REPUBLIKA.CO.ID, WAMENA — Warga sipil setempat dilaporkan kembali jadi korban penembakan terkait operasi militer di Tanah Papua. Kali ini, tiga warga sipil tertembak dan terluka akibat tembakan yang disebut berasal dari aparat keamanan di Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya, Kamis (13/8/2026).
Peristiwa itu dilaporkan Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua (YKKMP) dan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB-OPM). Penembakan itu terjadi di Kampung Ainot, Distrik Aifat, Kabupaten Maybrat.
Baca Juga
BPS Ungkap Daerah Papua Ini Tidak Punya Akses Sanitasi dan Listrik yang Layak
Komnas HAM Catat Pengungsi Konflik Papua Tengah Capai 124.931 Jiwa, Bagaimana Nasib Mereka?
Komnas HAM Indikasi Tembakan TNI Tewaskan Dua Ibu Hamil di Papua Tengah
YKKMP menerima informasi bahwa tiga warga sipil, yakni Selviana Sorry dan Ana Fatie yang merupakan perempuan dewasa serta Silvester Assem, laki-laki dewasa, mengalami luka-luka dalam peristiwa yang terjadi sekitar pukul 18.00 WIT. Ketiganya dilaporkan telah dievakuasi untuk mendapatkan pertolongan medis.
Gambar yang dikirimkan pihak YKKMP menunjukkan sejumlah warga dengan luka tembak di kepala dan kaki. Hingga berita ini ditulis, belum terdapat keterangan resmi dari TNI mengenai tudingan penembakan terhadap tiga warga sipil tersebut.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Menurut keterangan awal yang diterima YKKMP dari saksi, saat kejadian kondisi di lokasi mulai gelap. Sejumlah warga berada di sebuah pondok atau tenda setelah melakukan aktivitas berkebun dan menokok atau memangkur sagu.
Saksi menyebut sekitar 20 orang lebih anggota Satgas BKO yang menurut keterangannya merupakan personel TNI datang ke lokasi menggunakan senter. Setelah berada di sekitar pondok, terdengar rentetan tembakan yang diarahkan ke pondok dan lingkungan sekitarnya.
Personel Koops Habema TNI bersama masyarakat sekitar usai serangan OPM yang menewaskan belasan warga Kabupaten Puncak, Provinsi Papua Tengah. - (Pendim 1714/PJ)
Warga yang berada di dalam pondok kemudian panik dan berhamburan menyelamatkan diri. Dalam peristiwa tersebut, tiga warga dilaporkan mengalami luka-luka.
Karena kejadian berlangsung pada malam hari dan lokasi cukup jauh dari pusat pemerintahan distrik, proses evakuasi baru dilakukan pada Jumat (14/8/2026) sekitar pukul 06.00 WIT.
Para korban kemudian dibawa menuju kampung untuk memperoleh pertolongan medis. Informasi mengenai peristiwa tersebut juga telah disampaikan kepada pemerintah setempat, termasuk kepala distrik, serta pihak berwenang.
Peristiwa itu kemudian memicu keresahan masyarakat. Warga dilaporkan mendatangi Polres Maybrat di Kumurkek untuk menyampaikan protes dan meminta kasus tersebut segera ditangani.
YKKMP menegaskan dugaan keterlibatan aparat dalam peristiwa tersebut harus dibuktikan melalui penyelidikan yang independen, objektif, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.
Kejadian penembakan ini menambah daftar warga sipil yang jadi korban konflik TNI-Polri dengan kelompok separatis di Papua. Pada 2 Agustus lalu, lima pekerja pembangunan jalan ditembak mati kelompok separatis di Tolikara Papua Pegunungan. Sedangkan Komnas HAM melansir laporan dua ibu hamil meninggal terkena tembakan aparat TNI di Papua Tengah pada Mei lalu.