut Kafi.

“Ya dipotong-potong. Nggak jadi apa-apa, nggak bisa digunain lagi,” tambahnya.

Batang pinang yang dijual Kafi memiliki ukuran standar sekitar 9 meter dengan harga berada di kisaran Rp1 juta per batang, tergantung jarak pengiriman.

Kafi bercerita, dirinya pernah mengirim batang sepanjang 11 meter ke Kelapa Gading dengan harga Rp 1,2 juta. Sementara pengiriman terjauh yang pernah dilakukannya hingga Karawang membutuhkan ongkos angkut sekitar Rp 800 ribu.

“Sekitar Rp 800 ribu. Itu belum termasuk biaya untuk turun-naiknya,” bebernya.

“Kemarin aja saya gotong yang 11 meter, enam orang aja hampir nggak kuat,” lanjut Kafi.

Dalam kondisi normal, Kafi memperkirakan usaha pinangnya dapat menghasilkan omzet kotor sekitar Rp 7 juta dari modal sekitar Rp 5 juta apabila seluruh stok terjual. Namun, angka tersebut belum dikurangi biaya pekerja dan kebutuhan lainnya.

“Paling kalau semuanya modalnya Rp 5 juta, paling itu kotor Rp 7 juta. Belum bayar yang serut,” tutur Kafi.

Meski menjadi usaha tambahan, keberadaan pinang setiap Agustus turut membuka pekerjaan bagi para pekerjanya. Zainal, misalnya, telah bertahan lebih dari dua dekade mengerjakan batang bambu dan pinang di tempat tersebut.

“Alhamdulillah, berkah. Orang-orang bisa bekerja di sini,” kata dia.

Selain batang pinang, momentum perayaan kemerdekaan juga membawa peluang bagi usaha utama Kafi, yakni bambu. Ia mulai mengecat bambu untuk tiang bendera merah putih sejak bulan Juni.

Kafi mengaku, tahun ini hampir 2 ribu batang bambu telah disiapkan dengan harga sekitar Rp 15 ribu per batang.

“Kemarin kurang lebih saya hampir 2 ribu batang. Ya kita jual standar aja sih, paling Rp 15 ribu,” sebut Kafi.

Bagi Kafi, kemeriahan HUT RI menjadi kesempatan bagi pedagang untuk ikut merasakan manfaat dari tradisi yang terus dijalankan masyarakat setiap tahun.

“Bulan Agustus itu bukan milik saya pribadi, tapi milik seluruh masyarakat Indonesia. Jadi semuanya mungkin ada harapan juga kalau 17-an,” tutur dia.

“Tiang bendera lebih laku. Bambu kecil yang biasanya jarang orang pakai, kita cat warna merah putih jadi laku. Harapannya kayak gitu. Jadi harapannya 17-an, laku,” pungkasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Anugerah Soekasada 2026 Apresiasi Dua Perempuan Pelestari Budaya
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Konstruksi Smelter HPAL Pomalaa Tuntas 100 Persen, PT Vale Bersiap Masuk Tahap Operasional
• 17 jam lalupantau.com
thumb
Ketua DPD Soroti Penyesuaian Dana Transfer ke Daerah, Minta Layanan Dasar Tetap Jadi Prioritas
• 2 jam laluidxchannel.com
thumb
Prabowo Pidato 2 Kali Hari Ini, Pagi Kenegaraan, Siang Bahas APBN 2027
• 5 jam lalukompas.tv
thumb
Petugas gabungan bongkar sembilan bangunan liar di Kalideres Jakbar
• 10 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.