MBG dan Asa Anak Indonesia

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Senyum sumringah terpancar dari wajah Azmya Raesha Ridwania, saat mobil minibus milik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang mengantar menu Makan Bergizi Gratis (MBG) masuk dan terparkir di halaman SD Negeri Kadudampit, Kampung Puncaksuji, Desa Rancagoong, Kecamatan Cilaku, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Kedatangan mobil pengantar menu MBG itu kini kembali selalu ditunggu, tidak hanya oleh dirinya, yang merupakan siswi berusia 10 tahun yang duduk di bangku kelas IV. Tapi, juga oleh ratusan siswa lainnya yang ada di sekolah itu.

Azmya, anak perempuan yang telah lama ditinggal meninggal dunia oleh ayahnya itu mengaku sangat senang mendapatkan menu MBG setiap harinya. Selain dapat menghemat uang jajannya, menu MBG yang didapatnya juga dinilai bisa memenuhi semua asupan gizi yang dibutuhkannya.

"Bahagia, senang juga. Karena kalau enggak sempat sarapan di rumah, bisa sarapan di sekolah, kemudian karena di menu MBG ada buah jadi aku makan buah setiap hari," kata Azmya, saat ditemui di sekolahnya, Jumat (7/8/2026) .

Meskipun, saat ini menu MBG yang disajikan sudah cukup baik. Azmya, meminta menunya agar lebih bervariasi dan semakin enak.

"Menu favoritnya roti isi sama telur, susu, buah-buahan juga. Ya, jadi tambah semangat aja buat selalu hadir di sekolah. Sekarang, aku bisa ngelanjutin nabung lagi, buat beli barang yang aku pengin," ujarnya.

Pelaksanaan program MBG dinilai membawa perubahan bagi para siswa. Selain disiplin untuk membiasakan sarapan dengan menu sehat. Menurut Kepala SD Kadudampit, Eka Hikmatika, program Presiden Prabowo Subianto ini telah sesuai yang dibutuhkan siswa.

“Perubahan terjadi pada anak-anak yaitu mengurangi uang jajan serta kebiasaan untuk makan buah dan sayuran. Karena kebanyakan anak-anak tidak suka makan buah dan sayuran. Serta makan bersama dapat meningkatkan kebersamaan," ujar Eka.

“Kami belum melihat peningkatan konsentrasi belajar setelah program MBG ini ada. Namun, Program MBG ini dapat meningkatkan kehadiran siswa di sekolah. Dari awal Program MBG ini masuk ke sekolah, siswa selalu antusias. Terlebih lagi jika menu yang disajikan menu favorit mereka," sambungnya.

Asa Menabung Para Siswa

Tak hanya soal perbaikan kualitas gizi para siswa, program MBG membantu siswa mengatur uang tabungannya. Salah satunya dirasakan oleh Khumaira Azzahra. Siswa kelas XI SMAN 2 Kota Serang itu mengaku bisa menikmati makanan di sekolah tanpa harus mengeluarkan uang jajannya.

"Cukup bagus sih, karena bisa membantu hemat dalam penggunaan uang jajan juga, makanannya juga cukup enak, cukup ngenyangin juga," kata Khumaira.

Uang yang ia dapat dari orang tuanya ditabung untuk membeli keperluan ke depannya. Khumaira bercerita, dulunya uang yang diberikan orang tuanya digunakan untuk membeli makanan ketika jam istirahat. Kini, sebagian uang tersebut dapat disisihkan.

Dalam sehari, Khumaira mengaku bisa menabung sekitar Rp 5.000 hingga Rp 10.000. Sebelum ada MBG, ia mengaku bisa menabung, tapi tak sebesar sekarang.

Uang tersebut bukan sekadar tersimpan. Khumaira menggunakannya untuk memenuhi berbagai kebutuhan, termasuk keperluan sekolah. "Iya, sudah bisa beli keperluan sekolah sendiri," ujarnya.

Bagi seorang pelajar SMA, kemampuan menyisihkan uang mungkin terlihat sederhana. Namun bagi Khumaira, kebiasaan itu menjadi pengalaman baru dalam mengelola keuangan sekaligus belajar membedakan kebutuhan dan keinginan.

Cerita serupa juga dirasakan Sapturo Amin, teman satu sekolah Khumaira. Siswa kelas XI tersebut mengaku MBG membantu mengurangi pengeluaran untuk makan.

