Jakarta (ANTARA) - Ekonom Bank Danamon Hosianna Situmorang menilai komposisi pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan akan semakin banyak didorong oleh investasi.
"Pidato Presiden pagi ini memperkuat pandangan kami bahwa komposisi pertumbuhan Indonesia semakin didorong oleh investasi seiring dengan normalisasi stimulus fiskal," kata Hosianna dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.
Adapun Presiden Prabowo Subianto dalam Pidato Kenegaraan 2026 menyatakan keyakinannya bahwa pertumbuhan ekonomi dapat mendekati angka 6 persen pada akhir tahun ini, memperkuat target pemerintah untuk meningkatkan pertumbuhan melampaui tren 5 persen yang tercatat belakangan ini di Indonesia.
Momentum investasi tetap mendukung, dengan realisasi mencapai Rp1.010,6 triliun pada semester pertama tahun 2026 (naik 7,2 persen secara tahunan/yoy) atau setara dengan 49,5 persen dari target tahun anggaran 2026, serta menciptakan sekitar 1,45 juta lapangan kerja.
Kendati demikian, Presiden menegaskan bahwa pertumbuhan dan investasi merupakan instrumen, bukan tujuan akhir, di mana peningkatan kesejahteraan rumah tangga tetap menjadi tujuan utama kebijakan.
Hosianna menilai realisasi investasi yang kuat diperkirakan akan terus menopang pertumbuhan. Namun, untuk mencapai target ambisius pemerintah sebesar 6 persen secara berkelanjutan, investasi perlu diterjemahkan menjadi peningkatan produktivitas, lapangan kerja, dan pendapatan rumah tangga.
"Hal ini sangat penting mengingat indikator rumah tangga terkini masih menunjukkan dinamika konsumsi yang cenderung berhati-hati," ujar dia.
Selain investasi dan pertumbuhan ekonomi, Presiden Prabowo juga menekankan pentingnya ketahanan pangan dan energi nasional dalam pidatonya hari ini.
Kepala Negara menekankan kemandirian pangan untuk delapan komoditas, yang didukung oleh peningkatan produksi dalam negeri dan perbaikan rantai pasok pertanian.
Di sektor energi, pemerintah telah melanjutkan kebijakan mandatori biodiesel B50 yang bertujuan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor solar secara substansial.
Hosianna mengatakan agenda kemandirian pangan dan energi bersifat konstruktif secara struktural, tapi dampaknya terhadap keseimbangan eksternal lebih kompleks daripada yang tersirat dari angka-angka utamanya.
"Oleh karena itu, transisi menuju kemandirian yang lebih besar dapat memperkuat neraca transaksi berjalan secara struktural, namun mungkin tidak serta-merta menghasilkan defisit yang lebih kecil," ujar dia.
Baca juga: Prabowo: Keuntungan BUMN digunakan untuk percepat hilirisasi
Baca juga: Prabowo: Dividen BUMN 2025 naik 67 persen jadi Rp142,3 triliun
Baca juga: Prabowo apresiasi kinerja Danantara, janjikan pimpinan dapat bintang kehormatan
"Pidato Presiden pagi ini memperkuat pandangan kami bahwa komposisi pertumbuhan Indonesia semakin didorong oleh investasi seiring dengan normalisasi stimulus fiskal," kata Hosianna dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.
Adapun Presiden Prabowo Subianto dalam Pidato Kenegaraan 2026 menyatakan keyakinannya bahwa pertumbuhan ekonomi dapat mendekati angka 6 persen pada akhir tahun ini, memperkuat target pemerintah untuk meningkatkan pertumbuhan melampaui tren 5 persen yang tercatat belakangan ini di Indonesia.
Momentum investasi tetap mendukung, dengan realisasi mencapai Rp1.010,6 triliun pada semester pertama tahun 2026 (naik 7,2 persen secara tahunan/yoy) atau setara dengan 49,5 persen dari target tahun anggaran 2026, serta menciptakan sekitar 1,45 juta lapangan kerja.
Kendati demikian, Presiden menegaskan bahwa pertumbuhan dan investasi merupakan instrumen, bukan tujuan akhir, di mana peningkatan kesejahteraan rumah tangga tetap menjadi tujuan utama kebijakan.
Hosianna menilai realisasi investasi yang kuat diperkirakan akan terus menopang pertumbuhan. Namun, untuk mencapai target ambisius pemerintah sebesar 6 persen secara berkelanjutan, investasi perlu diterjemahkan menjadi peningkatan produktivitas, lapangan kerja, dan pendapatan rumah tangga.
"Hal ini sangat penting mengingat indikator rumah tangga terkini masih menunjukkan dinamika konsumsi yang cenderung berhati-hati," ujar dia.
Selain investasi dan pertumbuhan ekonomi, Presiden Prabowo juga menekankan pentingnya ketahanan pangan dan energi nasional dalam pidatonya hari ini.
Kepala Negara menekankan kemandirian pangan untuk delapan komoditas, yang didukung oleh peningkatan produksi dalam negeri dan perbaikan rantai pasok pertanian.
Di sektor energi, pemerintah telah melanjutkan kebijakan mandatori biodiesel B50 yang bertujuan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor solar secara substansial.
Hosianna mengatakan agenda kemandirian pangan dan energi bersifat konstruktif secara struktural, tapi dampaknya terhadap keseimbangan eksternal lebih kompleks daripada yang tersirat dari angka-angka utamanya.
"Oleh karena itu, transisi menuju kemandirian yang lebih besar dapat memperkuat neraca transaksi berjalan secara struktural, namun mungkin tidak serta-merta menghasilkan defisit yang lebih kecil," ujar dia.
Baca juga: Prabowo: Keuntungan BUMN digunakan untuk percepat hilirisasi
Baca juga: Prabowo: Dividen BUMN 2025 naik 67 persen jadi Rp142,3 triliun
Baca juga: Prabowo apresiasi kinerja Danantara, janjikan pimpinan dapat bintang kehormatan





