CELEBESMEDIA.ID, Makassar — Ketegangan di sekitar Selat Hormuz kembali meningkat setelah Komando Militer Utama Iran, Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, menegaskan bahwa kapal komersial maupun kapal tanker minyak tidak dapat melintasi jalur strategis tersebut tanpa izin dan pengawasan dari angkatan bersenjata Iran.
Pernyataan itu disampaikan pada Kamis (13/8) melalui sebuah pesan video yang disiarkan media Iran. Juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, mengatakan posisi Iran atas Selat Hormuz tidak berubah.
Menurut Zolfaghari, jalur pelayaran yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman tersebut berada dalam kendali dan pengelolaan penuh Iran, sebagaimana yang disebutnya telah berlangsung pada masa sebelumnya.
Ia juga membantah pernyataan Amerika Serikat (AS) mengenai pelayaran normal kapal-kapal di Selat Hormuz. Zolfaghari menyebut klaim tersebut sebagai informasi yang tidak benar.
"Klaim palsu" AS, menurut dia, justru memperlihatkan "keputusasaan dan ketidakberdayaan" militer Amerika Serikat.
Zolfaghari mengatakan para pemimpin dan militer AS telah benar-benar menguji "kekuatan dan ketangguhan" angkatan bersenjata Iran. Karena itu, Iran menyatakan akan terus mempertahankan kepentingannya di kawasan tersebut.
Ia menambahkan bahwa angkatan bersenjata Iran memantau seluruh pergerakan Amerika Serikat dan Israel di kawasan.
Iran, kata Zolfaghari, tidak akan ragu mengambil tindakan untuk membela hak-hak rakyat Iran, kedaulatan nasional, serta aspirasi negaranya. Setiap ancaman terhadap Iran juga disebut akan mendapat respons.
Pernyataan militer Iran tersebut disampaikan setelah Presiden AS Donald Trump mengklaim melalui media sosial bahwa Amerika Serikat memiliki "kendali penuh" atas Selat Hormuz.
Perbedaan pernyataan antara Washington dan Teheran itu menambah ketegangan terkait salah satu jalur pelayaran paling strategis tersebut. Selat Hormuz menjadi jalur penting bagi lalu lintas kapal komersial dan pengiriman minyak di kawasan Teluk.
Iran memperketat pengawasan terhadap Selat Hormuz pada 28 Februari. Teheran melarang kapal-kapal yang dimiliki atau memiliki afiliasi dengan Israel dan AS untuk melintas secara aman setelah serangan gabungan kedua negara tersebut terhadap wilayah Iran.
Sumber: Antara




