Thresia Mareta: Menenun Visi, Menghidupkan Inovasi Wastra Nusantara

kumparan.com
7 jam lalu
Cover Berita

Nama Thresia Mareta seolah telah menjadi sinonim bagi JF3 dan LAKON Indonesia. Sebagai advisor festival fashion bergengsi di Jakarta, JF3, sekaligus pendiri jenama mode berbasis budaya, LAKON Indonesia, Thresia mengukuhkan posisinya sebagai salah satu sosok paling berpengaruh dalam lanskap mode Tanah Air.

Jika tahun lalu kumparanWOMAN bertandang ke gerai LAKON Store di Summarecon Mall Kelapa Gading 5, kali ini kami berkesempatan mengunjungi “markas besar” LAKON Indonesia di Teras LAKON, Summarecon Serpong. Kunjungan ini bertepatan dengan momen re-see koleksi terbaru bertajuk Harsa.

Di sana, kami tak hanya mengagumi deretan desain inovatif, tetapi juga berbincang hangat bersama Thresia mengenai filosofi Harsa, perkembangan jenamanya, hingga kilas balik awal mula kecintaannya pada dunia mode. Di tengah kesibukannya membesarkan LAKON, Thresia pun tetap berdedikasi mendorong ekosistem desainer muda melalui program PINTU Incubator di bawah naungan JF3.

Langkah Thresia tak berhenti di situ. Selain PINTU Incubator, ia menginisiasi program Future Fashion Designer serta menjalin kemitraan strategis dengan stakeholder mode internasional, MCC Global dari Korea Selatan. Kolaborasi ini membuka jalan bagi JF3 untuk memboyong tiga label lokal—LAKON Indonesia, Hartono Gan, dan Ernesto Abram—ke ajang Busan Fashion Week dan pameran HiSeoul Showroom di Negeri Ginseng.

Sinergi ini pun berjalan dua arah. Setelah talenta Indonesia unjuk gigi di Korea Selatan, giliran tiga desainer Korea—Oh HyeYoung, Baek Jinjoo, dan Consteller DL—yang memamerkan karya mereka di panggung runway JF3 pada Juli lalu.

Cerita Cinta yang Dimulai dari Boneka

Ide, inovasi, dan pencapaian besar Thresia Mareta tidak lahir dalam semalam. Perjalanan panjangnya di semesta mode telah dimulai sejak usia belia—sebuah renjana yang diasah melalui pengalaman, karier, dan kreativitas yang mengalir tanpa henti. Menariknya, segalanya bermula dari memori masa kecil yang sangat lekat dengan dunia anak perempuan: boneka.

“Sejauh yang saya ingat, dulu saat saya SD, saya sangat suka bermain boneka. Boneka tersebut saya pakaikan baju. Karena Ibu saya punya konveksi di rumah, jadi saya seneng tuh mengulik, ikut pasang-pasang kancing, menjahit som, sampai akhirnya saya belajar bikin pola,” kata Thresia saat berbincang dengan kumparanWOMAN, Selasa (4/8).

Memasuki masa SMP, kegemarannya bereksplorasi semakin terasah lewat boneka Barbie. Di saat teman-temannya membeli baju Barbie di toko, Thresia memilih menciptakan koleksinya sendiri.

“Baju-baju Barbie saya paling bervariasi. Kalau Barbie teman saya pakai baju yang dibeli dari toko, Barbie saya pakai baju buatan saya sendiri—dari baju renang, baju pengantin, kimono, saya rajut dan jahit sendiri. Di situlah saya merasa, saya suka sekali berkreasi dengan fashion,” ucap Thresia.

Menemukan Perspektif Baru lewat Arsitektur

Bagi seseorang yang tumbuh besar dengan pola baju dan mesin jahit, melanjutkan studi di bidang mode adalah langkah yang paling logis. Namun, realita di Indonesia era 90-an berkata lain: Belum ada jenjang pendidikan sarjana untuk bidang fashion.

Setelah berdiskusi dengan orang tua, Thresia akhirnya melabuhkan pilihan pada jurusan Arsitektur di Universitas Tarumanagara, dengan sebuah janji: ia tetap boleh mengejar passion modenya setelah meraih gelar S1.

Dunia arsitektur ternyata memberi Thresia perspektif baru. Alih-alih berpikir linear, ia dilatih untuk berpikir secara radial—sebuah pola pikir yang memberikan kebebasan bagi kreativitas untuk bercabang ke berbagai arah, namun tetap berakar kuat pada satu titik pusat ide.

Kedisiplinan arsitektur pun menjadi standar emas dalam proses kerja Thresia, termasuk saat ia membangun LAKON Indonesia.

Salah satu tonggak penting dalam kariernya adalah ketika ia menjabat sebagai Project Director untuk pembangunan TK Pahoa di Summarecon Serpong. Proyek yang berhasil menyabet tujuh penghargaan internasional tersebut tak hanya mengajarkannya soal presisi eksekusi, tetapi juga empati desain terhadap manusia.

“Itu akhirnya menjadi standar eksekusi saya—bagaimana cara kerjanya, pembentukan konsepnya, sampai eksekusinya sehingga semua hasilnya sejalan. Itu menjadi standar proses kerja yang saya terapkan saat memegang department store hingga mendirikan LAKON,” ucap Thresia.

