JAKARTA, KOMPAS.com - Warga RT 001 RW 05 mendesak tiang portal di Jalan Indramayu, Kelurahan Menteng, Jakarta Pusat dekat rumah pejabat dicabut.
Warga awalnya sempat mengusulkan voting langsung saat rapat bersama Camat Menteng untuk menentukan opsi akhir, apakah portal akan dibongkar atau difungsikan.
Namun salah satu warga Laru menolak opsi pemungutan suara (voting) atau pemanfaatan portal selama tiang portal belum dibongkar.
"Kalau mau voting, kami minta portalnya untuk dicabut dulu. Dari kami meminta sebelum ada kata voting ataupun mau dimanfaatkan atau tidak, kami minta untuk dicabut dulu," kata Laru di Kantor Kecamatan Menteng, Jumat (14/8/2026).
Baca juga: Pemkot Jakpus Minta Polemik Portal di Menteng Dekat Rumah Pejabat Diselesaikan Kekeluargaan
Laru menyebut pencabutan tiang portal perlu dilakukan sebelum membahas fasilitas pengamanan di jalan publik tersebut.
Dia menolak narasi yang mengarahkan warga untuk langsung memilih pemanfaatan portal yang sudah telanjur berdiri.
"Kami minta tolong jangan giring kami, minta kami untuk voting, untuk memanfaatkan, karena sebelumnya itu kami sudah merasa nyaman tanpa ada portal," tegas Laru.
Sikap senada diutarakan oleh Ketua RT 001 Puji. Dia meminta tiang portal dicabut terlebih dahulu demi mengedepankan asas keadilan.
"Bahkan kan kami sebetulnya minta itu dicabut Bu, biar fair. Jangan seluruh warga yang cabut, orang bukan warga yang pasang. Masa tadi kita disuruh ramai-ramai cabut itu tiang-tiangnya, kan enggak fair bu. Jadi cabut dulu itu," kata Puji.
Baca juga: Portal Mendadak Muncul di Jalan Menteng Dekat Rumah Pejabat, Warga: Perintah Siapa?
Warga lainnya Pratito menyebut potensi bahaya jika tiang portal dibiarkan tanpa kejelasan pengelola.
"Ketika kita tidak tahu siapa yang pasang, tapi ketika digembok kita kan tidak tahu gemboknya dipegang siapa. Saya takutnya oknum yang kita sama-sama tidak ketahui ini yang mengendalikan Indramayu," ungkap Pratito.
Sementara itu, Camat Menteng Nurhelmi Savitri, menegaskan bahwa pihaknya tidak ada niat untuk mengintervensi atau menggiring keputusan warga, melainkan hanya ingin meluruskan berbagai pandangan.
"Silakan berembuk, tapi tidak dengan jumlah ini karena tidak kuorum. Kalau mau dibongkar ya monggo silakan dibongkar," tutur Nurhelmi.
Ketua RW 05, Hakim, menyarankan agar warga tidak terburu-buru dan menyelesaikan musyawarah usai rangkaian perayaan kemerdekaan.
"Setelah mendengar semua pendapat, itu kembali kepada warga. Jangan sekarang, setelah 17 Agustus, kita fleksibel saja," kata Hakim.