Uang yang sebelumnya harus dialokasikan untuk jajan kini dapat dibagi untuk kebutuhan lain.

"Uang jajan saya lebih terorganisir, jadi buat pengeluaran ada, buat ditabung ada," kata Sapturo.

Bahkan, Sapturo mulai menggunakan uang tabungannya untuk membeli kebutuhan sekolah seperti buku dan pulpen. Bagi keluarganya yang memiliki keterbatasan ekonomi, keberadaan MBG juga dirasakan sebagai bantuan yang berarti.

"Alhamdulillah cukup membantu, bisa membantu juga buat keluarga yang tidak mampu," ujarnya.

Di meja makan sekolah, manfaat MBG bagi kedua siswa itu akhirnya tidak berhenti pada persoalan apakah makanan yang diberikan cukup mengenyangkan.

Ada manfaat lain yang lebih dekat dengan keseharian mereka: uang saku menjadi lebih teratur dan sebagian dapat disimpan untuk kebutuhan di kemudian hari.

Meski merasakan manfaat program tersebut, Khumaira dan Sapturo tidak segan memberikan masukan. Keduanya berharap menu MBG ke depan semakin beragam. Bagi siswa SMA yang sebagian besar merupakan generasi Z, variasi makanan menjadi salah satu hal yang menentukan ketertarikan mereka terhadap menu yang disajikan.

Khumaira berharap menu MBG dapat lebih dekat dengan selera anak-anak seusianya. "Mungkin makanannya bisa diterima kalangan masa kini untuk anak-anak SMA seperti kami," katanya.

Sapturo memiliki pandangan serupa. Menurut dia, variasi menu penting agar siswa tidak merasa bosan.

"Gen Z biasanya perlu makanan yang lagi viral sekarang. Jadi dimohon lebih baik lagi biar anak Gen Z juga pada suka," ujar Sapturo.

Gizi di Tengah Kesibukan Belajar

Manfaat MBG tak hanya dirasakan siswa, pihak sekolah pun turut merasakannya. Program tersebut dinilai perlahan membentuk kebiasaan makan yang lebih teratur.

Wakil Kepala SMAN 2 Kota Serang, Sulaeman, mengatakan perubahan kondisi kesehatan siswa secara langsung memang tidak mudah terlihat dalam waktu singkat. Namun, perubahan pola makan justru mulai terasa.

"Anak-anak yang dari rumahnya belum makan, bisa makan di sini, di sekolah," kata Sulaeman.

Menurut dia, MBG setidaknya membuat siswa terbiasa mendapatkan makanan pada waktu yang lebih teratur. Meski demikian, perubahan kebiasaan makan tidak berlangsung seragam.

Ada siswa yang sudah terbiasa menyantap sayuran, tetapi ada pula yang masih memilih-milih makanan. Begitu juga dengan lauk yang disajikan.

Karena itu, menurut Sulaeman, manfaat program tidak bisa semata-mata diukur dari perubahan fisik yang terlihat. "Perubahannya memang enggak terlalu signifikan. Ada anak yang suka makan sayuran, ada juga yang enggak," ujarnya.

Namun, ada satu perubahan yang lebih mudah diamati di lingkungan sekolah: semangat siswa setelah mendapatkan makanan bergizi.

Di SMAN 2 Kota Serang, lanjut dia, MBG diberikan setelah istirahat pertama. Menurut Sulaeman, waktu tersebut membuat keberadaan makanan bergizi terasa dalam aktivitas belajar siswa hingga jam sekolah berakhir.

"Kalau konsentrasi belajar sih ada, setelah istirahat. Ada perubahan, anak semangat lah," katanya.

Program MBG tidak hanya berbicara tentang menyediakan makanan bagi siswa. Ada upaya untuk memperkenalkan bahwa makanan yang masuk ke tubuh juga memiliki fungsi lain yakni, menyediakan energi dan nutrisi yang dibutuhkan anak selama menjalani aktivitas belajar.

Sulaeman menilai pemenuhan gizi menjadi bagian penting dari proses pendidikan. Sebab, apa yang dikonsumsi anak di rumah belum tentu memiliki komposisi yang terukur.

"Orang tua kan bukan ahli gizi. Apa yang jadi kesenangan anak itu dibelikan dan dimasak di rumah," katanya.

