Kampus di Jawa Barat tidak hanya menjadi ruang belajar mahasiswa di Indonesia. Bagi mahasiswa dari berbagai negara, kampus di kota ini juga menjadi tempat mengenal Indonesia, membangun persahabatan dan menemukan pengalaman yang melampaui gelar akademik.
Pemandangan itu terlihat dalam upacara wisuda gelombang IV Tahun 2025/2026 di Grha Sanusi Hardjadinata, Universitas Padjajaran (Unpad) tanggal 4-6 Agustus 2026 lalu.
Sebanyak 14 mahasiswa dari Kenya, Zimbabwe, Papua Nugini, Rwanda, Pakistan, Thailand, dan Yaman menutup perjalanan akademiknya di kampus tersebut.
Rektor Unpad Profesor Arief S Kartasasmita mengatakan, kehadiran mahasiswa dari berbagai negara menjadi salah satu bukti semakin luasnya kepercayaan masyarakat global terhadap Unpad, sebagai salah satu perguruan tinggi di Indonesia.
Bagi Unpad, lanjut Arief, wisuda 14 mahasiswa asing ini juga menunjukkan perjalanan internasionalisasi yang telah dibangun kampus. Unpad telah membuka ruang kolaborasi, pertukaran budaya serta pengetahuan.
"Prinsipnya, kami terbuka untuk semua kalangan. Unpad merupakan perguruan tinggi yang inklusif dan terbuka bagi siapa pun," tuturnya.
Pengalaman ini yang dirasakan Kelvin Mwangi Maina, wisudawan asal Kenya. Kelvin menyelesaikan pendidikan magister hubungan internasional di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Unpad.
Kelvin memilih Unpad karena reputasi akademiknya telah dikenal secara internasional. Selama belajar di Bandung, ia menemukan pengalaman yang tidak hanya berkaitan dengan ruang kuliah.
Interaksi dengan dosen dan mahasiswa lain memperluas cara pandangnya sekaligus mengajarkan pentingnya terus belajar. Pengalaman itu membuatnya melihat pendidikan sebagai proses untuk terus belajar dan membuka wawasan.
"Kampus ini telah memberi saya sesuatu yang berharga. Bukan hanya gelar magister tapi juga perspektif," ujarnya.
Cerita yang lebih panjang datang dari Mohammed Adel Mohammed Al-Faqeeh, wisudawan Unpad asal Yaman. Ia datang ke Indonesia sejak 2022.
Al-Faqeeh menempuh pendidikan magister farmasi klinik di Unpad. Ia dapat kuliah di Indonesia berkat program beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KNB).
Ia menyelesaikan magister dalam tiga semester dengan IPK 4,00. Perjalanan akademik Al Faqeeh berlanjut setelah memperoleh beasiswa program doktoral di kampus yang sama.
Al-Faqeeh menyelesaikan progam doktoral dengan nilai IPK 3,89. Total ia menyelesaikan pendidikan S2 dan S3 dalam jangka waktu 3,5 tahun.
Di tengah perjalanan akademiknya, Indonesia menjadi ruang yang akrab baginya. Selama praktik di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, ia setiap hari berinteraksi dengan pasien dan tenaga kesehatan di sana.
"Selama praktik di sana, kemampuan bahasa Indonesia saya semakin berkembang. Saya juga mulai mengenal bahasa Sunda," tuturnya.
Al-Faqeeh juga menemukan lingkungan akademik yang membuatnya seperti berada di rumah sendiri. Berkat bimbingan para dosen di Fakultas Farmasi Unpad, belasan karya ilmiahnya berhasil menembus jurnal internasional bereputasi Scopus Q1 dan Q2.
"Unpad more than what i expected (melebihi ekspetasi saya). Terima kasih kampusku dan para dosen yang seperti keluargaku sendiri," ucapnya.
Kisah para wisudawan internasional itu menunjukkan pendidikan dapat bergerak jauh melampaui batas negara. Dari Bandung, pengetahuan, persahabatan dan pengalaman tentang Indonesia ikut dibawa ke berbagai penjuru dunia.





