JAKARTA, KOMPAS — Obesitas kerap dipandang sebatas persoalan penampilan akibat pola makan berlebih atau kurang berolahraga. Padahal, kondisi ini merupakan penyakit kronis yang kompleks dan membutuhkan penanganan komprehensif oleh tenaga profesional.
Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Gizi Klinik Indonesia (PDGKI) Erwin Christianto, dalam acara ”Peluncuran Kampanye Edukasi mengenai Obesitas #BeraniBicaraBerat: Awali dengan Langkah yang Tepat” di Jakarta, Jumat (14/8/2026), mengatakan, obesitas tidak sekadar dipicu kelebihan makan, tetapi merupakan persoalan kesehatan yang kompleks.
“Obesitas itu adalah suatu penyakit yang disebabkan karena berbagai faktor sehingga penanganannya juga tidak bisa hanya dengan mengurangi makan, mengurangi nasi, atau tidak makan nasi,” katanya.
Menurut Erwin, otak manusia juga punya peran yang besar dalam memengaruhi pola makan seseorang. Kebiasaan makan tidak selalu didorong karena rasa lapar. Kebiasaan mengonsumsi camilan manis sejak kecil dapat membawa diri terbiasa mengonsumsi makanan manis hingga usia dewasa.
Hal serupa dapat terjadi ketika seseorang mengalami stres. Dalam kondisi tertekan, termasuk akibat beban pekerjaan, seseorang cenderung mencari makanan manis sebagai pelampiasan. Karena itu, penanganan obesitas yang berkaitan dengan kebiasaan tersebut juga memerlukan pendekatan psikologis.
Erwin mengatakan, sebagai penyakit kronis, obesitas perlu ditangani dengan bantuan tenaga profesional. Seseorang yang mengalami obesitas sebaiknya segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan tanpa harus menunggu munculnya komplikasi penyakit lain.
Obesitas itu adalah suatu penyakit yang disebabkan karena berbagai faktor sehingga penanganannya juga tidak bisa hanya dengan mengurangi makan.
Tanda obesitas yang paling mudah terlihat dengan mengukur indeks massa tubuh. Jika indeks massa tubuh sudah lebih dari skor 25, itu patut dicurigai sebagai obesitas. Indeks massa tubuh bisa diukur dengan menghitung berat badan dalam kilogram dibagi dengan kuadrat dari tinggi badan dalam meter.
Selain itu, obesitas dapat dihitung dari lingkar perut seseorang. Obesitas pada laki-laki bisa diidentifikasi jika lingkar perut lebih dari 90 sentimeter dan perempuan lebih dari 80 sentimeter. Obesitas dari lingkar perut ini disebut juga sebagai obesitas sentral.
Kecurigaan terhadap obesitas dapat pula diidentifikasi dari ukuran pakaian. Apabila pakaian yang biasa digunakan terasa lebih sesak atau bahkan tidak bisa dikancing, itu perlu diwaspadai sebagai tanda kelebihan berat badan yang berisiko pada obesitas.
“Agar penanganan obesitas tidak terlambat, pertama harus amati tanda-tandanya, kemudian ukur dengan menimbang berat badan dan lingkar perut serta melakukan pemeriksaan, lalu bertindak untuk penanganan,” ujar Erwin.
Serial Artikel
Apa Penyebab Sesungguhnya Obesitas?
Obesitas menjadi pangkal segala penyakit tidak menular. Apa sebenarnya penyebab kegemukan atau obesitas?
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Endokrinologi Indonesia (Perkeni) Em Yunir menuturkan, kondisi obesitas akibat penumpukan jaringan lemak perlu diwaspadai terutama akibat penumpukan pada rongga perut. Penumpukan lemak yang terjadi di rongga perut dinilai lebih berbahaya dibandingkan penumpukan pada bagian tubuh lainnya.
Lemak pada rongga perut atau disebut dengan lemak visceral tidak hanya menambah berat badan, melainkan juga meningkatkan risiko penyakit pada organ yang berada di sekitar rongga perut, antara lain penyakit jantung, penyakit ginjal, serta penyakit terkait pembuluh darah lain seperti stroke.
Itu sebabnya, kesadaran untuk mencegah dan menangani penumpukan lemak di rongga perut harus ditingkatkan. Selain dengan mengukur lingkar perut, berbagai teknologi pemeriksaan komposisi tubuh kini telah tersedia untuk menghitung lemak berlebih pada tubuh.
Pemeriksaan tersebut pun memungkinkan untuk menghitung massa otot dalam tubuh. Dengan data tersebut, dokter dapat menentukan terapi yang lebih tepat bagi pasien obesitas.
Yunir menyampaikan, upaya untuk menurunkan berat badan lewat pengaturan pola makan dan gaya hidup biasanya hanya efektif untuk menurunkan bobot maksimal 30 persen. Setelah mencapai titik tersebut, tubuh akan cenderung mencari keseimbangan metabolisme baru sehingga penurunan berat badan akan terasa mandek. Pada kondisi tersebut, intervensi tambahan seperti obat-obatan bisa diberikan untuk membantu proses penurunan berat badan lebih optimal.
Wakil Menteri Kesehatan yang juga Ketua Himpunan Studi Obesitas Indonesia (Hisobi) Dante Saksono Harbuwono menambahkan, penggunaan obat-obatan untuk mengatasi obesitas sudah banyak berkembang. Studi keamanan dan khasiat dari obat-obatan untuk obesitas telah terbukti dari berbagai riset dan penelitian.
Ia mengatakan, persoalan obesitas tidak boleh disepelekan. Angka obesitas di Indonesia pun cukup tinggi. Setidaknya satu dari empat penduduk Indonesia mengalami obesitas dengan prevalensi sebesar 23,4 persen.
Penanganan obesitas mesti komprehensif. Obesitas dapat memicu terjadinya peradangan pada tubuh yang dapat merusak pembuluh darah. Jika tidak dikendalikan, kondisi tersebut akan menyebabkan penyakit yang lebih berat, seperti hipertensi, diabetes, penyakit ginjal, jantung, dan stroke.
“Obesitas adalah penyakit yang dapat menyebabkan gangguan dari pembuluhan darah. Jadi obesitas ini harus diatasi sebagai penyakit, bukan hanya soal masalah penampilan saja,” kata Dante.
Selain faktor lingkungan dan kebiasaan, Yunir menambahkan, faktor genetik patut menjadi perhatian masyarakat. Istilah “bakat gemuk” pada seseorang bisa terjadi pada orang yang memiliki genetik gemuk di keluarga.
Faktor genetik tersebut umumnya terjadi karena seseorang memiliki sistem metabolisme yang rendah. Kondisi itu menyebabkan tubuh cenderung menyimpan cadangan kalori sebagai lemak, bukan membakarnya sebagai sumber energi.
Sebaliknya, pada orang dengan gen yang cenderung kurus biasanya memiliki sistem metabolisme yang tinggi. Pada kelompok orang tersebut akan cenderung sulit gemuk meski makan dalam porsi besar
Meski begitu, Yunir menyampaikan, bakat genetik tersebut tidak serta-merta membuat seseorang pasti mengalami obesitas. Faktor lingkungan dan gaya hidup tetap lebih menentukan apakah potensi genetik tersebut akan benar-benar menjadi obesitas.
“Jadi kalau misalnya dari kecil sudah ketahuan punya bakat gemuk, itu harus lebih hati-hati dalam menjadi faktor lingkungannya. Aktivitas fisik harus dijaga dengan baik, juga pola makannya. Jangan sampai lingkungan semakin mendukung muncul terjadinya obesitas,” tuturnya.