Pada akhirnya, arsitektur dan fashion di mata Thresia adalah dua dunia yang dihubungkan oleh benang merah yang sama: konstruksi, estetika, dan kebermanfaatan.

Kasih yang Bertumbuh Menjadi LAKON Indonesia

Renjana Thresia terhadap mode tumbuh beriringan dengan kasihnya pada wastra Nusantara. Kepada kumparanWOMAN, ia sempat mengenang memori masa kecil saat melakukan perjalanan darat bersama keluarga—sebuah momen hangat ketika ia memilihkan batik tulis terbaik sebagai buah tangan untuk sang Oma. Itulah benih awal kecintaannya pada kain tradisional.

“Mungkin dari situ, saya jadi suka. Saya suka banget bawa batik. Sampai sekarang, kalau lagi suntuk banget, saya buka-buka koleksi kain batik saya, saya cium aromanya—enak banget. Saya senang lihat batik kalau detailnya bagus sekali. Itu jadi kepuasan buat saya,” ujar Thresia.

Apresiasi itu tak berhenti pada hobi koleksi. Muncul kekhawatiran mendalam di hatinya akan hilangnya keterampilan tangan asli Indonesia yang mulai tergerus zaman. Hingga akhirnya kecemasan itu melahirkan LAKON Indonesia. Bagi Thresia, LAKON adalah bentuk kontribusi nyata untuk memastikan wastra tetap memiliki tempat di masa depan.

“Bukan hanya batik yang terancam. Saya lihat, di seluruh dunia, keterampilan tangan (craftsmanship) menghadapi permasalahan yang sama. Dan yang sudah hilang dari kita [di Indonesia] juga lebih banyak. Saya tidak mau itu terjadi di dunia yang saya cintai, maka saya coba lakukan sesuatu yang saya bisa lewat LAKON,” papar Thresia.

Kini, setelah delapan tahun berdiri, LAKON Indonesia sukses mengukuhkan posisi sebagai jenama yang mampu membawa budaya ke dalam lanskap mode kontemporer. Wastra Nusantara ditransformasikan menjadi busana ready-to-wear yang artistik dan sarat detail intricate, sebagaimana tercermin dalam koleksi teranyar LAKON, Harsa, yang sukses memulai debutnya di panggung runway JF3 tahun ini.

Harsa menjadi panggung bagi LAKON untuk memamerkan evolusi tekniknya. Penggunaan material organza yang transparan dan ringan dipadukan dengan motif batik serta sulaman apik nan presisi membuktikan bahwa tradisi bisa tampil amat relevan dan inovatif di tangan yang tepat.

Harsa bukan sekadar perayaan warna, melainkan pembuktian inovasi yang menunjukkan kematangan teknis yang luar biasa.

“LAKON adalah brand yang mengangkat hasil karya tangan atau craftsmanship Indonesia,” ujar Thresia, menegaskan identitas kuat yang ia bangun.

Proses dan Harapan yang Terus Mengalir

Visi dan inovasi Thresia Mareta telah melampaui berbagai batasan. Bermula dari membangun LAKON Indonesia, berlanjut dengan mendobrak batasan di JF3 Fashion Festival, hingga menginisiasi PINTU Incubator sebagai wadah regenerasi desainer lokal.

Dedikasi Thresia bahkan mengantarkannya meraih penghargaan bergengsi dari Kementerian Kebudayaan Prancis, Knight of the Ordre des Arts et des Lettres (Order of the Arts and Literature), pada 2025.

Setelah sederet pencapaian tersebut, apa yang masih ingin ia kejar?

Bagi Thresia, sukses bukanlah sebuah destinasi tetap. Ia memandang LAKON Indonesia, JF3, PINTU Incubator, hingga kolaborasi global bukan sebagai puncak pencapaian, melainkan bagian dari proses panjang yang belum usai.

“Buat saya, kesuksesan itu ketika eksekusi berjalan baik dan memberikan hasil. Namun, saya merasa belum mencapai kesuksesan tersebut karena cita-cita yang dituju belum sampai. Ini masih bagian dari proses,” jelas Thresia.

Saat ditanya mengenai ambisi pribadinya di masa depan, Thresia hanya terkekeh. Fokusnya bukan lagi tentang menjadi “apa” atau “siapa”, melainkan bagaimana agar setiap ide dan inovasi bisa diwujudkan dengan sempurna.

“Kalau untuk ‘menjadi siapa’, saya merasa sudah cukup. Saya inginnya bisa jadi lebih bijaksana dalam menghadapi setiap tantangan,” kata Thresia, menutup perbincangan hangat di sore yang sejuk itu.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sambut HUT ke-81 RI, BRI Hadirkan Beragam Promo untuk Nasabah
• 20 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Bobby Nasution Kukuhkan 74 Paskibraka Sumut, Tekankan Peran sebagai Teladan Persatuan
• 18 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Fakta Pengiran Raabiatul Adawiyyah
• 4 jam lalubeautynesia.id
thumb
Basuki Hadimuljono Kukuhkan 75 Anggota Paskibra HUT ke-81 RI di IKN
• 16 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Mensesneg: Persiapan Upacara HUT ke-81 RI di Istana Capai 99 Persen
• 1 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.