Jakarta, VIVA – Komando militer utama Iran, Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, menyatakan kapal komersial dan tanker minyak tidak dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman tanpa izin serta pengawasan dari angkatan bersenjata Iran.
Pernyataan tersebut disampaikan pada Kamis 13 Agustus 2026 melalui sebuah pesan video yang disiarkan media Iran.
Juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, mengatakan Iran tetap memiliki kendali penuh atas jalur strategis tersebut.
Menurut Zolfaghari, kondisi Selat Hormuz saat ini tidak berbeda dengan sebelumnya, ketika Iran disebut memiliki kendali dan pengelolaan penuh atas kawasan tersebut.
Ia sekaligus membantah pernyataan Amerika Serikat (AS) mengenai pelayaran normal kapal-kapal di Selat Hormuz. Klaim Washington itu disebutnya tidak benar dan hanya merupakan kebohongan.
Zolfaghari menilai pernyataan AS tersebut menunjukkan kondisi militer Amerika yang disebutnya semakin terdesak dan tidak berdaya.
Ia mengatakan para pemimpin dan militer AS telah benar-benar merasakan kemampuan serta ketahanan angkatan bersenjata Iran.
Selain itu, Zolfaghari menegaskan militer Iran terus memantau seluruh aktivitas AS dan Israel di kawasan tersebut.
Iran, kata dia, tidak akan ragu mengambil tindakan untuk melindungi hak rakyatnya, mempertahankan kedaulatan nasional, serta menjaga aspirasi negara.
Ia juga memperingatkan bahwa angkatan bersenjata Iran akan memberikan respons terhadap setiap ancaman yang muncul.
Pernyataan Iran tersebut muncul setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan melalui media sosial bahwa negaranya memiliki "kendali penuh" atas Selat Hormuz.
Klaim tersebut kemudian mendapat bantahan dari pihak militer Iran.
Ketegangan di jalur pelayaran strategis tersebut meningkat setelah Iran memperketat pengawasan pada 28 Februari.
Saat itu, Iran melarang kapal-kapal yang dimiliki atau memiliki afiliasi dengan Israel dan AS untuk melintas secara aman di Selat Hormuz.
Kebijakan tersebut diberlakukan setelah serangan gabungan AS dan Israel terhadap wilayah Iran.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi lalu lintas energi global. Pernyataan terbaru dari kedua negara menunjukkan ketegangan terkait akses pelayaran di kawasan tersebut masih berlangsung. (ant)