Karena itu, keberadaan MBG di sekolah sekaligus menjadi kesempatan untuk membiasakan siswa mengenal makanan dengan kandungan gizi yang lebih terukur.

"Di SMA 2 anak-anak sudah dibiasakan makan makanan bergizi. Bahwa memang makan bergizi gratis ini buat anak-anak sangat diperlukan," ujar Sulaeman.

Bekal untuk Masa Pertumbuhan

Bagi Teguh Mahardika, orang tua siswa SMAN 2 Kota Serang, persoalan gizi menjadi semakin penting karena anak-anak masih berada dalam masa pertumbuhan.

Ia berharap pemenuhan gizi yang lebih baik dapat membantu anak tumbuh sehat sekaligus menjalani proses belajar dengan lebih tenang.

"Kita berharap tingkat kecerdasan, terus anak tidak kurang gizi karena pas belajar tidak sempat makan," katanya.

Menurut dia, rasa lapar dapat mengganggu kenyamanan anak ketika belajar. Dengan adanya makanan yang tersedia di sekolah, anak tidak perlu terlalu memikirkan kapan harus membeli makanan atau menahan lapar.

"Kalau ini dipaksa kan bareng sama temannya, jadi ya mudah-mudahan makna ke depan, kesehatan anak bisa terjaga sampai mereka beres masa sekolah," ujar Teguh.

Program MBG, bagi Teguh, juga memberikan rasa tenang karena kebutuhan makan anak selama berada di sekolah menjadi lebih terjamin. Ia mengaku sempat khawatir ketika anak berangkat sekolah tanpa sempat sarapan. Terlebih, ia dan istrinya sama-sama bekerja sehingga tidak selalu memiliki waktu untuk menyiapkan makanan sebelum anak berangkat.

Kini, kekhawatiran tersebut sedikit berkurang. "Pertama, kita tidak khawatir anak berangkat tidak sempat sarapan. Kami dua-duanya bekerja, jadi enggak sempat nyiapin (sarapan). Jadi anak bisa terjamin untuk sarapan atau makannya," kata Teguh.

Menurut Teguh, keberadaan MBG membuatnya tidak lagi terlalu memikirkan apakah anaknya harus membeli makanan ketika lapar di sekolah. Asupan makanan sudah tersedia dan komposisinya pun lebih terarah.

"Alhamdulillah ada lauk, ada telur proteinnya, ada buah-buahannya. Bagus," ujarnya.

MBG Jangan Berhenti di Sini

Teguh memiliki satu harapan sederhana, program MBG terus berlanjut. "Harapan kami, MBG selalu ada. Kenapa harus ada? Karena bagaimanapun anak itu penerus bangsa," katanya.

Namun, keberlanjutan program menurutnya harus berjalan beriringan dengan penguatan pengawasan. Ia menyoroti pentingnya memastikan kualitas makanan, bahan baku, hingga proses pengolahan agar keamanan pangan tetap terjaga.

"Yang harus diperbaiki adalah soal jaminan menu, jadi harus ada kontrol," ujarnya.

Kekhawatiran terhadap kasus keamanan pangan, menurut Teguh, tidak seharusnya menghilangkan manfaat program secara keseluruhan. Yang diperlukan adalah pengawasan yang kuat agar makanan yang diterima anak benar-benar aman dan berkualitas.

"Yakin kalau bagus kontrolnya, dapur dengan masakan-masakan dan kualitas bahan bakunya bagus, saya yakin aman-aman saja. Yang penting kontrolnya," katanya.

Ia juga berharap manfaat MBG tidak hanya dirasakan anak-anak di Pulau Jawa. Program tersebut, menurutnya, perlu menjangkau anak-anak di berbagai wilayah Indonesia, termasuk daerah-daerah yang selama ini memiliki akses lebih terbatas.

Sebab, bagi Teguh, tujuan akhirnya bukan sekadar memastikan anak kenyang. Ia ingin melihat generasi masa depan Indonesia tumbuh lebih sehat, aktif, dan memiliki kemampuan untuk belajar serta berkembang.

"Bagaimanapun anak itu penerus bangsa," kata dia.

BGN Bicara Manfaat MBG

Badan Gizi Nasional (BGN) menjelaskan, dampak program MBG terhadap kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia tidak bisa terlihat dalam waktu singkat.

