Pantau - Anggota Komisi XII DPR RI Ratna Juwita mendesak Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyiapkan skema mitigasi khusus menghadapi gejolak harga minyak mentah dunia akibat eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu rantai pasok energi global.
Ratna mengatakan kondisi geopolitik global berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan dan harga energi dalam negeri, termasuk akibat gangguan pada jalur strategis seperti Selat Hormuz dan Laut Merah.
Pernyataan tersebut disampaikan Ratna di sela-sela Sidang Tahunan MPR RI, Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI, serta Rapat Paripurna DPR RI di Gedung Nusantara, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Menurutnya, fluktuasi harga minyak mentah dunia berpotensi memberikan tekanan terhadap APBN sekaligus meningkatkan beban bagi industri dan masyarakat.
“Kami berharap Kementerian ESDM dalam hal ini harus bisa menyiapkan mitigasi-mitigasi khusus. Kami selalu berkoordinasi dengan Kementerian ESDM, yang penting kita pastikan masyarakat itu akses ketersediaan energinya bisa tercukupi,” tegas Ratna.
Pasokan Migas Dalam Negeri Perlu DiperkuatSelain mengantisipasi dampak jangka pendek gejolak harga minyak dunia, Ratna mengatakan penguatan pasokan minyak dan gas bumi dari dalam negeri harus terus dikawal.
Komisi XII DPR RI juga terus berkoordinasi dengan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), khususnya untuk mendorong pencapaian target produksi dan lifting migas nasional.
Menurut Ratna, penguatan sektor hulu migas diperlukan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap pasokan energi dari luar negeri.
Produksi energi domestik yang semakin kuat dinilai dapat meningkatkan ketahanan Indonesia ketika terjadi gejolak harga maupun gangguan pasokan di pasar energi global.
Energi Terbarukan Jadi Strategi Jangka PanjangRatna menilai penguatan produksi migas dalam jangka panjang perlu berjalan beriringan dengan percepatan pengembangan energi baru dan energi terbarukan (EBT).
Politisi Fraksi PKB tersebut mengatakan Indonesia memiliki potensi sumber daya energi terbarukan yang besar sehingga perlu dimanfaatkan secara optimal untuk memperkuat kedaulatan energi nasional.
Pengembangan energi berbasis sumber daya dalam negeri juga dinilai dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap dinamika geopolitik global.
“Kalau misalnya kita bisa menjamin swasembada energi dalam negeri, kita tidak lagi harus tergantung dengan eskalasi Timur Tengah. Saya yakin Indonesia memiliki resource renewable energy yang sangat luar biasa. Jika kita bisa memaksimalkan itu dengan baik, kita akan menjadi negara yang lebih berdaulat di bidang energi,” pungkas Ratna.




