UMI Dorong Aquapreneurship Berbasis Inovasi dan Digital Lewat Pemberdayaan Kelompok Pembudi Daya Ikan Nila

harianfajar
6 jam lalu
Cover Berita

HARIAN.FAJAR.CO.ID, GOWA – Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar mendorong transformasi usaha perikanan air tawar di Kelurahan Lanna, Kecamatan Parangloe, Kabupaten Gowa.

Hal tersebut melalui program pemberdayaan masyarakat berbasis aquapreneurship yang menggabungkan inovasi teknologi, kewirausahaan, dan pemasaran digital.

Program ini dipimpin Prof. Dr. Kasnaeny Karim, S.E., M.Si bersama Dr. Tenriwaru, S.E., M.Si., Ak., CA dari UMI dan Dr. Andi Liswahyuni, S.Pi., M.Si dari Universitas Muhammadiyah Sinjai.

Prof. Kasnaeny Karim menjelaskan, potensi budi daya ikan nila di Kelurahan Lanna sangat besar karena sebagian besar masyarakat menggantungkan mata pencaharian pada sektor perikanan air tawar.

Namun, para pembudi daya masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari tingginya biaya produksi hingga lemahnya tata kelola usaha.

“Biaya pakan masih menjadi beban terbesar bagi petambak karena mencapai sekitar 65 hingga 70 persen dari total biaya produksi. Ketika harga pakan naik, keuntungan mereka langsung tergerus. Karena itu kami hadir tidak hanya memberikan pendampingan teknis, tetapi juga mendorong lahirnya pelaku usaha perikanan yang lebih inovatif dan mandiri,” ujar Prof. Kasnaeny.

Dalam program tersebut, tim pengabdian yang melibatkan 20 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) menghadirkan sejumlah inovasi untuk meningkatkan efisiensi usaha budi daya ikan nila.

Salah satu terobosan yang diperkenalkan adalah pembuatan pakan alternatif berbahan dasar limbah ikan nila, seperti tulang, kepala, sirip, ekor, hingga jerohan yang tidak termanfaatkan. Bahan tersebut diolah dan diperkaya vitamin menjadi pelet berukuran 2–3 milimeter dengan merek “Eco Fish”.

Menurut Prof. Kasnaeny, inovasi tersebut mampu menekan biaya pakan hingga sekitar 30 persen dibandingkan penggunaan pelet komersial.

“Pemanfaatan limbah ikan menjadi pakan bernilai ekonomi merupakan bentuk ekonomi sirkular yang dapat membantu pembudidaya mengurangi ketergantungan pada pakan pabrikan sekaligus meningkatkan efisiensi usaha,” katanya.

Tidak hanya berfokus pada budidaya, program ini juga mendorong pengembangan produk olahan berbasis ikan nila. Bersama mahasiswa, masyarakat diajarkan membuat brownies berbahan baku ikan nila yang diberi merek “Brownila”.

Produk tersebut diharapkan menjadi peluang usaha baru bagi kelompok perempuan dan ibu rumah tangga di Kelurahan Lanna.

“Brownila kami kembangkan agar ibu rumah tangga memiliki alternatif usaha yang dapat menambah pendapatan keluarga. Selain itu, produk ini juga menjadi solusi bagi anak-anak yang kurang menyukai ikan sehingga kebutuhan gizi mereka tetap terpenuhi,” jelasnya.

Tim Program Pengabdian Kepada Masyarakat Skema Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa tersebut juga memperkenalkan mesin penebar pakan mekanis yang memungkinkan distribusi pakan lebih merata dan efisien.

Teknologi tersebut membantu petambak tetap dapat memberikan pakan secara rutin meskipun tidak berada di lokasi kolam atau tambak.

Selain inovasi teknologi, aspek manajemen usaha menjadi fokus utama dalam pendampingan. Warga didorong untuk memisahkan kolam pembesaran dan kolam penampungan ikan siap jual agar proses produksi lebih tertata.

Kelompok perempuan dan Majelis Taklim juga mendapatkan pelatihan pencatatan keuangan berbasis digital menggunakan Google Sheets. Melalui pelatihan tersebut, peserta belajar menghitung harga pokok produksi dan harga jual berdasarkan biaya yang sebenarnya.

“Selama ini banyak pelaku usaha belum memiliki pencatatan yang baik sehingga sulit mengetahui keuntungan riil yang diperoleh. Dengan literasi keuangan digital, mereka bisa mengambil keputusan usaha secara lebih tepat,” ujar Prof. Kasnaeny.

Di bidang pemasaran, masyarakat dibekali kemampuan memanfaatkan media sosial untuk memperluas jangkauan pasar. Peserta diajarkan membuat konten promosi digital sehingga penjualan produk tidak hanya bergantung pada konsumen di sekitar desa.

Sebagai langkah keberlanjutan, program ini juga membentuk wadah koordinasi yang melibatkan masyarakat, pemerintah kelurahan, dan tim pendamping. Forum tersebut akan menjadi ruang berbagi pengetahuan, memantau perkembangan usaha, serta memperkuat jejaring pemasaran produk perikanan.

Prof. Kasnaeny menilai Kelurahan Lanna yang berstatus desa berkembang dengan Indeks Desa Membangun (IDM) sebesar 0,582 memiliki potensi besar menjadi pusat pengembangan usaha perikanan berbasis kewirausahaan.

“Melalui penguatan teknologi budidaya, tata kelola usaha yang baik, dan pemasaran digital, kami berharap produktivitas meningkat, pendapatan masyarakat bertambah, dan lahir aquapreneur-aquapreneur baru yang mampu bersaing di pasar yang lebih luas,” tutupnya. (ams)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Aktivitas Sinabung Meningkat, Zona Bahaya Diperluas hingga Radius 3 Km
• 23 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Ketika Wakaf Memasuki Dunia Saham
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
BMKG: Ancaman Tsunami Berstatus Siaga 0,5-3 Meter di NTT, NTB, Sulsel
• 4 jam lalutvonenews.com
thumb
Sindir Panglima TNI dan Kapolri soal 1000 Tambang Ilegal, Prabowo Minta Supaya Diusut
• 23 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Gempa Magnitudo 7.7, Anggota DPR dari NTT Ini Minta Pemerintah Gerak Cepat Selamatkan Warga
• 1 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.