Hal itu disampaikan Kepala BGN Sudaryono saat menjawab pertanyaan kumparan tentang bagaimana pemerintah mengukur keberhasilan program MBG.

Sudaryono mengatakan, keberhasilan MBG dapat dilihat melalui tiga tahapan, yakni output, outcome, dan impact.

“Jadi program itu selalu ada namanya output, outcome, sama impact,” kata Sudaryono dalam konferensi pers di Kantor BGN, Jumat (7/8).

Tahap pertama yang dijelaskan Sudaryono adalah output. Dalam program MBG, output tersebut berupa makanan yang diberikan kepada penerima manfaat.

“MBG ini program output-nya apa? Output-nya adalah makanan yang aman, bergizi, dan disantap oleh penerima manfaat dengan baik. Itu adalah output-nya,” ujarnya.

Namun, menurut dia, ukuran keberhasilan MBG tidak berhenti pada makanan yang diberikan kepada penerima manfaat.

Tahap berikutnya adalah outcome. Sudaryono menuturkan, perubahan yang terjadi pada penerima manfaat dapat diukur melalui sejumlah indikator.

MBG dan Tingkat Kehadiran Siswa di Sekolah

Salah satunya adalah tingkat kehadiran siswa di sekolah. BGN ingin melihat apakah tingkat kehadiran siswa mengalami peningkatan setelah mendapatkan intervensi melalui MBG.

Outcome-nya bagaimana? Outcome-nya kita ukur. Apa? Misalnya tingkat kehadiran siswa di sekolah, naik atau tidak,” kata Sudaryono.

Selain tingkat kehadiran, tingkat sakit siswa juga dapat diukur.

“Kemudian outcome-nya lagi adalah misalnya tingkat sakit dari siswa itu dihitung, diukur bisa. Ini Kementerian Kesehatan yang ukur, nah itu diukur bisa,” lanjut dia.

Ia melanjutkan, kondisi kesehatan penerima manfaat juga dapat dilihat melalui sejumlah ukuran, termasuk pertumbuhan fisik.

“Kemudian tingkat kesehatannya, tinggi badannya, kurus gemuknya, itu bisa dilihat dari situ,” sebutnya.

Setelah output dan outcome, terdapat tahap impact yang menurut Sudaryono membutuhkan waktu lebih panjang untuk dapat dilihat.

“Lantas yang terakhir adalah baru impact. Impact-nya apa? Impact-nya jangka panjang. Enggak bisa masyarakat kita kasih makan hari ini selama setahun, kemudian langsung. Enggak bisa, ini butuh waktu,” sebut dia.

Karena itu, Sudaryono mengungkap dampak MBG baru dapat dirasakan dalam rentang 5, 10 hingga 15 tahun. Sudaryono kemudian menjelaskan gambaran dampak yang ingin dilihat pemerintah dari program tersebut.

Salah satunya adalah kondisi anak yang dapat mengikuti kegiatan sekolah tanpa rasa lapar dan mendapatkan kebutuhan gizi yang cukup selama masa tumbuh kembang.

“Karena dengan orang yang datang sekolah tidak lapar, kebutuhan gizinya cukup, di saat dia tumbuh kembang, termasuk ibu hamil dan menyusui juga sama,” bebernya.

Dari kondisi tersebut, Sudaryono mengatakan pemerintah nantinya dapat melihat dampak yang dihasilkan dalam jangka panjang.

“Itu kemudian kita bisa lihat impact-nya, peningkatan, apa sih namanya itu, rasio inilah, rasio belajar lah, dan lain-lain, ini kita harapkan nanti impact-nya,” katanya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Prabowo Ingatkan Generasi Muda Pelajari Sejarah Perjalanan Bangsa
• 21 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Mensesneg Sebut Bakal Ada Kejutan dalam Pidato Prabowo di Sidang Tahunan
• 8 jam lalurctiplus.com
thumb
Kampus di Tengah Disrupsi AI: Mengejar Relevansi Tanpa Kehilangan Kemanusiaan
• 9 jam lalukatadata.co.id
thumb
Ulama Tantang Prabowo Hukum Mati Pelaku Korupsi: Terapi Menuju Indonesia Lebih Kondusif
• 11 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Bareskrim: Kapal King Sun 3 Kali Selundupkan Ketamin ke Filipina hingga Taiwan
• 18 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.